
Kekasih Bayaran Bagian 71
Oleh Sept
Kavi sudah di kamar hotelnya, sejak tadi matanya berbinar, belum juga tidur. Padahal sudah tengah malam. Ini karena Winda, membuatnya terbayang-bayang sampai tidak bisa memejamkan mata. Tidak sabar menunggu matahari terbit esok hari. Karena mereka akan terbang ke Medan.
Tadi hampir saja ia menggoda Winda, sayang sekali gagal karena wanita itu malah langsung memukuli lengannya. Mencubit pinggang dan lengannya, hingga ia mengaduh dan minta ampun.
"Oke Winda ... tunggu sampai saat itu tiba?" gumamnya sambil senyum tipis. Matanya menatap langit-langit kamar hotel.
Agar ia bisa tidur dan fresh esok harinya, Kavi pun mematikan lampu kamar. Dan bersiap untuk tidur.
"Ayo tidur, Kavi!" ucapnya pada diri sendiri.
***
Pagi hari, apartment Winda. Belum pagi sih, matahari saja masih sembunyikan, udara pun masih terasa dingin. Ini pukul lima pagi, tapi Kavi sudah ada di depan apartment Winda. Berdiri di sana, mengetuk berkali-kali karena tidak kunjung dibuka.
"Win! Ke mana kamu? Masa masih tidur?" gumamnya. Ia pun melihat sekitar, masih gelap dan sangat sepi. Kavi pun menatap koper silver miliknya. Sambil menendang kecil yang menimbulkan suara berirama.
Tok tok tok
"Wind ... Windaaa!"
Sambil mencoba menghubungi ponsel Winda, tapi tidak kunjung diangkat.
Di dalam apartment, di dalam kamar Winda, wanita itu masih tidur dengan nyenyak. Terdengar dengkuran halus yang membuat da danya naik turun.
Tok tok tok
Suara berisik Kavi bahkan tidak mampu mengusik tidur Winda, ini karena Winda juga tidur larut malam. Jatuh cinta membuat dua insan itu tidak bisa tidur rupanya.
Beruntung Kadek terbangun, mungkin juga karena berisik. Ia pun bertanya-tanya, siapa yang bertamu pagi-pagi buta.
KLEK
Sambil menajamkan mata, Kadek menatap pria tampan, berpakaian rapi berdiri di ambang pintu.
"Mas Kavi?" sapa Kadek heran. Cepet banget pria itu datang lagi, padahal semalam pulang juga larut malam. Astaga, sepertinya harus dinikahkan, jika tidak mungkin akan ada Kavi junior, pikir Kadek.
"Winda ada?"
"Eh ... iya, ada. Sepertinya masih tidur. Sebenar ... saya bangunkan," ucap Kadek sopan. Mungkin karena segan dengan setelan jas serta kemeja Kavi saat ini.
Kavi lantas duduk di rumah tamu sambil menunggu Winda keluar. Tidak lama berselang yang ditunggu muncul juga. Masih belum mandi, rambut diikat sembarangan, bajunya juga lusuh, tapi kenapa terlihat mengemaskan dimata Kavi?
"Jam berapa ini?" tanya Winda sambil mengosok mata.
"Jam lima?" Winda heran masih pagi kok Kavi sudah tiba.
"Memangnya penerbangan jam berapa, Kav?" Jam 8.
Winda yang masih ngantuk tambah bengong. Kemudian duduk di samping Kavi, bersandar pada sofa lalu menguap.
"Menguap aja kamu cantik!" batin Kavi yang sudah kena jampi-jampi cinta. Di mana yang buruk pun akan selalu terlihat bagus.
"Aku mandi dulu, ya."
"Iya."
Winda pun kembali masuk kamar, mandi dan ganti pakaian.
Pukul 6
Mereka bertiga sarapan bersama, Winda dan Kadek yang masak. Masak ala-ala anak kosan. Menu sederhana, tapi di lidah Kavi sudah mirip makanan restaurant bintang lima.
"Lo udah ajuin cuti sama atasan, Win?" tanya Kadek saat mereka masih menikmati sarapan.
"Udah, gue udah ijin. Dan mereka gak bisa nolak. Karena gue ijin nikah!" ucap Winda kemudian terkekeh.
"Sialannnn luu!" keduanya tersenyum, tapi ada kesedihan di hati masing-masing. Ya, Kadek bakal sedih karena mereka mungkin akan hidup terpisah jika Winda nikah.
"Kabari ya ... nanti kalau sudah sampai."
"Hemm, beres."
"Mas Kavi ... titip Winda ya. Dia anaknya keras, tapi aslinya lembek."
Kavi yang sejak tadi menikmati sarapan, ikut tersenyum.
__ADS_1
"Tenang aja, gue pawangnya!" jawab Kavi ikut bicara dengan bahasa gaul. Membuat Winda tidak bisa menahan tawa.
"Apa an sih, Kav!" sela Winda. Karena makannya habis, ia pun membereskan sisa makanan dan membawanya ke dapur. Disusul Kadek di belakang.
Kavi mau bantu, tapi Winda langsung melarang.
"Gak usah, Kav. Kamu duduk aja."
"Oke!"
***
Sesaat kemudian
Winda sudah menarik sebuah koper dari kamar, karena jaga-jaga. Tidak mungkin mereka langsung pulang. Begitu juga Kavi, pria itu juga membawa koper.
"Kalian hati-hati, ya!"
"Iya, Dek."
"Mas Kavi, jangan lupa ... meski keras, Winda ini rapuh!" ucap Kadek. Ia tahu mereka akan mencari ayah Winda, Kadek takut Winda pasti akan terluka. Karena selama ini yang Winda cerita padanya, sang ayah kurang peduli. Malah terkesan abai dan menganggap Winda sudah mati.
"Hemm ... jangan khawatir!" balas Kavi sembari merangkul bahu Winda.
"Kalian lebay!" cetus Winda pada Kadek dan Kavi.
Karena tidak mau ketinggalan pesawat, mereka pun meninggalkan apartment setelah pamit pada Kadek.
"Bye ...!"
"Bye!"
Kadek pun melepas kepergian Winda dengan saling memeluk hangat.
***
Medan.
Setelah penerbangan 4 jam lebih, akhirnya mereka sampai juga di Medan. Siang yang panas di Kota Medan. Medan merupakan ibu kota provinsi Sumut. Kota ini merupakan kota terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya, serta kota terbesar di luar pulau Jawa.
Sekarang Winda dan Kavi ada di Bandara itu, sambil menunggu mobil yang sudah Kavi pesan. Tidak lama kemudian, seorang pria menghampiri Kavi, dan mempersilahkan ikut dengannya. Rupanya itu jemputan Kavi. Pria paruh baya itu meraih koper Winda. Ia juga hendak menarik koper milik Kavi, tapi Kavi bilang tidak usah.
"Biar saya bawa, Bapak bawa itu saja."
Pria penjemput itu mengangguk mengerti.
Di dalam mobil.
"Win, Kita istirahat bentar di hotel ya? Baru ke rumah ayahmu."
Winda duduk murung, malah tidak mendengar apa yang Kavi katakan.
"Windaaa?"
Barulah wanita itu mendongak saat namanya dipanggil.
"Iya?"
"Tidak apa-apa." Kavi kemudian meminta pak sopir langsung ke alamat ayah Winda yang lama. Entah masih pindah atau masih di sana. Keduanya tidak tahu. Sebab sang ayah ditelpon juga tidak diangkat.
Hampir satu jam mereka menempuh perjalanan, akhirnya sampai juga di sebuah rumah lantai dua.
"Ini alamatnya, Pak?" tanya Winda pada sopir. Winda ragu, karena bangunan rumahnya tidak sama seperti dulu.
Winda sempat ikut ayahnya ke Medan saat kecil, karena sang ayah memang pernah kerja di sana. Tapi itu dulu, sekarang Winda banyak lupa. Karena itu sudah sangat lama sekali.
"Bener, Win ... ini rumahnya?" Kavi pun ikut bertanya. Dan pak sopir langsung menjawab benar.
"Benar ini, Tuan alamatnya."
"Baik, terima kasih. Tunggu di sini dulu, ya Pak."
"Baik, Tuan."
Kavi kemudian mengajak Winda masuk, tapi mereka harus menunggu dulu di depan pagar.
"Permisi!" teriak Kavi kencang agar penghuninya keluar.
__ADS_1
Ting Tung
"Ada orangnya kan, Win? Tuh mobilnya ada!" celetuk Kavi yang mengintip di celah pagar.
"Hemm. Sepertinya."
Tidak lama kemudian, seorang wanita berdaster di atas lutut datang mendekat dan membuka pagar.
"Cari siapa, ya?" tanya wanita yang sepertinya art di rumah itu.
"Pak Ruhut ada?" tanya Winda ragu.
"Oh, Bapak? Ada di dalam. Mari!"
Winda kemudian menatap Kavi, entah mengapa ia kok takut masuk ke rumah itu.
Begitu mereka masuk ruang tamu, seorang wanita yang cocok jadi kakak Winda keluar dari dalam rumah.
"Siapa, Bik?"
"Ini, Nya. Ada yang cari bapak."
"Siapa?"
Wanita yang tak lain adalah ibu sambung Winda itu menatap Winda dengan dalam.
'Apa ini anak mas Ruhut? Masak sih? Kok jadi cantik dan glowing?' batin ibu sambung Winda tersebut.
"Siang, Tante!" sapa Winda.
'Tante? Ish! Ini sih anak si gila itu!" Akhirnya ia menyadari siapa yang berdiri di depannya.
"Kenapa kamu ke sini?" tanya wanita itu dengan ketus.
"Ayah, ada?"
"Hemm!" Wanita bernama Kumala itu memasang muka masam lalu masuk ke dalam rumah.
"Mas ... Mas!"
Ayah Winda yang sedang di taman belakang sibuk dengan koleksi anthurium itu pun menoleh.
"Ada apa, Ma? Berisik sekali!"
"Tuh! Anakmu datang!" ucap Kumala ketus.
"Kan baru berangkat kuliah. Kenapa balik?"
"Bukan, bukan Berbi. Tapi anak wanita itu!" celetuk Kumala kasar.
"Siapa? Winda? Kenapa dia ke sini?"
"Mana Mama tahu! Papa tanya aja sama orangnya! Kalau minta uang jangan dikasih! Bernie juga butuh biaya mahal!" ujarnya saat Ruhut cuci tangan dan memakai hand sanitizer.
'Kenapa dia ke sini?' batin Ruhut.
Pria itu kemudian menemui Winda yang sudah menunggu sejak tadi.
Saat Winda melihat ayahnya muncul, Winda tidak bisa berkata-kata. Rasa marah, kecewa dan sedih. Mengapa hidup ayahnya baik-baik saja? Sedangkan ia dan ibunya harus terhimpit kemiskinan?
"Untuk apa kamu ke sini?"
Tidak memberikan sambutan apapun, Ruhut langsung bertanya to the point.
"Selamat siang, Pak. Maaf menganggu waktu Bapak. Kenalkan, saya Kavi."
Ruhut tidak langsung membalas uluran tangan Kavi, ia menatap sejenak barulah menjabat tangan itu.
"Ada urusan apa kalian berdua ke mari?"
Kavi yang orang lain saja langsung terluka mendengar pertanyaan dingin dari pria itu, apalagi Winda. Kavi tahu, pasti Winda sangat terluka. Tidak mau basa-basi. Kavi juga langsung ke pokok masalah.
"Kami ke sini untuk mencari Bapak, selalu ayah kandung Winda. Kami akan menikah, dan kami berharap Bapak bisa menjadi wali Winda."
"Dia bukan anak saya!" cetus Ruhut kasar.
Bagai dihantam batu besar, Winda langsung berbalik dan menahan tangis. Sedangkan Kavi, tangannya mengepal. Ia sedang menahan diri untuk tidak marah. Bersambung.
IG Sept_September2020
__ADS_1
Thor, apa ada bapak kaya Ruhut? Ada, banyak! Di TV juga ada.