
Kekasih Bayaran Bagian 75
Oleh Sept
Warning
Mohon skip, terdapat adegan yang mungkin membuat hati ketar-ketir. Mungkin juga membuat jantung deg-degan. Mohon perhatian sekali lagi, bioskop eNTe akan segera dimulai. Yang belum mengantongi KTP, buku nikah, sebaiknya mundur teratut. Demi jiwa-jiwa sepi yang tiada berteman. Makasih banyak besti.
***
"Selamat ya, Sayang."
Hanum memeluk Kavi setelah acara usai, lalu ganti menyelamati Winda yang kala itu anggun dengan gaun putih. Terlihat menawan dan sangat cantik di mata Kavi, suami sahnya. Ya, mereka sudah sah sekarang. Meski tidak dihadiri keluarganya, Winda tidak terlihat sedih. Mungkin karena keluarga Kavi yang sudah sangat hangat padanya.
"Selamat, Kav!"
Arjun mendekati Kavi, pria dengan setelan jas maroon itu menggendong Kezia, putri pertamanya. Bersama Olivia, ia mengucapkan senang atas pernikahan Kavi dan Winda.
Disusul di belakang mereka, madam Li dan suaminya, mantan sekretaris Jo. Mereka juga datang mengucap selamat. Madam Li sambil menggendong cucu keduanya, baby boy yang masih merah. Pipinya gembul mengemaskan. Madam Li terlihat senang, ia dengan bangga membawa cucunya itu.
"Selamat ya, Kav."
"Makasih Tante, Li ... Om Jo."
"Cepet nyusul Arjun, nih lucu banget cucu Tante," seru madam Li pamer baby boy yang ia gendong dengan sayang.
"Pasti, Tante!" jawab Kavi dengan tatapan penuh keyakinan.
Hal itu membuat Winda malu dan langsung mencubit pinggang suami barunya itu. Kavi hanya tersenyum tipis, kemudian mengecupp pipi Winda. Tidak malu, padahal di sana banyak keluarga.
Kedua kakak kembar Kavi yang hadir, sampai geleng kepala. Megapa adik mereka yang terakhir itu kelihatan sangat bucin?
"Selamat ya, Sayang!"
Shiva dan Shiv beserta pasangan masing-masing juga tidak mau ketinggalan. Meski selama ini tinggal di luar negeri, mereka juga ikut menantau kabar adiknya yang baru menikah itu. (Yang bingung mereka siapa, bisa baca "Crazy Rich").
"Makasih, Kak."
Dalam hati Kavi tidak sabar acara ini secepatnya selesai. Padahal hanya keluarga dan tamu penting, tapi Kavi merasa yang datang cukup banyak. Membuatnya harus menyapa satu persatu.
'Banyak juga tamunya?' batin Kavi kemudian menatap Winda. Dilihatnya istrinya itu berbicara dengan saudara-saudaranya. Sepertinya Winda gampang membaur, terlihat berkali-kali ia tersenyum sangat manis.
'Cantik banget istriku!' batin Kavi yang sudah mulai mikir aneh-aneh. Bibirnya mengulas senyum, pikirannya sudah berkelana ke mana-mana.
***
Akhirnya rumah sepi juga, meski masih ramai karena celotehan para keponakan Kavi. Hampir semua tamu dan kerabat jauh sudah pergi. Yang tersisa tinggal keluarga inti.
Sore itu Kavi setelah bicara dengan para kakak-kakaknya, ia akhirnya bisa lepas. Dengan semangat juang 45 Kavi masuk kamar.
__ADS_1
KLEK
Senyumnya yang merekah langsung hilang, dilihatnya Winda sedang berbaring di ranjang sambil melihat tab bersama Kezia, keponakannya.
'Ish ... mas Arjun ke mana? Bisa-bisanya bocil disuruh ke sini?'
"Zia ... dicari papa tuh," seru Kavi yang mencoba membohongi keponakannya.
Anak kecil bermata jernih dan pemilik lesung pipi itu malah menggeleng. Kemudian fokus pada tab yang dipegang Winda.
Kavi menghela napas panjang, kemudian keluar kamar. Ia akan mencari kakak atau kakak iparnya.
'Mana mas Arjun dan mbak Olive?" gumamnya. Di luar hanya ada Hanum dan Gadhi yang sedang minum teh.
"Cari apa, Kav?"
"Mas Arjun."
"Oh. Nganter tante Li sama om Jonathan."
"Ish!"
"Kenapa?" tanya Hanum penasaran.
"Gak apa-apa, Ma."
"Dari mana?" tanya Winda.
"Gak dari mana-mana," jawab Kavi ketus.
"Kamu kenapa?"
"Gak apa-apa," jawab Kavi singkat.
Winda menatap aneh pada suami barunya itu. Kenapa jadi cemberut?
"Ada apa sih?" Winda langsung saja mendesak, karena merasa terganggu dengan sikap Kavi yang aneh itu.
Pria itu kemudian mendekatkan wajahnya, lalu berbisik lirih agar Kezia tidak dengar.
"Pengen itu!" bisiknya.
Winda menjauhkan wajahnya. "Itu apa!"
Tanpa dosa, Kavi menatap Winda dengan tatapan mesyumm.
"Astaga! Ini bahkan masih sore!" ucap Winda spontan.
"Ish ... Ini mas Arjun malah pergi lagi."
__ADS_1
"Lah, sabar. Nunggu malam!" jawab Winda santai.
Kavi pun hanya bisa menghela napas panjang, padahal sudah ingin uji coba. Hingga beberapa jam kemudian, Kezia tertidur begitu juga dengannya.
***
Langit senja mulai menggelap, Kavi bangun seorang diri di atas ranjang.
"Ke mana mereka?" gumamnya menatap sekeliling. "Aku ketiduran lama sepertinya."
Sayup-sayup Kavi mendengar gemricik air dari dalam kamar mandi. Pria yang baru bangun itu seketika langsung terjaga. Matanya yang buram langsung cerah.
Tok tok tok
"Win!"
Tok tok tok
"Winda!"
"Iya, sebentar!" jawab Winda sambil mengenakan handuk.
KLEK
Winda membuka pintu kamar mandi, kemudian bertanya, "Sudah bangun?"
Kavi mengangguk, kemudian langsung merangsek masuk. Membuat Winda yang akan keluar kembali masuk.
"Kaviiiii!"
Cupp
Terasa aroma mint, membuat Kavi yang baru bangun tidur langsung segar. Ia sesap langsung Winda sampai wanita itu kesulitan untuk bernapas. Sedotan Kavi terlalu kencang, membuat Winda kuwalaham.
Winda yang baru mandi, begitu mendapat serangan mendadak ia pun kaget. Tapi bagaimana lagi, Kavi sepertinya sudah lepas kendali. Pria itu bahkan kini langsung membopong tubuhnya setelah menyesap habis bibirnya.
Bukkkk ....
Suara ranjang terdengar ketika dua orang dewasa itu jatuh ke benda empuk yang bisa memantul tersebut.
"Mandi dulu, Kav!" ucap Winda.
"Tanggung ... nanti juga mandi lagi."
"Ish."
Melihat Winda yang mendesis, ia ciumm saja bibir ranum itu. Membuat Winda tidak bisa mengeluh lagi. Dan dengan tidak sabar, Kavi langsung menyibak handuk yang masih dipakai oleh istrinya itu. Terlihat jelas bukit barisan yang simetris dan hutan gundul. Hadeh ... Kavi mulai oleng. Jakunnya naik turun. Bersambung.
__ADS_1