Kekasih Bayaran

Kekasih Bayaran
Kelaparan


__ADS_3

Kekasih Bayaran Bagian 91


Oleh Sept


Pagi yang cerah, matahari bersinar cukup terang. Cuaca di Bali pagi ini sangat cerah sekali. Cocok untuk traveling di pulau Dewata. Sayang, ini adalah hari terakhir Winda. Beberapa jam lagi mereka akan terbang, meninggalkan Bali dengan pantai serta ombaknya yang cocok untuk surfing.


"Bangun, Kav!"


Winda sudah mandi, sedangkan Kavi masih sembunyi di balik selimut tebal yang hangat dan lembut.


"Lima menit lagi!" jawabnya dengan mata yang masih terpejam. Kavi malas-malasan, karena masih diliputi rasa kantuk yang berat. Ini karena semalam tidak bisa tidur. Gara-gara tidak dapat jatah, malamnya terasa panjang dan sangat lama.


Pria itu baru bisa tidur saat menjelang fajar. Jelas sekarang masih mengantuk meskipun matahari sudah meninggi.


"Kavi ... nanti terlambat."


"Ngantuk banget, Sayang!" Kavi keluar dari selimut lalu menarik lengan Winda. Membuat Winda jatuh di ranjang dan langsung memeluknya erat.


"Astaga! Cepat mandi! Kita bisa telat!"


"Dah lah ... biar aja. Aku masih ngantuk. Booking ticket lagi aja!" ucap Kavi enteng.


Winda mendesis kesal, kemudian mendorong Kavi dengan sikunya. Membuat pria itu meringis dan terkekeh.


"Ayooo bangun!" pinta Winda, ia berdiri kemudian menarik lengan suaminya hingga Kavi bangun dan berangkat ke kamar mandi.


Sambil menunggu Kavi mandi, Winda memeriksa apakah barang-barang bawaanya sudah siap. Banyak sekali yang masih ia tinggalkan. Sebab mungkin sebulan sekali ia akan ke Bali. Dan untuk sementara, Winda meminta Kadek menempati apartment ini.


Kadek sempat bertanya, kenapa tidak dijual. Dan Winda hanya tersenyum. Untuk apa juga di jual? Biarlah buat tempat singgah bila ia ingin ke Bali sewaktu-waktu. Jadi untuk sementara, Winda meminta agar apartment tidak kosong, Kadek bisa menempati. Walau awalnya Kadek menolak.


Baru juga dipikirkan, Kadek pagi-pagi sudah datang. Rencananya ia akan mengantar pengantin baru itu ke airport pagi ini.


"Sudah siap?" tanya Kadek yang melihat Winda sudah rapi. Dan di ruang tamu sudah ada beberapa koper besar.


"Tunggu ya, Kavi masih di dalam."


"Hemm!"


"Gue panggil dulu suami gue," ucap Winda.


"Eh, Win tunggu dulu!" seru Kadek sembari mengeluarkan amplop tebal warna coklat dari dalam tas Pranda miliknya.


Ia kemudian menarik tangan Winda, lalu meletakkan amplop di tangan istri Kavi tersebut.


"Sewa satu tahu! Gue gak mau tinggal gratis!"


"Ya ampun! Jangan gini, Dek! Gue gak sewain apartment ini. Gue gak mau! Ambil uang ini balik!" Winda menepis uang pemberian Kadek.


"Ya sudah! Gue lebih baik terusin ngontrak. Teman adalah teman, bisnis is bisnis! Gue mau tinggal sama lo karena kita bisa tinggal bareng, dan sekarang financial gue udah sangat baik gara-gara elo. Hargai gue ya, plis tolong terima ini! Ini bukan karena nilainya, Win. No, bukan. Tapi gue bakal nyaman kalau gue sewa ini tempat, bukannya tinggal seenaknya."


Winda menghela napas panjang, "Lo emang ngeselin banget!" gerutu Winda.


Akhirnya Winda dengan berat hati menerima uang sewa apartment. Padahal ia hanya minta Kadek tinggal cuma-cuma. Tapi demi menjaga perasaan Kadek, ia pun menerima.


"Kalian kenapa peluk-peluk begitu?" celetuk Kavi yang baru keluar kamar. Ia kesal, karena dengan Kadek langsung damai, sedangkan dengannya Winda masih sedikit mendendam, gara-gara kasus prank kemarin.


Winda tersenyum tipis, kemudian bertanya pada suaminya. "Sudah beres? Nggak ada yang ketinggalan? Ayo berangkat. Ini Kadek juga sudah datang."


"Udah, Ayo!" Kavi pun menarik koper, bersama dua orang wanita di belakangnya.

__ADS_1


***


Airport


"Gue bakal kangen lo yang ngeselin banget!" ucap Winda sambil memeluk sahabat yang paling mengerti dirinya selama ini.


"Gue gak kangen, lo kan si perfectionist yang bikin makan hati!" balas Kadek. Keduanya pun tersenyum, tapi ada kesedihan di dalam mata mereka.


"Hati-hati, ya. Cepet married. Langsung kasih kabar kalau lo mau nikah."


"Nikah mulu, pacar aja kaga punya!" cetus Kadek.


"Cari donk!"


"Sibuk!"


"Ih ... Pak Yudhistira nganggur!"


"Asemmm lo!" Kadek menepuk pundak Winda sampai Winda mengusap pundaknya karena sakit.


"Sayang!!! Sakit!" seru Winda manja, ia sengaja memanas-manasi Kadek agar cepat cari pendamping.


Dasar Kavi yang juga kesal dengan Kadek akibat prank, ia juga kena getahnya. Maka sekalian ia ikut mengerjai Kadek. Dengan mesra ia mengusap pundak istrinya.


"Nanti sampai di Jakarta aku pijitin."


Kadek langsung melengos, 'Dasar pasangan bucin!' batin Kadek.


"Sudah! Sana, kalian nanti telat." Kadek pun mengusir pasangan pengantin yang suka mengumbar mesra tersebut.


"Oke ... daaa ... bye!"


Keduanya melambaikan tangan, kemudian menghilang di antara kerumunan manusia yang memenuhi airport.


***


Jakarta


Setelah menempuh perjalanan udara 2 jam lebih, akhirnya mereka sampai juga di kota metropolitan.


Rumah Kavi


"Suka tidak rumahnya? Mungkin banyak yang harus di renovasi."


Winda menatap sekeliling, "Bagus, halaman luas. Dan ... kenapa garasi luas banget?"


"Gak tahu juga, biar muat banyak. Itu kebetulan ditawarin mas Arjun, ini cukup dekat dengan rumah mereka, dan juga rumah mama. Jadi ini lokasi cukup startegis. Deket kantor juga. Tadi Kita lewat loh," tutur Kavi bersemangat.


"Ya, aku tadi lihat, kok." Winda tersenyum tipis, saat ingat kantornya dulu.


"Oh, ya. Apa bu Fenita masih ada di sana?"


"Masih! Beberapa hari yang lalu aku juga bertemu dengannya. Dia masih suka TP TP loh!" pancing Kavi.


"Ngarang!"


"Swear! Sumpah!"


"Jangan mengarang!"

__ADS_1


"Ish, lusa ikut aku ngantor. Aku juga penasaran ekspresi teman-teman kantor Kita dulu."


"Gak! Gak mau!" Winda menolak keras.


Ia masih ingat bagaimana ia membawa kardus besar, berjalan di lobby dan dilihat orang-orang, waktu ia dipecat dulu.


"Kenapa?"


"Gak enak aja."


"Terus ngapain di rumah aja?"


"Gak, lah. Aku mau keluar ... kangen juga sama Jakarta."


"Ngapain? Sama siapa? Gak boleh! Gak ada!" Kavi berubah jadi possessive seketika.


"Ish!"


"Kalau mau keluar, tunggu aku saja. Kita bareng."


"Kan kamunya ngantor, Sayang!" desis Winda kesal.


"Makanya, ikut ngantor lusa. Besok gak boleh ke mana-mana. Aku ajakin ke rumah mama. Tuh Kezia juga udah nyariin kamu."


Baru juga hari pertama di rumah baru, mereka berdua kembali debat. Itu karena mereka langsung menikah tanpa pacaran. Ada banyak hal yang mungkin masih bentrok saat di awal pernikahan. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, semuanya akak selaras. Karena semuanya butuh proses.


***


Malam harinya


Kavi sudah bergelut dengan laptop dan banyak berkas. Karena banyak laporan yang harus ia periksa.


Sedangkan Winda, ia menatap sambil rebahan di ranjang.


'Tumben dia anteng banget. Sudah jam 9 malam, masih betah. Biasanya jam segini sudah ngajak tanding!' batin Winda.


"Sayang!" panggil Winda dengan tatapan menggoda.


"Hemm!" Kavi menjawab dengan ekspresi dingin.


"Masih lama?"


"Ada apa?" tanya Kavi jutek.


"Gak ada apa-apa!" jawab Winda sambil menyibak selimut. Membuat kakinya sampai atas terlihat tanpa penutup.


"Pakai selimut lagi! Jangan aneh-aneh. Jangan membuat kepalaku pusing!" celetuk Kavi kemudian fokus kembali ke laptop setelah menatap istrinya.


'Galak bener!' batin Winda.


"Sayang ... sayang!" suara Winda dibuat lembut menggoda.


"Jangan aneh-aneh windaaaa!" ujar Kavi. Matanya menatap Winda, setelah itu menelan ludah. Tanpa menatap ia lipat laptop yang masih menyala.


"Katanya M?" tanya Kavi dengan jakun yang naik turun.


'Siallll kemarin dia bohong!' batin Kavi kemudian langsung menerkam.


Bersambung

__ADS_1



__ADS_2