
Kekasih Bayaran Bagian 111
Oleh Sept
Kadek langsung menggeleng keras saat sadar apa yang terjadi semalam. Ia masih ingat bagaimana duda itu menempelkan bibirnya. Frustasi, Kadek mengusap wajahnya dan memgacak rambut.
"Kenapa aku bodohhh sekali?" gumam Kadek merasa putus asa. Ia kemudian bangkit, semua rasa campur jadi satu.
"Kau BODOHHH!" Ia merutuk berkali-kali.
Setelah dari kamar mandi membasuh wajahnya, Kadek mencari sesuatu. Dilihatnya bajunya semalam tergeletak dan bau. Ia kembali mendesis kesal, menghentakkan kaki karena frustasi.
KLEK
Pintu terbuka, Yudhistira muncul dan melempar satu set pakaian wanita. Sepertinya itu baju gadis manja anaknya pak duda. Tidak mengucap apapun, Yudhistira langsung berbalik dan menutup pintu.
GERRR. Kadek ingin teriak. Setelah berpakaian ganti, ia kemudian membereskan kamar sedikit agar tidak berantakan. Dan satu persatu bayangan kejadian semalam muncul dalam pelupuk mata.
"Sialllll!"
Kadek menyibak selimut dan seprai. Ia lega, semalam mereka tidak sampai ke permainan inti. Kemudian ia tersenyum kecut. Ini karena ia muntah lagi.
"Astaga!" Kadek sangat malu, marah, kesal, jengkel pada diri sendiri.
"Bodohhh ... dasar bodohhh!"
Tok tok tok
"Keluarlah!" suara Yudhistira terdengar keras di depan pintu karena Kadek tidak kunjung menampakkan hidungnya.
KLEK
"Makanlah dulu, setelah itu aku antar pulang!" seru Yudhistira dingin.
"Tidak! Terima kasih. Bajunya nanti saya kembalikan!" Kadek buru-buru bergegas pergi, ia sangat malu setelah mengingat dengan jelas kejadian tadi malam.
Masih untung mereka tidak sampai hubungan badann. Jika itu terjadi, Kadek tidak tahu akan ditaruh mana mukanya.
"Tunggu!"
Yudhistira menyusul Kadek yang sudah jalan duluan.
"Kau tidak dengar apa yang aku katakan? Aku antar!"
"Tidak, terima kasih!" Kadek yang terlanjur malu, langsung mempercepat langkahnya. Ia setengah lari dan keluar dari gerbang rumah bosnya itu.
Yudhistira hanya menggeleng, melihat aksi Kadek.
***
Apartment Winda.
Kadek pulang ke apartment dengan perasaan campur aduk, bahkan saat Winda membuka pintu untuknya, pikirannya malah kosong.
"Lo semalam tidur di mana? Eh ... kemarin bukan baju ini deh?" Winda menatap penuh selidik.
"Win, gue masuk kamar dulu!"
Kadek menghindar dari pertanyaan Winda, ia buru-buru masuk kamar.
"Sudahlah, Kadek itu bukan anak kecil. Kenapa kamu kok cemas gitu?" Kavi menyentuh pundak istrinya, kemudian merangkul Winda dengan hangat.
"Setahu aku dia gak ada pacar, Sayang. Dan ini kok pulang pagi? Kan aneh?"
"Gak ada yang aneh, mungkin dia sudah punya pacar. Tapi belum cerita sama kamu."
Winda mendesis kesal, "Tetep aja aku penasaran."
"Ish ... bumil ini. Gampang banget penasaran sekarang ya?" ucap Kavi kemudian berjongkok. Ia usap perut Winda yang sudah besar itu dan mengajak bicara calon bayi mereka.
"Kasih tahu sama Mama, jangan suka penasaran. Gak bagus!"
CUP
Bibir Winda langsung mengerucut, hal itu semakin membuat Kavi gemas.
"Nanti dilihat Kadek!" Winda menepis lengan Kavi yang terus saja mendesak mau memeluk.
"Dia di kamarnya ... apa kita masuk kamar saja?" Kavi mengerlingkan mata.
__ADS_1
"Masih pagi!" celetuk Winda kemudian berjalan sambil mengusap perutnya.
"Sayang ... mau ke mana?"
"Sebentar, aku mau bicara sama Kadek dulu."
"Hemm. Jangan lama-lama."
"Ish ... iya!"
Winda pun ke kamar Kadek, ia mengetuk sebelum masuk.
"Kadek! Gue masuk ya?"
KLEK
Winda heran, Kadek malah melamun sedangkan TV dalam kamar menyala.
"Elo kenapa? Awas kesambet!" celetuk Winda kemudian duduk di samping Kadek.
"Win!"
"Hem ... ada apa? Cerita ke gue."
"Gue sepertinya resign aja deh."
"Loh? Kenapa? Apa ada masalah kerjaan?"
Kadek menggeleng keras.
"Lalu?"
"Nanti gue cerita. Jangan sekarang."
Dahi Winda langsung mengkerut. "Gak asik banget! Bikin ibu hamil penasaran!"
Kadek menghela napas dalam-dalam. "Gue sepertinya udah gila ...!"
Winda langsung berubah serius. "Ada apa? Mungkin gue ada solusi. Apa soal semalam? Tidur di mana tadi malam?"
Muka Kadek langsung pusat, seolah sedang di introgasi orang tuanya.
"Di mana?"
"Jangan berbelit, gue penasaran."
Kadek mengusap wajahnya dengan berat kemudian mulai berani cerita. Dari kejadian di kantor sampai berakhir di ranjang.
"GILA lo, Dek!" Winda menutup mulutnya. Ia tidak mengira Kadek benar-benar bersama Yudhistira, mantan atasannya.
"Gimana? Gue malu masuk kantor setelah apa yang terjadi ... ada elo tahu betapa bar bar gue semalam. Ya ampun ... mau ditaruh mana muka gue, Wind?"
Winda ikut mengusap wajah, kemudian menyentuh perutnya.
"Tapi elo yakin gak sampai punya dia masuk?"
Kadek melotot.
"Nggak! Gue masih perawan. Ya ampun ... semalam hampir saja. Pas gue pegang punya dia gue malah mual muntah!"
Ingin tertawa tapi miris, Winda hanya bisa geleng-geleng kepala.
"No comment, elo bar-bar banget!"
"Wind ... gue resign sekarang aja ya. Gue mau tulis pengunduran diri."
"Lalu mau kerja di mana?"
"Pikir belakang, gue malu ... sumpah gak bisa begini setelah apa yang terjadi. Aduh ... kepala gue mau pecah. Malu SUMPAH."
Winda yang kasihan malah terkekeh. "Mungkin kalian jodoh!"
"Jangan ngawur. Ini karena gue minum."
"Makanya! Siapa suruh lo minum? Hem?" omel Winda.
"Oke, gue emang salah. 100 persen salah!" Kadek lemas, ia kemudian melempar tubuhnya di atas ranjang dan merentangkan tangan sambil berguman kesal.
***
__ADS_1
Dua hari kemudian, sudah dua hari ini Kadek tidak masuk kerja. Ia baru ijin sakit, Winda mencengah Kadek untuk keluar dari perusahaan. Sampai suatu sore, ketika langit berwarna jingga merata, ponsel Kadek berdering. Ada panggilan masuk yang tidak biasa.
"Kenapa dia telpon?"
"Udah ... angkat!" celetuk Winda. Mereka berdua sedang menikmati sunsets di pantai.
"Gak lah, gue masih malu."
"Jangan menghindar, jangan suka lari dari kenyataan."
"Apa sih lo, Win."
Tap tap tap
"Ngobrol apa kalian?" tanya Kavi yang muncul membawa kelapa muda.
"Biasa ... masalah wanita," jawab Winda kemudian menyesap sedotan yang tertancap di dalam kelapa muda yang dibawa oleh suaminya.
"Sayang ... temani aku ke sana. Mau jalan-jalan di tepi pantai."
"Kadek, kami duluan!" ucap Kavi.
Kadek hanya mengangguk, ia pun melirik ponselnya yang kembali berdering. Sepertinya Winda sengaja meninggalkan dirinya agar mau mengangkat telpon dari Yudhistira, si duren sawit tersebut.
"Hallo?" sapa Kadek yang akhirnya mengangkat telpon.
"Kau sakit apa? Kau sakit atau sengaja menghindar?" tanya Yudhistira dengan tegas tidak ada manis-manisnya.
"Untuk apa saya menghindar dari Bapak? Saya memang sakit, kok."
"Kirim alamatmu sekarang!"
"Eh, untuk apa?"
"Aku tunggu sekarang."
"Hallo ... hallo .. suara Bapak terputus, saya gak bisa dengar."
Tut Tut Tut
Kadek langsung mematikan ponselnya. Sepertinya benar kata Winda, Kadek memilih lari dari kenyataan.
***
Langit mulai gelap, Kavi mengajak Winda kembali, takut Winda kena angin lama-lama, nanti malah masuk angin.
"Sayang, ayo balik."
"Hem ... iya. Kaki aku juga dah capek."
"Nanti aku pijitin."
"Ish, apanya?"
"Bener."
"Bukankah tambah lega, malah capek karena habis pijit langsung olah raga!" celetuk Winda.
"Kalau itu kan sudah wajib, Sayang!" tanpa malu-malu Kavi langsung merangkul pundak istrinya. Mengecupp pipi Winda berkali-kali. Padahal di sana ada Kadek yang menatap sambil geleng-geleng kepala.
"Lanjut di apartment!" celetuk Kadek.
"PASTI!" sahut Kavi yakin. Membuat Winda langsung mencubit pinggang suaminya.
Mereka langsung terkekeh, kemudian masuk mobil yang sama. Kadek seperti obat nyamuk, duduk di belakang sendirian, menyaksikan sahabatnya yang sedang mesra dengan suaminya.
Tidak terasa, mereka akhirnya sampai di apartment. Begitu tiba, mereka hendak masuk ke dalam bersama-sama. Kecuali Kadek, karena di lobby ada seseorang yang sedang menunggu di sana.
"Win! Gue ikut elo aja," bisik Kadek panik saat melihat duda kesepian itu menatap ke arahnya.
"Selesaikan baik-baik. Jangan menghindar. Nanti loh nyesel."
"Tapi, Win. Mau ditaruh mana muka gue?"
Tap tap tap
Yudhistira mendekati mereka, mata pria itu sekilas menatap Winda yang sedang hamil besar. Kemudian tersenyum ramah, setelah itu, menatap Kadek dengan dingin.
"Mati gue Win!" gumam Kadek panik.
__ADS_1
Bersambung.