Kekasih Bayaran

Kekasih Bayaran
DEBAT


__ADS_3

Kekasih Bayaran Bagian 64


Oleh Sept


Pri tersebut tersenyum geli menatap tingkah lucu Winda. Gerakan Winda spontan menutup mulut dengan tangan, membuat Kavi terkekeh.


Cup


Tidak mengurungkan niat awal, Kavi tetap mengecupp meski hanya dapat punggung tangan wanita itu.


"Mulai sekarang, kamu harus hati-hati!" bisik Kavi kemudian menempelkan bibirnya pada pipi Winda.


Winda membuang napas lega, saat Kavi kembali ke posisi semula dan memasang sabuk pengaman lagi. Tapi aksi Kavi barusan cukup membuat jantung Winda berdegup kencang. Ia sampai salting sendiri saat mobil berjalan kembali dan Kavi curi-curi pandang.


"Fokus pada jalan, Kav! Jangan melihatku terus!" ucap Winda tapi tanpa menatap pria tersebut. Winda sedang salah tingkah, apalagi tangan Kavi menyentuh pa hanya. Hanya menyentuh, tapi Winda seolah sedang tersengat aliran listrik.


'Ada yang tidak beres! Ada apa denganku?' batin Winda kemudian menyingkirkan tangan Kavi. Bukak Kavi namanya kalau tidak gigih. Pria itu malah menarik tangan Winda balik. Menggengam, lalu mengecupp sambil matanya menatap ke jalan.


"Hati-hati, Kavi! Fokus nyetir!" seru Winda kemudian menarik tangannya pelan. Ia kini duduk sambil mencoba menenangkan hati. Jantungnya bergemuru gara-gara sikap tidak terduga Kavi hari ini.


***


Beberapa saat kemudian


Keduanya ada di sebuah cafe di dekat apartment Winda. Kavi bilang dia lapar, dan meminta Winda menemaninya makan. Sambil menunggu pesanan datang, Kavi mau bicara dari hati ke hati.

__ADS_1


"Wind!"


"Hemm."


"Habis married, kamu ikut aku ya. Kita stay di Jakarta."


Winda langsung mengangkat dagunya. Ia lalu meletakkan ponselnya di atas meja. Kemudian fokus pada pria yang menatapnya dengan wajah serius. Ini yang belum Winda pikirkan. Sibuk melajang dan mengejar karir, ia tidak punya gambaran akan hidupnya nanti.


Sekarang ia bingung ketika Kavi memintanya ikut ke ibu kota dan harus meninggalkan Bali. Kota di mana dia sudah mengukir cita dan asanya selama ini.


"Bagaimana kalau aku gak mau?"


Dahi pria itu seketika mengkerut. "Kenapa? Aku tidak mau LDR! Kita nikah untuk tetap dekat dan bersama, kalau kamu di sini dan aku di sana. Kapan kita akan bertemu?"


Belum menikah mereka sudah ribut, Winda jadi pesimis. Jangan-jangan rumah tangganya nanti tidak jauh beda dengan rumah tangga orang tuanya dulu. Pertama mungkin manis, tapi setelah berjalannya waktu, semuanya berubah.


"Tergesa-gesa? Ayolah, Win. Aku bahkan sudah menunggu lama." Kavi sedikit terbawa emosi. Nada bicaranya pun sudah naik beberapa oktaf.


"Aku rasa aku belum siap, Kav." Winda mulai ragu. Ia terlihat tenang tapi tidak bisa menyembunyikan keresahan di matanya.


"Hanya karena aku meminta kita pindah dan meninggalkan kota ini kamu pakai alasan belum siap? Yang benar saja Winda! Apa ada sesuatu yang membuatmu berat meninggalkan semua ini?" tuduh Kavi. Dan suasana hening sesaat ketika waiter datang membawa menu yang sudah mereka pesan.


"Kita makan dulu! Nanti kita bicarakan lagi!" ucap Kavi dingin. Ia kesal karena karena sikap Winda yang menurutnya sangat keras kepala. Susah diatur, susah untuk dibujuk.


Makanan yang harusnya enak, karena suasana hati yang tidak baik, membuat semua menu itu jadi hambar di lidah. Keduanya makan tanpa bicara. Barulah setelah makan, mereka kembali membahas masalah yang sempat ke pending tersebut.

__ADS_1


Pertama yang bersuara adalah Winda. Wanita itu mencoba untuk mengatakan apa yang masih mengganjal.


"Aku akan tetap bekerja nantinya, meskipun sudah menikah."


"Setuju!"


Winda melirik.


"Tapi tidak di sini, kamu harus bekerja bersamaku!"


Winda langsung mendesis kesal.


"Kenapa kamu jadi menghalangi langkahku, Kavi?"


"Menghalangi kamu bilang? Aku hanya ingin Kita berjalan bersama."


"Itu bukan berjalan bersama, kamu hanya membatasi ruang gerakku. Aku gak bisa, kalau kamu maunya seperti itu, jujur aku nggak bisa. Aku mau berdiri sendiri di atas kakiku."


"Kalau bisa bersama, mengapa harus sendiri-sendiri? Sebenarnya apa yang kamu cari Winda? Aku tidak menghalangi kamu berkarir. Silahkan, malah aku dukung. Hanya saja ... jangan di tempat ini. Kita harus stay di Jakarta. Kondisi mama sudah tidak sebaik dulu. Aku bahkan harus cepat-cepat pulang dari sini. Jadi ... tolong kamu lepas salah satu. Ikut bersamaku, dan resign."


Winda menggeleng pelan. Bagaimana bisa Kavi mengatakan hal itu. Ini mimpinya, menjadi wanita mandiri yang memiliki segalanya. Kenapa Kavi malah meminta keluar dari pekerjaan yang sekarang. Mengapa belum menikah Kavi sudah mengantur ini dan itu?


"Kavi, sepertinya kamu nggak ngerti aku. Maaf, lebih baik sebelum terlambat ... Kita pikirkan lagi."


Winda yang memang memiliki karakter keras setelah apa yang menimpa hidupnya selama ini, perlahan melepaskan cincin dari jari manisnya. Ia meletakkan cincin bermata berlian itu di atas meja. Bersambung

__ADS_1




__ADS_2