
Kekasih Bayaran Bagian 73
Oleh Sep
"Ngaco kamu, Kavi!" Winda kemudian mendorong Kavi agar kembali ke kamarnya. Ia merasakan Kavi lagi mode tegangan tinggi. Mereka harus jaga jarak aman. Kalau tidak, sesuatu yang tidak mereka inginkan akan terjadi.
"Ayolah, Win!" Kavi memelas, ingin cepat-cepat menikahi Winda. Tapi sepertinya Winda tidak mau menuruti ide Kavi yang terkesan terlalu tergesa-gesa tersebut.
"Jangan bercanda! Sana ... balik ke kamar kamu!" Winda terus saja mendorong tubuh yang tinggi, tegap dan atletis itu. Bukan menolak karena tidak suka, hanya saja Winda mau restu Hanum.
Sedangkan Kavi, ia mencoba mengerem kakinya, tidak mau pindah dari kamar kekasihnya itu. Rasanya ingin selalu dekat dengan Winda. Tidak mau jauh-jauh.
"Kenapa sih? Nanti atau sekarang kan sama saja?" protes Kavi.
"Karena sama saja, maka kita nunggu bicara sama tante." Winda memutar kata-kata Kavi. Membuat pria itu mendesis kesal.
"Kalau mama sulit dibujuk, bisa-bisa kita lama gak nikah-nikah!" Kavi memasang muka masam, merajuk seperti anak kecil.
"Kalau sudah bertemu tante, apapun keputusan tante, kita bisa bicarakan lagi. Aku hanya butuh bicara dulu. Aku gak mau dicap buruk, Kavi. Kamu tahu, hubunganku rusak dengan keluargaku sendiri, apa terlalu serakah bila aku mengharap keluargamu menerimaku? Aku gak mau kawinnn lari."
Kavi menghela napas panjang.
"Ya ... ya. Tapi kalau mama nanti mempersulit Kita, kamu gak boleh nolak aku ajak kawinnnn paksa!" ancam Kavi dengan tatapan menuntut.
"Ish!"
"Ingat itu, Win ... apapun keputusan mama. Kamu harus mau menikah denganku!"
Winda sampai tidak bisa berkata-kata, ini ancaman yang membuatnya geleng-geleng kepala.
"Hemm ... ya sudah. Kembali ke kamar kamu. Aku capek, mau istirahat."
"Inget ya kata-kataku tadi!" ulang Kavi saat akan pergi.
"Iyaaa, kaviiiii!"
Barulah Kavi tersenyum saat Winda mengiyakan, bahwa apapun nanti, keduanya akan tetap menikah.
"Ya sudah. Nanti kalau butuh apa-apa, panggil ya. Aku di kamar sebelah."
Winda mengangguk, dan saat akan menutup pintu, Kavi memberikan hadiah kecupann tambahan.
"Udah sanaaaa!" protes Winda dengan bawel.
Pria tersebut pun terkekeh kemudian mencubit hidung Winda gemas.
__ADS_1
***
Menjelang senja, Kavi habis mandi. Sudah wangi, ganteng seperti biasanya. Setelah berpikir jernih, pria itu kemudian berdiri di balkon kamarnya sambil menikmati langit jingga, lalu mencoba menghubungi sang mama. Ia butuh bicara dengan mamanya tersebut sebelum membawa Winda pulang bersamanya.
Tut ... tut ... tut ...
Kavi sengaja melakukan VCall, biar kelihatan wajah masing-masing.
"KAVIII!" pekik Hanum senang. Beberapa hari putranya itu tidak pulang. Dengan senyum ia menyapa Kavi yang ada di layar kaca ponselnya.
"Ma!" sapa Kavi.
"Kamu di mana? Harusnya kan sudah pulang, kamu masih di hotel? Mama kira sudah balik."
"Iya, Ma. Ada sesuatu yang penting. Kavi harus beresin dulu."
"Oh, ya sudah. Gak apa-apa. Oh ya, sudah makan?" tanya Hanum dengan perhatian.
"Sudah, Ma."
"Apa makanan di sana enak?"
"Enak masakan Mama."
"Ma ..." panggil Kavi yang mulai ingin bicara ke pokok masalahnya.
"Ada apa? Kenapa wajahmu itu?" Hanum mulai mengendus gelagat aneh putranya.
"Mama mau Kavi bahagia, nggak?"
Bicara apa kamu, Sayang. Jelas bahagianya Kavi bahagianya Mama juga."
Kavi menghela napas dalam-dalam, kemudian menatap sendu pada sang mama lewat layar kaca.
"Kavi sudah ketemu sama Winda, Ma," ucap Kavi jujur dan ekspresi Hanum seketika langsung berubah.
Cukup lama Kavi menunggu sang mama kembali berbicara. Terlihat sekali dahi mamanya langsung mengerut. Tapi sesaat kemudian Hanum berbicara dengan tenang. Bahkan kerutan di dahinya mulai memudar.
"Apa dia sudah menikah?"
"Belum," jawab Kavi cepat.
"Baiklah, bawa dia pulang bersamamu."
Mata Kavi langsung membuka lebar. Ia tidak percaya atas apa yang ia dengar. Tapi tunggu, jangan-jangan mamanya malah memarahi Winda dan mengusir jauh.
__ADS_1
"Untuk apa Winda dibawa pulang?" Kavi ingin tahu, tanpa basa-basi ia langsung menodong sang mama.
"Mama mau melihat anak Mama yang bertahun-tahun menutup diri bisa bahagia."
Kavi tertegun, ini adalah obrolan terlama dengan sang mama. Dan Kavi baru menyadari hal itu.
"Mama gak marah lagi?" tanya Kavi tidak percaya.
"Mama marah kalau kamu memutuskan hidup sendiri sampai tua." Hanum bahkan mulai bicara sambil meledek. Benar-benar seperti mamanya yang dulu. Mata Kavi sampai berkaca-kaca, ada rasa sesak, tapi itu adalah perasaan yang melegakan.
"Makasih, Ma. Makasih untuk cinta Mama sama Kavi."
Hanum tersenyum, kemudian memalingkan wajah. Agar Kavi tidak melihat ia mengusap sudut matanya.
"Cepat pulang, ya?" ucap Hanum kemudian saat kembali menatap ponsel.
"Iya, Ma. Kavi pulang ... segera pulang bawa calon menantu Mama."
"Hemm ... Mama tunggu."
Akhirnya Kavi bisa bernapas lega, ia pun menutup ponselnya. Bergegas ke kamar Winda.
***
"Win ... Windaa!"
Tok tok tok
Winda yang habis mandi, masih pakai bathrobe dan handuk yang masih melilit di atas kepalanya, mengintip siapa yang datang.
"Ish ... kenapa lagi?" gumamnya kemudian membuka pintu.
KLEK
"Sebentar, aku pakai baju dulu."
Setelah membuka pintu, Winda kemudian berbalik. Ia akan ganti baju dulu kemudian kembali menemui kekasihnya itu. Baru juga beberapa langkah, Kavi langsung memeluknya dari belakang.
"Kav! Lepasin. Aku ganti baju dulu!" seru Winda sambil mencoba melepaskan lengan Kavi yang mendekap tubuhnya.
Kavi menelan ludah, apalagi saat menghirup aroma shampoo Winda yang membuat jakunnya sudah naik turun. Bersambung.
Selangkah lagi, awas macam-macam, Kav!
__ADS_1