
Dewa datang menghampiri Bella dan Pretty yang sama-sama jadi korban cinta palsu nya Rian. Ia mencoba menenangkan keduanya.
"Bagaimana bisa kamu kenal dengan Dewa?" tanya Bella bingung. Pretty pun menceritakan semua nya pada Bella kalau Dewa telah menyelamatkannya saat mau bunuh diri. Bella kaget kenapa Pretty bisa senekat itu.
"Pikiranku sudah buntu Bella, tidak ada jalan lain lagi. Dewa telah menyelamatkan hidupku dan bayiku," ujar Pretty menangis sambil memegangi perutnya yang tampak sudah membuncit itu.
Bella berterimakasih kepada Dewa karna sudah menyelamatkan Pretty dan menyelamatkan dirinya dari tipuan cinta palsu Rian. Bella mengambil keputusan akan segera membatalkan pernikahan itu.
Orang tua dan seluruh keluarga Rian merasa malu mereka meminta maaf pada keluarga Bella atas perlakuan Rian. Setelah bermaaf-maafan mereka pun pulang dengan kesal dan menanggung malu.
Pretty mengingatkan Bella kalau Rian adalah pria yang tidak baik. Rian adalah pria jahat. Bella mengelus dada bersyukur karena belum melakukan jabkabul jadi bisa saja ia batalkan pernikahan itu saat itu juga.
Dewa menatap Bella seolah ingin mengatakan sesuatu pada Bella tapi ia ragu untuk mengatakannya takutnya Bella menolaknya karna ia paham dengan kondisi Bella saat ini masih terpukul oleh perlakuan Rian.
Rian menarik tangan Bella dan mengajaknya kembali pada Pak penghulu meminta untuk segera di nikahkan mereka saat itu juga walaupun tanpa Papa Alek ia memaksa Pak penghulu itu. Tapi penghulu menolak nya karna tidak ada wali untuk Bella.
Bella menoleh ke arah Dewa seolah ingin meminta pertolongan. Tapi Dewa memandang pasrah dengan hati yang tidak ikhlas.
Dewa katakanlah sekali saja kalau kau mencintaiku... lirih Bella.
Mata Dewa tampak memerah melihat Bella di bawa di hadapan Pak penghulu. Bella merasakan sesuatu dari raut wajah Dewa seolah memberi harapan kalau Dewa menaruh cinta padanya.
Rian mengancam Pak penghulu agar segera menikahkan mereka. Di saat yang bersamaan, tiba-tiba Juan dan Papa Alek pun datang.
"Papa...!" Bella melepaskan tangan Rian ia berlari kearah papa nya dan langsung memeluk papanya.
"Bella Sayang,... Papa minta maaf karna sudah terlambat datang. Semua ini karna ulah Juan Sayang, ia lupa jalan jadi kita nyasar," ucap Papa Alek panik. "apa acaranya sudah selesai kenapa kamu menangis?" Papa Alek membelai rambut putri nya.
"Yah sudah. Berhenti menangis! sekarang papa sudah datang, mari kita mulai acaranya...," ajak Papa Alek.
__ADS_1
"Tidak mau Pa...! Bella gak jadi nikah sama Rian?"
"Hah, jangan main-main Bella!" Papa Alek melepaskan pelukannya. Ia kaget mendengar ucapan Bela. Ia mejadi tidak tenang meminta maaf berkali-kali pada Bella ia mengira semua karna nya.
"Apa kamu tidak mau melakukan wasiat dari almarhum Kakekmu Bella? Pernikahan ini harus segera dilakukan, apa lagi semua tamu sudah hadir mau di taruh kemana muka papa kalau kamu gagal lagi menikahnya?" ujar Papa Alek kesal.
"Papa tenang aja dulu, Bella belum selesai bicara Papa... acaranya akan tetap dilaksanakan kok Bella akan tetap menikah tapi..." Bella menarik tangan Dewa membawanya ke Papanya.
Bella cengengesan sambil mengandeng tangan Dewa. Juan terseyum melihat pertunjukan itu.
"Apa maksudnya Bel...?" tanya Papa Alek bingung.
"Bella... Bella nikah nya sama Dewa aja Pa...," ucapnya malu.
"Lho kok sama Dewa sih!" Papa Alek bingung menatap Juan dan Dewa.
"Kok jadi sama Dewa sih Juan?" Papa Alek penuh pertanyaan tidak mengerti.
Papa Alek jadi dongkol ia melayang kan pandangan sinisnya pada Rian yang masih mematung menyaksikan semuanya dari tadi. Papa Alex menjitak kepala Juan kenapa tidak menjelaskan dari awal. Kalau ia tau tentu ia tidak akan mengelilingi kota selama dua jam.
Juan menjerit kesakitan. Bella ingin ikutan menjambak rambut Juan tapi di larang Dewa. Dewa menjelaskan pada Bella kalau itu semua berkat Juan. Karena Juanlah pernikahan itu tidak terjadi. Bella pun menahan diri untuk tidak menjambak rambut Juan yang sebenarnya ia tidak kuat lagi menahan hasratnya karna geram mengetahui sudah mengerjai papanya.
Setelah melihat perubahan dari wajah Juan yang jadi cemberut Papa Alek meminta maaf pada Juan karena sudah memarahi Juan selama diperjalanan tadi bahkan ia memaki-maki Juan. Papa Alek menepuk pundak Juan dan mengelus kepala Juan habis kena jitakan keras darinya tadi.
Tiba-tiba Juan tertawa teringat tingkah papa Alek sewaktu di mobil tadi yang sudah tidak sabaran ingin cepat-cepat sampai ke hotel ia nyaris membuang dirinya di mobil akan keluar lewat jendela. Juan membawanya ngebut keliling kota. Juan terpingkal-pingkal sendirian di pandangi oleh Bella dan Dewa.
"Juan! kamu kenapa tertawa sendirian apa jangan-jangan kamu gila karena jitakan Om Alek?" tanya Dewa bingung dan panik.
Juan pun membisikan sesuatu pada Dewa. Mereka berdua jadi tertawa berjamaah.
__ADS_1
Bella geleng kepala kenapa gila Juan jadi nular ke Dewa.
Papa Alek Jadi fakum bingung harus ngapain melihat Juan dan Dewa asyik tertawa.
"Ehem...Apa kalian akan terus tertawa saja disini?" ujar Bella menghentikan Dewa dan Juan tertawa yang menertawai Papa Alek.
"Pa... restui pernikahan kami Pa...!" ujar Bella tiba-tiba. Hal itu membuat Dewa jadi kaget ternyata Bella serius ingin mengajak nya menikah.
Papa Alek melotot tidak percaya pada ucapan Bella.
"Serius kamu Bel? mau menikah dengan Dewa? Papa kan belum tau sifat nya. Jangan main-main Bella, ini pernikahan bukan pacaran yang seenaknya bisa putus nyambung. Ini sakral dan seumur hidup."
"Kali ini Bella serius dan sangat serius Pa, Keputusan Bella sudah bulat. Ayo dong Pa, nikahkan kami?" pinta Bella.
"Tidak Bella Papa belum mempertimbangkan hal ini. Papa harus tau bibit, bebet, dan bobot nya Dewa dulu bukan sembarang merestui. Bagaimana kalau Dewa juga mempermainkan kamu seperti Rian?" ucap Papa Alek meragukan Dewa.
"Papa... Bella udah tau semua tentang Dewa Pa... dia adalah Dewa penolong Bella pangeran Bella sesungguhnya dan Dewa bukan Rian ia adalah pria yang jujur dan apaadanya Pa," ucap Bella menyakinkan papanya.
"Dewa katakan kalau kau mencintaiku di depan papa sekarang!" pinta Bella.
Dewa menatap Bella dengan ragu.
"Ayo bicara Dewa!" ujar Bella lagi.
"A-aku tulus mencintai Bella Pak...!" Dewa gugup.
"Apa yang kau punya untuk anak ku!" hardik Papa Alek keberatan.
"Aku tidak punya apa-apa Pak tapi..." Dewa menghentikan ucapannya karena masih ragu dengan keputusannya.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama Papa Alex beranjak dari tempat itu ia melangkah kakinya ke luar ruangan.