Kekasih Bayaran

Kekasih Bayaran
20


__ADS_3

Usai memastikan kondisi Andre aman, seluruh dokter dan petugas medis menuju keluar. Menyisakan sepasang insan yang saling merindu.


Gadis itu menghambur memeluk Andre yang menatapnya sayang. Naina tersedu karena haru. 'Akhirnya kamu kembali, Ndre,' batin Naina.


"Kamu beneran bakal jawab 'kan?" tanya Andre parau seraya memaksakan senyum yang tampak kaku.


Naina menepuk lengan Andre pelan, tersenyum malu. Pipinya bersemu merah. Kemudian mengangguk.


"Jadi apa nih, jawabanya?" goda Andre.


"Iya," jawab Naina malu-malu.


"Yes!" seru Andre girang.


Direngkuhnya Naina dalam pelukan, menyatukan dua detak menjadi satu. Saling melepas rindu.


"Aku beneran takut kamu gak bangun lagi, Ndre ... apalagi dokter bilang, kalau sampai hari ini kamu gak bangun. Semua alat bantu bakal dilepas, hiks," isak Naina di pelukan Andre.


Gadis itu menumpahkan segala kesedihannya di dada bidang Andre. Lelaki itu mengusap punggung Naina pelan. Menenangkan.


"Sudah, jangan menangis lagi, mana mungkin aku mati? Kan belum nikahin kamu," ucap Andre yang justru mendapat cubitan dari Naina.


"Ish, malah bercanda, aku beneran takut tau," ucap Naina cemberut.


"Iya, iya, Sayang."


"Ish, apa sih," sungut Naina tersipu.


Andre tersenyum senang, akhirnya ia selangkah lebih maju. Kini Naina sudah menerimanya.


Rasa bahagia menyelimuti keduanya, seolah ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di perut keduanya. Begitu menyenangkan dan melegakan.


Usai reuni antar dua sejoli, kini giliran keluarga Kurniawan yang memasuki ruang ICU. Naina lekas menjaga jarak, belum siap jika hubungan mereka diketahui orang lain.


Nyonya Kurniawan segera memeluk anak sulungnya penuh derai airmata, haru menyelimuti hatinya.


Begitu juga Tuan Kurniawan, mendekat, tersenyum senang dan menepuk lengan sang putra.


"Kerja bagus, Ndre. Papa yakin kamu memang kuat," ucapnya terkekeh.


"Iya, Pa."


Abbas berjalan mendekat, menatap sang kakak datar. Kemudian tersenyum dan meninju lengan sang kakak pelan.


"Untung lo bangun, Bang. Kalau enggak, Naina bakal gue ambil!" serunya bercanda tetapi justru tampak kaku.


Abbas berusaha tersenyum, meski hatinya terasa perih. Ia sempat mendengar, bahwa keduanya sudah bersama. Lelaki gondrong itu kalah saing dengan sang kakak.


Andre tersenyum menanggapi, ia bersyukur masih bisa bangun dan melihat orang yang ia cintai, keluarga yang ia sayangi.


.


Genap seminggu, akhirnya Andre diperbolehkan pulang sebab kondisinya stabil dengan cepat.


Pagi sekali keluarga Kurniawan sudah bersiap pulang ke Bogor, termasuk Naina yang disambut hangat oleh Tuan dan Nyonya.

__ADS_1


.


Menempuh perjalanan yang cukup lama dan melelahkan, akhirnya mereka sampai di Bogor tepat jam tujuh malam.


Perjalanan sedikit lambat karena menjaga agar kondisi Andre yang masih tahap pemulihan. Untung saja, tidak ada tulang yang patah. Tetapi luka goresan serpihan kaca dan cidera otak yang masih membutuhkan pemulihan.


Andre diharuskan istirahat total selama satu minggu sebelum ia memulai macam-macam kegiatan.


Memasuki pelataran kediaman Kurniawan. Naina turun dan hendak pamit pulang, tetapi justru dicegah oleh sang Nyonya.


"Jangan! Nginep aja di sini, ada banyak kamar kosong, kok," pintanya ramah.


Naina mengangguk, canggung. Mendorong Andre yang duduk di kursi roda, menuju kamar lelaki yang kini menjadi kekasihnya itu.


Abbas menjadi lebih pendiam semenjak Andre terbangun dari koma. Lelaki gondrong itu lekas naik ke lantai dua. Menutup pintu cepat dan menyeka sudut matanya. Terduduk, menatap kosong pada langit kamar.


Naina dan Andre memasuki kamar berukuran besar, di dalam sangat luas dengan king size bed di tengah.


Sisi kanan ada rak buku dan sofa baca untuk bersantai. Lengkap dengan meja kecil di sampingnya. Tepat di depannya sebuah TV LCD berukuran besar menggantung di dinding.


Desain interiornya sangat memukau, benar-benar cocok dengan gaya konglomerat. Sejenak Naina terpukau, tetapi segera sadar dan kembali ke kenyataan.


Naina mendorong kursi roda sampai di samping kasur, memapah Andre untuk berbaring di ranjang.


"Makasih ya, Sayang."


"Andre, malu ah, jangan panggil gitu, aku belum siap," lirih Naina menatap manik hitam itu dalam.


"Baiklah, baiklah, say-- ... eh, Nai."


Naina terkekeh geli, tak menyangka bahwa mulai sekarang mereka resmi berpacaran. Gadis itu juga tak menyangka, bahwa lelaki di depannya ini berhasil merebut hatinya.


Andre menarik lengan gadisnya hingga terduduk di sisi ranjang, menatap dengan mata berbinar. Memohon.


"Bentar lagi dong, Nai. Masih kangen," ucap Andre sambil berkedip.


Naina tertawa, lelaki di depannya ini berubah menjadi seperti anak kecil. Terlihat lucu dan menggemaskan.


"Baiklah."


Andre tersenyum menang, diraihnya tangan gadis itu, mengecup punggung tangannya mesra.


Naina kembali tersipu, mabuk dalam gelora yang Andre cipta. Hanya dengan saling menatap saja, terjawab sudah segala kegundahan hati keduanya.


"Nai, i love you."


"Love you too."


"Nai, aku sayang kamu," lirih Andre.


"Iya, aku tahu kok," sahut Naina melucu.


Andre mencubit hidung Naina gemas, sesekali mentoel pipinya yang lembut seperti bakpau.


Tengah asik bermesraan, tiba-tiba sebuah suara menginterupsi keduanya. Gegas Naina mencipta jarak bersamaan dengan suara pintu yang terbuka.

__ADS_1


"Ndre, Naina biar makan malam dulu ya, pacarannya ditunda dulu, kasihan Naina belum makan apa-apa," pinta Nyonya Kurniawan.


"Yes, Mom," jawab Andre tersenyum pada Mamanya.


"Nai, ayo ikut sini," ajak Nyonya Kurniawan.


"Baik, Tante."


Naina menatap Andre, lelaki itu tersenyum kemudian mengangguk pasrah.


"Pergilah," ucap Andre pada akhirnya.


"Kamu, istirahatlah."


Tiba-tiba, Naina bangkit dari duduk dan mencondongkan diri, tepat di depan wajah Andre. Lelaki itu sedikit terkejut, kemudian ....


Cup!


Naina mengecup pipi Andre dan segera berlari ke luar kamar. Lelaki itu tampak tercengang sekaligus senang luar biasa. Kemajuan yang besar!


"Have a nice dream, good night," lirih Naina seraya menutup pintu kamar.


Menyisakan Andre yang senyam-senyum sendiri kesenangan, tak menyangka bahwa gadis yang dulu dingin itu bisa berinisiatif duluan. Hatinya penuh dengan bunga yang bermekaran.


.


Naina segera menyusul Nyonya Kurniawan ke ruang makan, di sebuah meja panjang, sudah terhidang beraneka macam menu dan masakan.


Hanya ada Nyonya di sana, entah dengan Abbas dan sang Tuan. Melihat Naina datang, beliau lekas meminta gadis itu duduk di sampingnya.


"Ayo duduk sini, jangan jauh-jauh," pintanya ramah.


Meski awalnya canggung, akhirnya Naina menurut juga. Duduk dan tersenyum menyapa.


"Baik, Tante," sahutnya seraya duduk.


"Loh, kok manggilnya tante sih? Panggil aja mama, okay? Kamu kan calon menantu mama," tukas Nyonya Kurniawan tersenyum mantap.


Naina tampak terkejut, kemudian gegas menguasi keadaan. Tak ingin terlihat seperti orang melamun.


"Baik, Tan-- ... eh, Ma," ucapnya kikuk. Lidahnya terasa kaku mengucap sebutan itu.


"Dibiasakan yah, jangan sungkan sama mama, anggap mama kamu sendiri," ucap Nyonya seraya mengambilkan sayur untuk Naina.


Naina terpana, menganggap seperti mama sendiri? Rasanya sudah lama sekali tidak ada yang memperhatikannya seperti ini. Gadis itu benar-benar merindukan almarhum kedua orangtuanya.


"Makasih, Ma," ucap Naina terharu. Setetes bulir turun dengan lancang membasahi pipi.


Loh, kok nangis, Sayang?" tanya Nyonya seraya menyeka airmata Naina.


"Aku kangen almarhum ibuku, Ma," lirih Naina beserta isak yang mulai mewarnai.


"Sini, Sayang. Sekarang kamu ada mama, jangan sedih lagi ya," sahut Nyonya seraya memeluk Naina. Mengelus rambut panjang gadis itu dengan sayang.


"Iya, Ma. Makasih."

__ADS_1


"Iya, ayo makan, keburu dingin," ajak Nyonya.


Keduanya makan dengan tenang, ada rasa hangat menjalari hati gadis itu. Hati yang sekian lama kosong dan abu-abu. Kini terasa penuh warna dan kupu-kupu yang menari dalam perut.


__ADS_2