Kekasih Bayaran

Kekasih Bayaran
11


__ADS_3

Malamnya, Abbas kembali mengunjungi apartemen Andre, kali ini dengan tujuan berbeda. Ia ingin melihat Naina, ditekannya bel beberapa kali.


Tak lama pintu terbuka, menampilkan raut tak senang melihat kedatangan adiknya, Andre menatap curiga.


"Ngapain ke sini?" tanya Andre tanpa mempersilahkan Abbas masuk.


"Mau lihat, Naina."


"Dia sudah tidur, pulang sana."


Abbas menatap nyalang pada Andre, giginya bergemeletuk menahan amarah yang siap meledak. Tangannya mengepal sampai buku jarinya memutih.


Andre menutup pintu kasar, menyisakan Abbas yang terbakar amarah tanpa bisa meluapkannya.


"Hah!" teriaknya kesal menonjok dinding.


Lelaki itu berbalik, melangkah pulang. Sedangkan Andre, setelah demamnya turun, ia merasa lebih baik sekarang.


Naina sudah masuk ke kamar tamu sedari tadi, lelah katanya. Malam semakin larut, menyisakan Andre yang menatap langit kamar hampa.


"Nai ... apa yang kamu pikirkan tentangku?" lirih Andre pada dirinya sendiri.


"You're the only one who really touches my heart."


Andre tersenyum, menarik selimut sebatas dada. Kemudian mulai menghitung domba. Berharap bertemu Naina, juga dalam mimpinya.


.


Roti isi dan susu hangat sudah terhidang di meja bersamaan dengan munculnya semburat cahaya menyapa bumi.


Naina sudah selesai membuat sarapan, segera ia bereskan cucian piring dan bersiap mandi.


Segar, setelah berendam air hangat. Usai berganti pakaian, gadis itu menunggu Andre di depan meja makan, lelaki itu tak kunjung keluar dari kamar utama, entah apa yang dilakukannya.


Lima menit, sepuluh menit pun berlalu. Naina geram, ia tak tahan menunggu lagi. Diketuknya pintu bercorak itu seraya memanggil nama Andre, tetapi tak ada sahutan sama sekali.


Gadis itu mulai dilanda pikiran aneh, apa mungkin terjadi sesuatu? Pikirnya. Pelan, ia mencoba menekan handle pintu yang ternyata tak dikunci.


Perlahan pintu terbuka, menampilkan sosok Andre yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk di pinggang.


Untuk sesaat Naina terpesona melihat garis otot dan lekuk tubuh Andre, sedetik kemudian ia sadar dan berteriak. Semburat merah muncul di pipinya.


"Andre, dasar gila! Kenapa gak pakai baju!" teriaknya menutup kembali pintu dengan kasar.


Naina bersandar pada pintu, ia memegangi dadanya yang bergemuruh. Ia merasa seperti pencuri mesum.


"Ah, sial! Tapi badannya beneran bagus, aah!" gerutunya malu sendiri.


Tiba-tiba pintu dibuka dari belakang, Naina terkejut dan tak sempat mengendalikan diri. Alhasil ia pun jatuh ke dalam pelukan Andre.

__ADS_1


Naina sempat menghidu aroma tubuh Andre, wangi sekali. Malu, ia berusaha berdiri dengan susah payah.


"Kamu udah gak sabar jadi istriku ya?" goda Andre.


"Apaan sih, itu kan, karena kamu lama," ucapnya salah tingkah.


"Benarkah?" tanya Andre seraya memangkas jarak.


Deru napasnya mengenai wajah Naina, yang membuat gadis itu semakin kikuk dan sesekali menutup mata.


"Kalau kamu begini terus, aku bakalan gak tahan lo," ucap Andre memperingati.


Naina mendorong Andre menjauh, wajahnya sudah memerah bak kepiting rebus.


"Sarapan sudah siap tu," ucap Naina hendak berlalu.


Tetapi tangan kokoh itu menahan lengannya, Naina menoleh, menatap bingung.


"Temenin aku sarapan," jelas Andre seraya menuntun gadis itu duduk.


Naina menurut, ia tak punya alasan untuk menolak. Menatap Andre yang tampak lahap memakan roti isi buatannya.


"Enak?" tanya Naina.


"Enak, apalagi ditemenin kamu. Tambah enak banget," ucap Andre seraya mengacungkan dua jempol.


Naina terkekeh, Andre ternyata juga bisa bertingkah sekonyol ini. Melihat gadisnya tertawa, lelaki itu pun tersenyum senang.


Ia sudah cuti terlalu lama, ditatapnya Naina yang tengah membereskan piring. Sungguh pemandangan yang indah.


"Nai, aku harus kerja hari ini. Kamu gak papa kan sendirian?" tanya Andre menghalau resah.


"Gak masalah kok. Oiya, nanti aku mau ke perpustakaan kota. Mau cari novel terbaru," jawabnya santai.


"Baiklah, aku berangkat," ucap Andre sedikit tak rela.


Gadis itu tak peka, ia justru mengangguk tanpa ragu. Seolah tiada beda mau lelaki itu ada atau pun tidak.


"Hah ...."


Andre mengembuskan napas kasar. Segera melajukan mobilnya membelah jalanan.


Naina tampak bersiap untuk keluar, tak lupa ia poleskan make up natural yang membuatnya tampak segar dan cantik.


Gegas, ia memesan taksi online dan segera meluncur ke sana. Perasaannya ringan hari ini, tetapi sedetik kemudian ia sadar dan menepuk jidatnya kasar.


"Astaga! Aku belum cerita soal teror di kaca! Gimana ini? Mana udah setengah jalan lagi, nanggung banget mau putar balik. Gak papa kali ya, ke perpus sebentar. Lagi pula, di sana kan ramai. Gak mungkin terjadi apa-apa," gumamnya mensugesti diri untuk tetap tenang.


Taksi berhenti, Naina segera membayar dan masuk ke dalam gedung Klanmedia. Ribuan buku menyapa penglihatannya, gadis itu tersenyum sumringah dan menghirup aroma buku-buku dalam.

__ADS_1


Melangkah ringan menuju beberapa rak buku tentang novel percintaan, akhirnya pilihannya jatuh pada buku bersampul hitam dengan kerlap-kerlip yang tampak elegan.


"Kekasih Bayaran?" ucapnya dengan kejora yang berbinar.


"Wah, ini mirip yang aku jalani sekarang, pasti bagus nih, " gumamnya lagi merasa tertarik.


Gadis itu mengambil beberapa buku yang lain, segera memilih tempat duduk dan mulai membaca dengan tenang.


Tanpa ia sadari, sepasang mata terus mengikuti gerak-geriknya semenjak ia keluar dari apartemen.


Sosok itu mendekati Naina, duduk tak jauh dari tempat gadis itu. Namun, tiba-tiba segera bangkit lagi menjauh saat menyadari seseorang datang mendekati Naina.


"Kak Nai? Dunia emang beneran sempit ya? Kita ketemu lagi," ucap Abbas tersenyum pada Naina, yang ditanggapi acuh oleh gadis itu.


"Kamu gak lagi ngikutin aku kan?" tuduh Naina sinis.


"Astaga? Mana mungkin, aku udah tobat," ucap Abbas menggeleng tak percaya atas tuduhan Naina.


"Terus kamu ngapain di sini?" selidik Naina.


"Cari bahan bacaanlah, lagi pula ini tempat umum," sahut Abbas santai.


Naina terdiam, masuk akal juga yang dikatakan oleh lelaki gondrong di depannya ini.


"Oh gitu," jawab Naina sekenanya.


"Kak, jangan cemberut terus, ntar cepet tua loh," ucap Abbas jahil.


"Apa urusannya sama lo?" tanya Naina kesal.


"Jelas ada urusannya, mending menua bersamaku kan," ucapnya mengerling nakal.


Naina menimpuk kepala Abbas dengan buku, membuat lelaki itu meringis dan sedikit terkejut dengan reaksi Naina.


Buk!


"Aw! Sakit tau," sungutnya memegang kepala yang sebetulnya tak sakit sama sekali.


"Pergi sana! Ganggu aja!" usir Naina.


"Dih, galak amat."


Naina bangkit dan bersiap memukul Abbas lagi, tetapi lelaki itu sudah berlari menjauh dengan tersenyum menggoda. Membuat gadis itu jengah akan tingkahnya.


Naina bangkit bersiap pulang, kini ia tengah berdiri menunggu taksi pesanannya datang. Suasana parkir tampak lengang, mungkin kebanyakan orang tengah berteduh di dalam gedung.


Mengingat terik matahari sudah naik yang mulai terasa membakar kulit. Lagi, tanpa ia sadari. Sesosok misterius mendekatinya diam-diam.


Bak! Buk!

__ADS_1


Naina jatuh dan tumbang. Kepalanya mengeluarkan darah segar. Sosok itu tertawa senang.


__ADS_2