Kekasih Bayaran

Kekasih Bayaran
Mencari Wali


__ADS_3

Kekasih Bayaran Bagian 69


Oleh Sept


Rupanya Kavi hanya menakuti Winda, ketikan melihat ketakutan di mata wanita itu, Kavi langsung memeluknya lagi. Kini Ia bersandar di sofa, dan Winda rebahan di pangkuan pria tersebut.


"Capek tidak bolak balik Bali Jakarta terus Bali lagi?" tanya Winda sambil memainkan jari-jari Kavi.


Winda mulai berani menyentuh bahkan memainkan tangan pria tersebut. Sundah tidak segengsi seperti sebelumnya. Mungkin karena lelah menangis semalam. Ternyata jika Kavi pergi, cukup membuatnya da danya sesak. Seperti ada lubang besar di dalam sana.


Kavi sih senang sekarang, apalagi Winda tidak malu-malu saat sentuhan fisik. Sambil sesekali ia mengecupp pipi Winda, ia juga mengusap kepala Winda lembut dengan tangan satunya. Wanita itu sepertinya nyamannya, rebahan dan menjadikan pa hanya sebagai bantal.


"Kav ...!"


"Hemm!"


"Capek nggak?"


"Nggak! Ini belum apa-apa. Bolak-balik Bali Jakarta belum ada apan-apanya dari pada stay di Jerman tapi nggak bisa pulang."


Winda langsung bangun, kebetulan ia penasaran. Mengapa Kavi selama ini hilang seperti ditelan bumi. Meksipun dia juga menghilang. Tapi kan kadang ia merasa ingin dicari oleh pria tersebut, walaupun gengsi.


"Aku penasaran, mengapa kamu nggak pernah cari aku?"


Mendapat pertanyaan dari Winda, Kavi menghela napas panjang. Tidak ingin cerita, tapi wajah Winda sepertinya sangat penasaran. Akhirnya ia mengalah, mengatakan apa yang terjadi tiga tahun lalu.


"Mama koma pas ketika kamu menghilang."


Winda membekap mulutnya tidak percaya.


"Kenapa? Apa yang terjadi sama tante?" Wanita itu tambah penasaran. Rasa ingin tahunya sampai ke ubun-ubun. Tidak sabar menunggu cerita selanjutnya.


Kavi menarik napas dalam-dalam, kemudian membetulkan posisi. Sambil menarik Winda agar lebih dekat dengannya.


"Mendekatlah, akan aku ceritakan selama tiga tahun ini apa yang terjadi."


Winda langsung menurut, wanita yang keras kepala itu mendadak patuh. Ia pun duduk do dekat Kavi, membuat Kavi langsung memeluknya.

__ADS_1


"Aku mau mencarimu waktu itu, tapi sebuah petaka menimpa keluarga kami. Mama dan aku ribut besar. Kami berdebat di tangga, mama mencegahku untuk pergi. Kami mencoba merebut kunci mobil dari tanganku, hingga sesuatu yang buruk pun terjadi ... Mama jatuh dan koma. Tapi sekarang semua sudah seperti sedia kala. Kami membawa mama ke Jerman. Di sana ada dokter terbaik. Dan syukurlah, mama sudah membaik. Hanya saja ia jadi jarang bicara, sering murung dan suka menyendiri."


Setelah menyelesaikan cerita singkatnya, Kavi mempererat pelukannya. Ada kesedihan yang terasa, dan Winda dapat merasakannya.


"Ini karena aku kan, Kav?" tanya Winda dengan suara lirih. Tangannya mengusap sudut matanya. Mendengar cerita Kavi, membuatnya ikut merasakan kesedihan yang sama.


"Bukan, bukan karenamu."


"Andai kamu nggak ribut sama tante, mungkin semua nggak akan begini."


"Nah, ini yang aku hindari. Makanya aku memilih tidak cerita, tapi kamunya maksa." Kavi pura-pura kesal. Padahal ia lega, setidaknya Winda harus tahu. Tidak mencari wanita tersebut bukanlah kemauan Kavi. Rasa bersalah pada sang mama, membuat Kavi bertahan untuk tidak menemui Winda.


Tapi tiga tahun lamanya, hatinya terasa kosong. Apalagi sang mama meminta pulang ke Indonesia. Kebetulan sekali, Kavi sudah rindu tanah kelahiran. Dan yang paling ia rindukan adalah Winda.


"Lalu bagaimana tante sekarang?"


"Baik, seperti aku bilang tadi. Hanya sedikit murung."


"Kav."


"Aku takut."


"Apa? Takut kenapa?"


"Bagaimana kalau tante tidak merestui Kita?"


"Coba dulu. Mama orang baik."


"Ya, dia mungkin baik padamu, tapi tidak padaku."


"Ish ... Mama baik sama semua orang."


"Tapi Kav."


"Kenapa lagi."


Winda melepaskan pelukan pria tersebut. Kini ia duduk sambil memutar badan. Hingga keduanya saling menatap.

__ADS_1


"Tante suruh aku menjauh dari kamu."


"Benarkah? Kapan?" tanya Kavi. Tapi sangat santai sekali. Membuat Winda kesal.


"Saat habis pulang dari Mako waktu itu. Pas kita pulang ke rumah habis kena razia."


"Oh itu, itu kan dulu," jawab Kavi dengan senyum tenang.


"Kavi ... kamu kok begitu? Santai banget? Tante gak setuju kita menjalani sebuah hubungan. Kamu bisa tenang begitu?" tanya Winda marah.


"Udah nikah aja dulu. Nanti kalau udah jadi istriku mama bisa apa."


Winda melotot tajam. "KAVIII!"


Wanita itu tambah gusar, siapapun itu pasti ingin menikah dengan restu orang tua. Ini Kavi seolah mau mengajak kawinn lari.


"Kenapa kamu marah-marah Winda ... akan lebih bahaya lagi kalau kita tidak segera terikat. Aku gak bisa janji ... kamu bakalan aman dekat denganku. Aku laki-laki dewasa, sangat normal. Dekat dengan wanita sepertimu, bisa saja aku khilaf sewaktu-waktu," ucap Kavi dengan tatapan serius.


Winda langsung beringsut. Ia mengambil bantal sofa untuk ditutup di depan da danya. Mata Kavi mulai mesyumm. Membuat Winda bergidik ngeri merinding disko.


Melihat reaksi Winda, Kavi terkekeh keras. Kemudian langsung saja menarik bantal kecil itu. Membuangnya asal.


"KAVIII! Nggak mau!!!" teriak Winda panik.


"Makanya, cepat telpon ayahmu. Katakan padanya kita akan segera ke sana. Bagaimana pun juga dia walimu."


Winda menelan ludah. "Bagaimana dengan tante?"


"Ayahmu dulu, baru mama."


"Kalau tante gak setuju?" Winda menatap dengan gelisah.


"Kita tetap menikah!" jawab Kavi penuh ketegasan.


Bersambung


__ADS_1


__ADS_2