
Kekasih Bayaran Bagian 99
Oleh Sept
Malam ini Hanum dan Gadhi menginap, mereka tidak mau pulang terutama Hanum. Hanum yang dulu pernah memisahkan keduanya, kini malah terlihat sayang dengan Winda. Apalagi saat Winda kini hamil, kembar tiga malahan. Membuat Hanum tambah protective.
"Mama ada kenalan mantan suster yang ikut Shiva ke LN. Mama hubungi dia, ya? Biar kamu ada temennya."
Winda menolak halus, "Nggak, Ma. Kan sudah ada bik Inah."
"Beda, bik Inah bakalan sibuk ngurus rumah."
"Kan belum lahir, Ma. Sepertinya Winda kurang membutuhkan suster untuk waktu dekat ini, Ma."
"Jangan bilang begitu, kalau Kavi kerja, kalau kamu mau apa-apa, enak kalau ada sus."
Winda terpaksa senyum, tidak tahu apa yang mertuanya pikirakan. Dia bukan bayi, dan baru hamil trimester pertama, mertuanya sudah heboh booking suster.
"Mau, ya? Mama nanti hubungi susternya." Hanum terus saja mendesak menantunya itu.
Kavi mendekat dan merangkul pundak Winda. "Iyain saja, meski aku bakal bolak-balik kantor, tapi kalau kamu gak ada temennya, aku pasti gak fokus."
Dua lawan satu, akhirnya Winda pun pasrah. "Terserah Mama saja."
"Nah gitu, Mama juga gak khawatir kalau kamu ada temennya," ucap Hanum.
"Jangan khawatir, Ma. Pasti Kavi temenin!" sela Kavi sambil bercanda, Kavi dengan hangat memeluk Winda tapi istrinya itu tiba-tiba kembali mual.
"Maaf, Winda masuk dulu," pamit Winda buru-buru sambil menutup mulut.
Tap tap tap ...
Begitu Winda pergi, Kavi menghela napas panjang.
"Ma," panggil Kavi yang mau curhat. Lama juga ia tidak bicara dari hati ke hati dengan mamanya itu. Kebetulan Winda sudah masuk, mereka bebas bicara.
"Ada apa?" Hanum menatap curiga.
"Dulu, Mama pas hamil aneh-aneh tidak?"
Hanum mengeryitkan dahi, "Aneh bagaimana?"
Kavi menoleh, memeriksa ke belakang. Takut ada Winda.
"Mama walau hamil masih satu kamar sama papa?"
"Loh? Ya iyalah."
"Satu ranjang?"
__ADS_1
"Terus papamu mau tidur di mana kalau nggak di ranjang, Kav? Bisa encok, sakit otot kalau papamu suruh tidur di sofa! Aneh-aneh kamu ini."
Kavi diam sejenak, kemudian menatap wajah mamanya.
"Winda, Ma."
"Kenapa? Jangan nakutin Mama kamu ya!" Hanum mulai khawatir. Ada apa kok Kavi terlihat serius.
"Winda gak suka tidur dekat-dekat Kavi."
Hanum langsung melotot. Kemudian bibirnya menggembang, mengulas senyum.
"Oh ... kirain Winda kenapa, itu bawaan bayi." Hanum pun menghela napas lega.
"Bukan karena Winda mengada-ada?"
"Bukan! Memang ada yang seperti itu. Tapi Mama dulu sih nggak. Malah suka deket-deket sama papamu," ucap Hanum menggenang masa lalu. Apalagi saat mereka ke Mexico, Paris, Swiss, indahnya masa-masa itu. Mendadak Hanum jadi menggenang masa paling manis dalam hidupnya dulu.
"Kira-kira sampai kapan, Ma?" tanya Kavi yang membuat lamunan sang mama buyar.
"Tergantung, bisa sesaat ... bisa juga beberapa minggu."
Kavi langsung garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya sudah, Ma. Kavi lihat Winda dulu!" Kavi pun meninggalkan mamanya dengan berjalan lesu.
Di dalam kamar.
"Tidur sini lagi?" gumamnya.
Pria itu kemudian melirik Winda yang rebahan sambil bersandar pada sandaran ranjang.
"Sayang, punggungku sakit kalau tidur sofa terus!" Kavi merajuk.
Winda tanpa merasa bersalah langsung menjawab, "Tapi aku gak suka aroma parfumnya."
"Ya sudah, aku mandi lagi. Gak pakai parfum lagi. Tapi tidur bareng ya?" bujuk Kavi tidak menyerah. Winda hanya tersenyum. Benar saja, sesaat kemudian Kavi akhirnya mandi lagi. Ia ganti pakaian tanpa menggunakan parfum. Dengan percaya diri naik ke atas ranjang yang sama.
Winda yang semula bermain ponsel karena malah gak bisa tidur, langsung menggeleng menatap Kavi.
"Sayang ... mereka gak suka aromamu," gumam Winda sambil memperhatikan ekspresi kesal sang suami. Karena dibela-belain mandi tengah malam masih saja tidak mau.
"Punggungku sakit, Win!" Tidak mau mengalah, Kavi mencari alasan.
"Aku mualll!"
Kavi mengambil napas panjang, kemudian melepaskan kancing piyama yang ia kenakan.
"Sayang! Kamu ngapain?"
__ADS_1
Settt ...
Kavi langsung menarik selimut, dan masuk ke dalam bersama Winda.
"Cuma aroma sabun, jangan menolak lagi. Parfum ... aroma pewangi milti yang soft, udah aku buang. Jangan alasan aneh-aneh. Sudah gak pakai apa-apa. Cukup ngerjainnya ya ... ayoo tidur."
Winda beringsut, tapi Kavi dengan lembut merengkuh pinggangnya. Memeluknya dengan hangat.
"Aku gak aneh-aneh malam ini, pengen tidur sambil meluk aja!" ucap Kavi.
"Tapi, Kav ....!"
"Gak ada tapi-tapi!" Kavi mendengus kesal. Dan tiba-tiba Winda kembali merasakan seperti asam lambungnya naik, bumil itu mendorong tubuh suaminya lalu pergi ke kamar mandi.
Mendengar Winda mual-mual di kamar mandi, Kavi hanya bisa mengusap wajahnya pasrah. Sepertinya ia memang harus menjaga jarak dengan sang istri dengan berat hati.
'Bagaimana mereka lahir nanti?' Kavi langsung lemas. Perlahan ia menghampiri sofa, malam ini ia harus puasa lagi.
Tidak hanya satu dua minggu, sudah satu bulan berlalu tapi mereka masih tidur terpisah. Satu bulan puasa full, membuat Kavi jadi uring-uringan. Tapi tidak di depan Winda, ia marah-marah paling juga di perusahaan.
Satu bulan kemudian
Sore itu Kavi dalam perjalanan pulang. Lelah bekerja, lelah juga karena akhir-akhir ini tidurnya kurang nyenyak. Gara-gara tidak bisa memeluk Winda dan bermain dengan istrinya itu. Kavi jadi kurang bersemangat.
Tiba di rumah, ruang tamu terlihat sepi. Bibi sedang di depan membatu penjaga rumah membersihkan kolam. Kavi pun akan ke kamar untuk melihat istrinya, tapi ia mendadak haus. Akhirnya Kavi pun belok, memutuskan ke dapur mencari air dingin di kulkas.
"Tumben masak?" gumam Kavi melihat istrinya dari belakang.
Tap tap tap
Kavi hendak mengejutkan Winda, ia melangkah pelan dan saat sudah berdiri di belakang Winda, pria itu langsung melingkarkan lengannya di pinggang perempuan yang ia kira istrinya itu.
"Masak apa, Sayang?" bisik Kavi manja.
'Tubuhnya terasa hangat,' batin wanita yang dipeluk Kavi.
"Sayang, kamu ganti parfum ya ... aromanya wangi banget. Wangi apa ini? Strong banget, katanya masih mual," celetuk Kavi.
"Kamu kok kurusan?" tanya Kavi mulai tersadar.
Bersambung
Sopo sing mok rakot kui, Kav? Ngawur!
Siapa yang kamu peluk itu, Kav? Ngasal!
IG Sept_September2020
FB Sept September
__ADS_1