
Kekasih Bayaran Bagian 83
Oleh Sept
"Maaf, Pak. Saya permisi dulu ... suami saya sudah menunggu," pamit Winda dengan sopan. Ia kemudian menatap suaminya yang duduk tanpa melihatnya, agar pak Yudhistira paham. Bahwa ia sudah punya bahu untuk bersandar, dan Winda tidak ingin bersandar pada pria lain. Winda sendiri merasa ngeri saat mendengar ucapan bosnya itu. Ia merasa pak Yudhistira belum menerima kenyataan bahwa ia kini sudah menikah.
"Permisi!" ucapnya lagi. Sembari melangkah menjauh, Winda juga berguman.
'Gak bila lama-lama begini, pak Yudhistira kok meresahkan!'
"Sayang!" sapa Kavi kencang, membuat beberapa orang yang lewat langsung menatap padanya. Padahal Winda masih cukup jauh.
Kavi yang melihat Winda berjalan ke arahnya, langsung menghampiri istrinya itu. Sepertinya ABG yang baru jadian, matanya berbinar saat ketemu Winda. Baru juga gak ketemu sehari, tapi Kavi sudah rindu berat. Rupanya benar sekali apa kata Dilan, tetang arti sebuah rindu. Tau begini pasti Kavi tidak mau LDR. Ia harus menekan Winda agar mau ikut ke Jakarta bersamanya.
"Kencang sekali sih, manggilnya. Orang-orang pada lihat!" protes Winda saat keduanya sudah dekat.
"Gak apa-apa," kata Kavi sambil merangkul pundak Winda. "Mumpung masih sore, jalan yuk," tambah Kavi.
"Hemm, ayo."
Keduanya pun pergi, dan pak Yudhistira hanya bisa menatap dengan tatapan dingin di belakang mereka.
***
Di sebuah mall paling besar di kota Bali. Winda dan Kavi sedang menunggu antri untuk masuk ke gedung bioskop.
"Seru juga pacaran setelah menikah," celetukan Kavi sambil menggenggam tangan Winda.
Yang diajak bicara malah sibuk menyesap jus yang barusan dibelikan Kavi.
"Win ... Windaaa!"
Sruppppp
"Ya ... apa?" tanya Winda setelah menyedott setengah jus segar tersebut.
"Ish, gak apa-apa. Ayo masuk!"
Mereka berdua pun masuk setelah menyerahkan tickets. Winda kaget, kenapa penonton yang lain tidak ada yang duduk di sebelahnya.
"Kav, kamu ngerasa aneh gak sih? Kok bangku sederetan sama kita kosong?" tanya Winda lugu.
"Oh, itu. Gak usah dipikir. Ayo fokus. Lampu dah dimatikan, film mau mulai."
"Kan aneh?" Winda masih penasaran. Bioskop penuh, kecuali satu deret yang ia duduki bersama Kavi.
Seketika ia duduk menghadap Kavi. "Jangan bilang kamu sewa satu deret ini?"
Dan pria itu hanya tersenyum tanpa dosa.
"Ya ampun, kurang kerjaan!" protes Winda.
"Berisik, udah mulai. Ayo lihat ke depan!" celetuk Kavi.
"Ish!"
"Mau popcorn?" Kavi menyodorkan popcorn besar ke depan Winda.
"Nggak, kembung kebanyakan minum."
"Ya udah, aku makan sendiri."
Krauk ... krauk ...
"Jangan berisi," bisik Winda. Kavi hanya tersenyum, ia sengaja mencari perhatian dari istrinya itu. Seharian gak ketemu, sudah pengen jahilin Winda lagi.
Apalagi di sana tidak ada cahaya lampu, gelap-gelapan. Sangat cocok untuk melakukan sesuatu.
"Win!"
Winda yang fokus pada film horor sama sekali tidak peduli pada panggilan pria di sebelahnya.
"Winda!"
__ADS_1
"Hemmm ... seru nih!"
"Apanya yang seru. Manusia di make up seram apanya yang seru!" celotehnya.
"Katanya mau nonton."
"Ya jangan horor. Yang romance gitu ... ada itunya! Biar tambah semangat!"
Winda langsung menatap Kavi.
"Ada apanya?"
"Ada ininya!"
Cup
Winda mendorong da da bidang tersebut. Malu, meski gelap kan banyak orang.
"Nanti kalau pulang, Kav! Jangan macam-macam di sini!" bisik Winda sambil mencubit pinggang suami barunya itu.
"Keluar sekarang yuk," ajak Kavi kemudian.
"Belum selesai kan baru beberapa menit!"
"Udah, pulang sekarang aja."
"Ngapain?"
"Apa ke hotel, di depan aku lihat ada hotel."
"KAVIII!"
Terdengar suara Kavi yang menahan tawa.
"Ayo, dah tegang juga!" bisik Kavi dengan sangat jahil. Alhasil ia harus menerima cubitan kecil di pinggangnya bertubi-tubi.
"Jangan berbisik! Kalian menganggu! Kalau mau pacaran, sana di luar!" celetuk seseorang. Dari suaranya sepertinya mbak-mbak.
"Gara-gara kamu!" ucap Winda lirih.
Kavi seolah tidak peduli, ia malah mencari tangan Winda. Kemudian menggengam tangan itu. Sesekali mengelitik telapak tangannya.
"Ayolah, Kav! Kita bisa diusir karena berisik!"
"Filmnya gak seru, ayo bikin film sendiri!"
"Aku marah loh ya, kalau kamu tetep jahil begini!"
"Woi! Ini bukan bioskop nenek kalian. Bisa nggak sedikit saja punya etika?" protes penonton yang lain.
"Kav ... sepertinya kita pergi saja, deh!" bisik Winda. Dan Kavi pun tersenyum puas. Dengan senang hati ia meninggalkan gedung tersebut.
Setelah keluar, wajah Winda yang sudah terlihat terang karena sinar lampu, tampak masam karena ulah Kavi.
"Lain kali gak usah ngajak nonton!" Akhirnya Winda merajuk.
"Jangan khawatir, Kita sepertinya salah tempat. Memang yang paling cocok buat Kita itu ... itu!"
Kavi menunjuk gedung hotel yang terlihat jelas di jendela kaca.
"Daripada check in, kita pulang aja."
"Sayang banget, udah deket juga."
"Mending di apartment, sampai puas."
Mendengar kata puas, otak Kavi mulai connect.
"Oke, sampai puas!"
"Cih!"
Keduanya pun pulang, kencannya gagal karena Kavi tidak fokus. Pikirannya hanya terpusat pada ranjang. Dasar pengantin baru, maunya mompa terus. Hanya menghabiskan stok shampoo di Indoapril. Bagaimana tidak, sejak menikah, Winda harus 3 sampai 5 kali keramas dalam sehari. Pemborosan!
__ADS_1
***
Apartment
Baru juga melangkah masuk, Kavi langsung mengunci pintu dan melepaskan kancing bajunya. Yang tersisa hanya celana.
"Aku mandi dulu, kaviiiii!" ucap Winda dengan wajah memelas.
"Dari tadi kok mengulur waktu, kamu udah bosan ya sama ini?" Kavi mulai melakukan trick untuk mengelabui Winda.
Winda menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ampun deh suaminya, benar-benar tidak bisa istirahat. Gas poll rem blong.
"Bukannya bosan ... tapi kan."
"Oke ... kamu pilih LDR, kamu juga suka ngulur-ngulur. Tadi diajak ke hotel gak mau, sekarang alasan lagi. Oke ... kamu sepertinya memang tidak menyukainya."
"Bukan itu!"
"Nggak apa-apa!" Kavi memasang muka jutek dan dingin. Pria itu juga meraih bajunya lagi.
'Ya ampun, suamiku ngambek?' batin Winda.
Winda pun mendekati Kavi, kemudian langsung melingkarkan lengannya di leher Kavi.
"Aku suka kok, tapi Kita habis dari mana-mana. Badan aku lengket. Makanya aku mau mandi dulu."
"Alasan!" Kavi memalingkan wajah, padahal hatinya menertawakan Winda yang gelisah membujuk dirinya.
"Gak alasan, oke ... oke ... Kita lakuin sekarang!"
Bukkkk ....
Dengan keras Winda mendorong Kavi ke sofa, membuat pria itu langsung terduduk dan bersandar pada sofa tersebut. Tidak hanya itu, Winda juga langsung duduk di pangkuan pria tersebut. Menatap Kavi dengan intense. Tapi matanya tiba-tiba terasa perih.
"Jangan marah, aku gak suka kamu marah. Kamu tahu kan, aku cuma punya kamu, Kav."
Kavi tersadar, ada tatapan kesedihan di wajah istrinya itu. Sepertinya Winda memiliki masalah. Tapi belum cerita padanya.
"Hei ... aku cuma bercanda, kenapa jadi mellow begini. Aku gak marah, kenapa marah? Sumpah ... dari tadi aku cuma mau godain kamu. Sudah, kamu jelek kalau begini!" ucap Kavi sambil mengusap lembut pipi Winda.
"Bercanda? Jadi kamu gak marah?"
Kavi menggeleng. Dan Winda pun beranjak untuk berdiri.
"Eitss, mau kemana?"
"Mandi!" jawab Winda polos. Tidak jadi merayu suaminya.
"Tanggung!"
"Eh!" Winda terkejut ketika tangan Kavi mendadak masuk dalam bajunya. Pria itu melempar senyum kemudian merampas bibir manis Winda. Tidak menunggu lama, ruang tamu pun mulai berantakan. Baju di mana-mana.
Ting Tung
Saat lagi asik di atas sofa, malah bel berbunyi. Di depan ada Kadek, ia mau mengambil beberapa barangnya. Sebenarnya sudah memiliki kunci cadangan. Tapi gak enak, karena pemilik adalah pengantin baru. Takut yang sudah-sudah kembali terulang. Alhasil ia pun bediri lama menunggu di depan pintu.
Ting Tung
"Siapa sih yang ganggu?" desis Kavi yang aksinya sudah mirip baju viral di tok tok.
Sedangkan Winda, ia sudah lemas tidak berdaya akibat monopterus yang selalu minta lebih dan lebih. Sampai ia kelelahan.
"Win!" panggil Kadek. "Gue masuk, ya?" teriak Kadek karena butuh memory card yang tertinggal di dalam laci kamarnya.
Seketika Kavi dan Winda langsung berhamburan kocar-kacir menghilangkan bekas pertempuran mereka di ruang tamu.
KLEK
Bersambung
Bahaya bertamu di ruang pengantin baru emang horor. Lebih seram dari pada rumah hantu.
__ADS_1