
Saat mobil Laura melaju di depannya mobil mereka Pak supir nya kaget melihat mobil tersebut tiba-tiba memotong jalannya. Untung saja ia dapat mengerem menepi sedikit kalau tidak tentu mereka sudah tabrakan.
"Mobil gila mungkin pengendara nya sedang mabok Pak!" ujar Dewa tanpa mengetahui itu mobil Laura karna mobil yang di pakai Laura selalu berganti-ganti sehingga Dewa tidak mengenalinya.
"Iya mungkin itu Dik," sahut Pak Supir.
"Sekarang kita mau kemana Dik?" tanya Pak Supir.
"Jalan saja Pak di perempatan jalan nanti aku kasi tau arah selanjutnya," sahut Dewa.
"Sebenarnya Adik ini mau kemana? maaf kepo," ujar Pak Supir sungkan.
"Hem... sebenarnya aku juga belum paham jalan sini Pak, aku bingung mau bilang mau kemana. Aku tau cuma arah nya saja menuju kota ku," jelas Dewa.
"Adik mau ke kota mana bicara saja mungkin saya bisa bantu."
"Sebenarnya saya mau pergi ke kota S Pak!" jawab Dewa jujur.
"Ooh kalau begitu benar jalan nya sini, tapi di batas nanti saya tidak bisa lanjut mengantarkan ketempat tujuan mu. Karna taksi antar kota di larang memasuki daerah tanpa ijin dari atasan." jelas Pak Supir.
"Oh tidak apa-apa Pak, yang penting aku sudah sampai di batas aku bisa lanjut taksi lain lagi Pak."
"Baik lah Dik," Supir kembali pokus.
Mereka pun lanjut jalan sampai batas kota.
Mobil Laura sudah hampir sampai batas kota karna ia ngebut ia tau tujuan Dewa pasti akan pulang ke kota nya. Di batas kota Laura sudah menugaskan anak buah nya untuk menyamar jadi supir taksi siap menjemput Dewa.
Mobil taksi Dewa sudah sampai batas saat nya iya turun dari taksi tersebut.
"Makasih Pak atas tumpangan nya," ucap Dewa pada Supir taksi sambil memberi beberapa lembar uang.
"Sama-sama Dik, uang nya lebih tunggu saya ambil kembalian nya dulu."
"Ambil saja Pak," ujar Dewa yang buru-buru.
"Oh makasih Dik, semoga sampai tujuan dengan selamat," ujar Pak Supir mendoakan.
__ADS_1
"Amin. Makasih Pak!" Dewa pun lanjut berjalan di tepi jalan sambil melihat-lihat taksi yang mungkin masih ada.
"Aduh ini sudah hampir subuh mana mungkin ada taksi lagi. Yah sudah lah aku akan menunggu besok pagi saja. Untuk saat ini aku harus cari tempat dulu untuk berlindung."
Saat itu hujan deras Dewa kalang-kabut cari tempat untuk berteduh tiba-tiba sebuah mobil menawarkan nya untuk menumpang.
"Wah kebetulan sekali," pikir Dewa merasa lega. tanpa di ketahui nya mobil itu adalah mobil anak buah nya Laura yang siap akan mengantarkan nya lagi ke apartment kembali.
"Maaf anda mau kemana? silahkan masuk biar saya antar ke tempat tujuan," tawar nya.
"Makasih banyak Pak, kebetulan saya memang cari tumpangan," ucap Dewa merasa lega.
"Anda mau kemana?" tanya supir itu.
Dewa menyebut kota nya dan ia pun masuk dalam mobil.
Anak buah Laura tersebut sudah memberi info pada Laura kalau target mereka sudah memasuki mobil tanpa sedikitpun curiga kalau itu rencana mereka.
Mobil melaju selama setengah jam tanpa di sadari Dewa balik ke jalan semula menuju kota yang tadi ia lalui. Lupanya Dewa sedang ketiduran itu adalah kesempatan bagus buat anak buah Laura membawa Dewa ngebut dan hampir sampai di kota.
Dewa baru sadar saat perjalanan mereka sudah jauh hampir sampai di apartemen Dewa lagi.
"Lho bukan nya ini kota yang barusan aku lewati? kenapa balik lagi kesini?" tanya Dewa heran.
"Pak, sekarang kita dimana? Apa sudah sampai di kota S?" tanya Dewa baru menyadari kalau ia sudah tertidur.
"Belum sob, sebentar lagi sampai," sahutnya.
"Kita salah jalan Pak ini bukan kota yang ku maksud," terang Dewa sambil melihat di jalanan.
"Kamu tenang saja, tidak mungkin salah kok," sahut supir taksi gadungan itu.
Saat di seperempat jalan mobil itu berhenti. Melihat sebuah mobil di depan nya dan itu mobil Laura.
"Lho itu kan mobil yang menyerempet memotong jalan tadi.
"Pak kenapa kita berhenti di sini?" tanya Dewa kaget dan tidak mengerti apa sebabnya.
__ADS_1
"Seseorang ingin bertemu kamu. Maaf anda sudah terjebak jebakan kami hahahaha...," Supir gadungan itu tertawa dan memanggil sejumlah laki-laki anak buah Laura juga. Mereka dengan sigap nya langsung nongol entah dari mana asalnya mereka langsung menghampiri Dewa dan mengikat tangan dan kaki Dewa agar tidak melarikan diri. Mereka membawa Dewa ke arah mobil di depannya.
"Apa-apaan ini siapa kalian!" ucap Dewa kaget.
Seorang wanita turun dari mobil di depan Dewa dan Dewa mengenalinya.
"Laura?" seru Dewa tidak menyangka.
"Yah apa kabar mu?" Laura terseyum licik.
"Lepasin... lepasin... dasar brengsek ternyata aku telah terjebak oleh mu. Lepasin aku Laura. Aku mau pulang!" tariak Dewa berusaha ingin melepaskan dirinya dari ikatannya tali yang cukup kuat. Dewa tidak mampu membuka tali tersebut ia mengerang kesakitan sebab ikatan itu ditarik oleh anak buah Laura dan menyeretnya mendekati mobil Laura.
"Bagaimana dengan perjalanan nya Dewa? menyenangkan bukan?" Laura memandang sinis.
"Laura aku mohon! saat ini aku benar-benar tidak bisa berlama-lama di sini aku harus pulang Laura," lirih Dewa meminta.
"Pulang? Apa gak salah dengar aku? sesuai perjanjian kita kamu tidak boleh pulang saat aku belum menemukan seorang suami, apa kamu telah melupakan janji kontak itu?"
"Cukup Laura, hentikan semua ini! Aku akan membayar semua biaya yang telah kamu keluarkan untuk ku, asal kamu ijinkan aku pulang," pinta Dewa.
"Tidak semudah itu Dewa! kamu tau kan kalau aku masih perlu kamu?" ujar Laura mendekati Dewa.
"Pliss Laura aku harus menemui Bella saat ini. Bella membutuhkanku!"
"Bella? siapa dia?"
"Calon kekasih ku, aku tidak bisa melanjutkan misi kita lagi. Aku akan segera pulang tolong Laura jangan paksa aku!"
"Hanya sebatas calon itu tidak begitu penting!" ucap Laura ngegas.
"Tapi dia penting buat aku Laura! pliss aku mohon..." pintanya lagi.
Laura tetap berisi keras mengajak Dewa balik ke apartemen nya lagi dengan bantuan beberapa anak buah nya Laura pun berhasil membawa Dewa kembali.
Dewa diam dengan pasrah sambil memikirkan cara bagaimana mengatasi masalah nya.
Seketika Dewa terseyum menemukan ide baru buat mengelabui Laura. Setelah membawa Dewa kembali ke apartemen Laura pun masuk apartemen juga. Tidur di kamar lain sedangkan anak buah nya masih berjaga di ruang tamu sabagian di luar untuk berjaga-jaga takut Dewa kabur lagi.
__ADS_1
Laura menugaskan dua satpam lagi untuk memantau tempat itu untuk memperketat pengawasan terhadap Dewa. Karena ia tidak mau Dewa kabur sebelum misinya berhasil.