Kekasih Bayaran

Kekasih Bayaran
17


__ADS_3

Purnama 15," ucap Andre pelan.


"Sialan! Siapa sebenarnya dia?" geram Andre.


Rasa mual menyelimuti. Gegas ia membuang kotak dan semua isinya. Napasnya memburu karena emosi, tangannya terkepal kuat.


"Untung saja Naina belum lihat," lirihnya menghela napas.


"Belum lihat apa, Ndre?" tanya Naina dari arah belakang Andre.


Tubuh lelaki itu menegang, berusaha untuk tenang. Ia menghadap Naina dan melihat kejora itu membulat, penuh tanya.


"Bukan apa-apa, ayo balik," sahut Andre mendorong Naina kembali.


Gadis itu mengernyit, kedua alisnya bertaut. 'Apa yang tak boleh diketahui?' batinnya.


Keduanya kembali ke kamar, Andre berusaha tenang meski sebenarnya sangat resah.


"Nai, besok kita kembali ke Bogor ya," ucap Andre ragu.


"Kenapa?" tanya Naina sedikit kecewa.


"Aku ada pekerjaan mendesak."


"Emm, baiklah."


Malam semakin larut, keduanya segera terlelap menuju peraduan.


.


Pagi buta sekali, Andre membangunkan Naina yang masih terlelap. Gadis itu mengucek mata, menetralkan penglihatan.


"Andre? Jam berapa ini? Kok udah rapi banget?" tanya Naina menepuk pipinya agar sadar.


"Jam enam. Kita harus pulang sekarang, Nai. Ada hal darurat," lirih Andre.


"Ada apa, Ndre? Apa yang terjadi!"


"Nanti aku kasih tau di jalan, sekarang kamu harus bersiap."


Gegas Naina bangkit dan bersiap, separuh bawaan telah dikemas Andre rupanya. Ia hanya perlu membereskan barang pribadi yang sensitif.


Usai chek out, keduanya segera meluncur pulang ke Bogor. Andre mengulurkan sandwich yang sudah ia siapkan sebelumnya, Naina pun menerimanya.


"Ndre, sebenarnya ada apa?"


"Perusahaan keluarga lagi bermasalah, Nai," lirih Andre.


Deg!

__ADS_1


Seketika Naina tertegun, apa yang terjadi? Gadis itu takut ini semua berhubungan dengannya. Dalam hati Naina mengutuk diri sendiri, 'Apa aku memang pembawa sial?' batin gadis itu terenyuh.


"Ndre, kenapa bisa?"


"Itu ...."


"Awas! Andreee!" seru Naina histeris.


Bruak!


Melewati pertigaan. Sebuah Jeep hitam dari kanan menabrak mobil keduanya dari samping hingga terpental, ringsek menabrak bahu jalan.


Kepulan asap muncul di mana-mana, Naina mengaduh memegang pelipisnya yang mengeluarkan cairan kental berwarna merah, darah! Ia berusaha melihat keadaan Andre di sampingnya.


"Andre! Bangun, Ndre!"


Sesak Naina melihat kondisi Andre yang terjepit badan mobil, ia tak sadarkan diri dengan kepala bersimbah darah. Banyak serpihan kaca yang menancap di kulitnya.


Penglihatan Naina mulai kabur, tertutup bulir bening yang terus menganak sungai. Bersusah payah, ia mencoba menggerakkan pintu, keluar.


Sialnya, pintu mobil pun rusak karena benturan yang cukup kuat, Naina terisak karena tak berdaya. Menangisi Andre yang tampak mengenaskan.


"Ndre, kamu harus bertahan, kamu kuat!" serunya tertahan.


Gadis itu menggapai tangan Andre yang lemas dan terasa dingin. Menggenggamnya erat. Tak berapa lama terdengar suara sirine yang memekakkan telinga, berbondong-bondong orang tampak mendekat, bersamaan dengan kesadaran Naina yang mulai menghilang.


.


"Andreee!" jerit Naina tersadar.


Ia melihat ke sekeliling, ruangan berwarna putih, bau obat yang menyengat, dan juga infus di tangan.


Ia melihat ke luar jendela, langit tampak jingga dengan gumpalan awan putih di sekelilingnya. Ternyata hari sudah sore.


Gadis itu bangkit dan turun dari ranjang, dengan terseok-seok ia menyeret infus, menuju keluar ruangan.


Ia celingak-celinguk mencari Andre, hatinya terasa sesak dan sakit yang teramat. Melihat seorang suster, ia pun menghampiri dan bertanya.


"Permisi, Sus. Pasien atas nama Andre Kurniawan ada di mana ya?"


"Oh, pasien yang masuk tadi pagi? Dia ada di ruang ICU. Sebelah sana." Tunjuk suster.


"Terimakasih, Sus."


Suster itu mengangguk dan berlalu pergi, Naina pun berjalan menuju ruangan tempat Andre dirawat.


Sebuah ruangan tertutup di depan mata, saat ia ingin membuka pintu. Tiba-tiba seorang suster mencegahnya.


"Nona siapa ya?" tanyanya ramah.

__ADS_1


"Sa-saya ... saya."


Gugup Naina, lidahnya terasa kelu. Saat itu, ia tersadar. Bahwa lelaki yang amat ia khawatirkan, tak memiliki hubungan apapun dengannya.


Mana mungkin ia bilang kekasih kontrak? Bukankah ia akan menjadi bahan lelucon?


Siapa yang akan percaya? Tak semua orang mengerti akan profesinya.


"Istrinya ya?" tanya Suster itu lagi.


Naina mengangguk lemah, ia tak tahu harus menjawab apa. Tangannya gemetar menahan sesak dalam dada.


"Mari saya antar masuk, kondisi pasien masih kritis. Lukanya cukup parah saat ia tiba."


Pintu terbuka, menampilkan sosok yang selama hampir sebulan terakhir ini bersamanya. Lelaki tampan dan berwibawa itu, kini tergolek lemah tak berdaya.


Banyak selang yang terhubung ke tubuhnya, alat bantu nafas, monitor, infus dan lain-lain. Kejora itu berembun lagi, membuat pandangannya memburam.


"Saya tinggal dulu ya, Nona juga jangan terlalu lama di sini, jangan lupa istirahat dan pulihkan kesahatannya dulu," pesan Suster itu berlalu pergi.


Naina duduk di samping ranjang, pelan ia raih tangan Andre. Terasa dingin dan tak ada tenaga, lagi, bulir itu menggalir deras.


"Andre ... kenapa bisa jadi begini? Tolong bertahanlah, aku mohon," isak Naina memeluk tangan lelaki itu.


Puas menangis, Naina mencoba tersenyum. Kembali ke kenyataan yang terasa pahit dan menyakitkan. Ia merenungi nasibnya yang amat rumit.


"Ndre, jangan pergi. Kumohon bertahanlah, masih ada yang belum kusampaikan padamu, masih banyak hal yang belum kita lakukan bersama, hiks."


Tak ada respon dari Andre, hanya isak tangis Naina yang menggema di dalam ruangan. Mengajak berbicara, meski lelaki itu tak dapat menjawab.


Siluet merah saga itu mulai tenggelam, bersamaan langit yang mulai menggelap. Menyisakan seorang gadis yang menengadah menatap langit, memohon ampun lagi pertolongan.


.


Esoknya, saat jam besuk diperbolehkan, Naina segera duduk di samping Andre dan mengajaknya bicara, tak ingin putus harapan. Ia mencoba menggenggam jemari itu selagi bisa.


Luka di tubuh Naina tak begitu parah, terkadang ia berfikir, kenapa tak dirinya saja yang kena luka parah itu? Kenapa harus orang -orang di sekitarnya yang terluka? Perasaan bersalah itu terus menghantuinya.


Siangnya, ia sudah bisa melepas infus. Saat akan mengunjungi Andre, ia mematung di lorong rumah sakit.


Di depan pintu ruangan Andre, ada Tuan Kurniawan yang tengah menenangkan istrinya yang tersedu-sedu. Tak lupa di sebelahnya, seorang gadis berpakain modis dan glamour tengah memeluk lengan sang Nyonya.


Ternyata pihak rumah sakit sudah menghubungi keluarganya saat Naina dimintai keterangan kemarin. Harapannya semakin tipis untuk bisa bertemu.


Melihat seseorang yang tak asing, Ayesa bangkit dengan amarah. Ia menerjang Naina dengan umpatan dan sebuah tamparan yang terasa panas di pipi Naina.


"Ini semua gara-gara, lo! Dasar pembawa sial! Coba Andre sama gue, gak bakal kejadian kayak gini!" hardiknya mendorong Naina hingga gadis itu terhuyung.


Nyonya Kurniawan menatap keributan itu dengan tatapan entah, ia tak ingin menyalahkan gadis itu maupun mengasihaninya. Di dalam hati seorang ibu, hanya anaknyalah yang utama saat ini.

__ADS_1


__ADS_2