Kekasih Bayaran

Kekasih Bayaran
Aku Hamil


__ADS_3

Kekasih Bayaran Bagian 89


Oleh Sep


Tok tok tok


"Lo ngundang siapa lagi, Win?" Kadek menatap Winda sembari menunggu jawaban. Mereka berdua melirik ke arah pintu yang jaraknya hanya beberapa meter dari mereka duduk.


"Bentar, gue lihat dulu," ucap Winda. Ia beranjak dari tempat duduknya, sekilas ia melihat Kavi mengobrol dengan salah satu teman kerjanya. Seorang pria, dan sepertinya mereka sefrekuensi. Winda baru ingat, teman kerjanya itu memang suka alam. Paling tidak setahun sekali rekannya itu mendaki gunung. Dan sepertinya, Kavi sedang membahas tentang pendakian di beberapa gunung yang ada di Indonesia.


Sambil jalan ke depan Winda tersenyum. Ia jadi ingat waktu dulu awal mula kenal dengan Kavi. Ketika mereka ikut outbound yang diselengarakan oleh global Tourshine Groups. Bibirnya menggembang, mengingat bagaimana ia salah paham pada Kavi, dan sangat jutek sekali pada suaminya itu. Eh tidak tahunya pria itu malah kini jadi suaminya.


Winda pun menggeleng, kok malah melamun. Ia pun menyentuh knop pintu lalu perlahan membukanya.


KLEK


Suara pintu terbuka, ketika pintu sudah terbuka sempurna, dahinya mengkerut.


"Maaf, cari siapa Mbak?" tanya Winda.


Seorang gadis dengan pakain elegant masuk, dress yang dikenakan berwarna merah cabai, bibirnya merona, cantik sih, seperti model di majalah fashion.


"Mbakk!" panggil Winda yang melihat wanita yang cantik itu langsung merangsek masuk.


Winda pun menyusul si gadis cantik tersebut, yang ternyata langsung duduk di sebelah Kavi sambil marah-marah.


"Aku hamil, Kav!" ucap wanita itu yang membuat semua orang geger.


"Bicara apa kamu ini?" Kavi langsung menepis tangan wanita yang menyentuh tangannya.


"Dua bulan, gua hamil dua bulan!"


DEG


Mata Winda langsung terasa perih. Apalagi semua orang kini malah menatapnya. Bagaimana bisa ada wanita yang mengaku hamil anak suaminya?


"Kavi! Apa ini?" tanya Winda dengan suara bergetar.

__ADS_1


"Aku gak tahu, Win! Kenal saja nggak!" elak Kavi.


"What? Tega kamu sama aku!" Wanita bernama Celina itu langsung merogoh ponsel dari dalam tas. Ia kemudian memperlihatkan foto-fotonya bersama Kavi saat di Jerman.


Ia langsung memberikan ponselnya pada Winda. Membuat Winda langsung mendorong tubuh Kavi.


"Jahat kamu, Kav!"


"Win, aku jelasin!"


Winda menggeleng. Sedang Celine malah merangsek mendekat Kavi, membuat Winda semakin marah.


"Tenang, Win!" Kadek mendekat, kemudian menjauhkan Winda dari Kavi dan wanita itu.


"Kamu harus tanggung jawab!" sela Celine saat semuanya masih tegang.


"Kalian berdua! Pergi dari sini!" ujar Winda marah.


"Udah, Kita pergi aja. Aku hamil anak kamu!" ucap wanita cantik itu dengan sangat percaya diri. Membuat Winda tambah marah.


Sementara itu, terlihat menyesal. Kemudian mencoba mendekati Winda.


"Win!"


"Gue bilang jangan mendekat!" teriak Winda dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Ia mendorong keras Kavi sampai membentur kursi.


Semua orang terlihat bingung harus bagaimana. Maunya merayakan pesta perpisahan, dan sepertinya malah jadi perpisahan sungguhan bagi Kavi dan Winda.


"Aku jelasin!" sela Kavi yang mau bicara.


"Keluar! Keluar dari sini!" Winda menunjuk pintu, meminta Kavi pergi.


"Dengerin dulu!"


"Udah, Beb! Ayo Kita pergi!" timpal wanita cantik yang memakai dress merah cabai tersebut.


"Kalian berdua pegi dari sini!" sentak Winda frustasi. Membuat para tamu undangan tercenggang.

__ADS_1


"Wind! Sabar, Win!" Kadek mengusap bahu sahabatnya itu. Tapi Winda yang marah, tidak mau tubuhnya disentuh. Ia sangat marah, hingga tidak bisa berpikir jernih.


"Kalian semua ... maaf, tolong tinggalkan tempat ini."


Winda yang kacau, langsung melangkah masuk ke kamar, dan BRUAKKK ... terdengar suara pintu yang dibanting. Sepertinya Winda benar-benar merasa dunianya sudah hancur.


"Dek! Kamu Keterlaluan! Dia sampai nangis marah gitu. Awas kamu kalau istriku sakit!" ancam Kavi lalu mengetuk pintu.


"Sayang ... Buka pintunya!"


"PERGI!"


Tok tok tok


"PERGI DARI SINI!" teriak Winda kencang.


Mendengar teriakan Winda, Kavi langsung menatap tajam ke arah Celine, Kadek dan para rekan kerja Winda.


"Awas ya kalian semua. Sampai Winda minta cerai, kalian aku jamin langsung jobless!"


"Ish!" Semua langsung mencebik bersama-sama.


Sesaat kemudian


Setelah mengancam semua teman-teman Winda, Kavi kembali bersuara di depan pintu kamar.


"Aku masuk, ya?"


Kavi sudah menduga ini akan terjadi, Winda akan mengunci diri di kamar. Ia pun mengambil kunci cadangan, lalu membuka pintu kamarnya.


"AKU BILANG PERGI!" teriak Winda lagi sambil melempar barang-barang. Untung saja tidak kena sasaran karena Kavi dengan gesit menghindar.


Winda yang sangat marah, tiba-tiba menangis. Tangisnya pecah ketika semua teman-temannya meniup terompet dan meletuskan balon berisis serpihan kertas warna-warni yang memgkilap.


"Kadek, Sayang! Ini ide Kadek! Marah sama dia saja!" Kavi meraih tubuh Winda dan langsung memeluknya. Winda pun semakin menjerit, ia menangis lepas seperti anak kecil.


Bersambung

__ADS_1


Bercandanya gak lucu ya. Ini mah sport jantung. Ketika ada wanita lain ngaku hamil anak suami. Tarik napas dalam-dalam ... Bukan demi konten. Tapi hanya ingin ngerjain Winda. Anggap sebagai salam perpisahan yang pasti tidak terlupakan dari para best friend.


__ADS_2