
Kekasih Bayaran Bagian 85
Oleh Sept
"Kenapa?" tanya Kavi sambil mengusap lembut kepala Winda. Kavi dapat merasakan, ada kegelisahan di mata istrinya itu.
"Aku belum siap."
Kavi menghela napas panjang, "It's okay. Kita pelan-pelan." Tangannya kemudian menarik tubuh Winda untuk dipeluk.
"Kamu nggak marah?" tanya Winda dengan suara lirih.
"Kenapa harus marah? Kamu hanya belum siap, bukan berarti tidak mau. Lagian kita juga baru menikah. Tenang saja, kamu itu wanita yang paling beruntung karena memiliki suami sepertiku ... suami paling pengertian," ucap Kavi memuji dirinya sendiri.
"GOMBAL!" celetuk Winda kemudian mempererat pelukannya.
Kavi pun terkekeh, kemudian mengecupp puncak kepala istrinya itu. Ya, mungkin ia terlalu cepat. Ia harus lebih bersabar, karena Kavi sudah tahu bagaimana sejarah keluarga Winda yang tidak biasa tersebut.
Rasanya terlalu sia-sia jika ia marah atau kecewa saat ini, karena itu tidak sebanding dengan apa yang sudah mereka berdua lewati bertahun-tahun. Toh Winda tidak kb, asal ia rajin pasti benihnya akan tumbuh, begitulah yang ada di dalam benak pria tersebut.
"Ya sudah, sini aku bantu biar cepet selesai," ucap Kavi kemudian setelah melepaskan pelukannya.
"Gak usah, tinggal dikit lagi kok."
"Hemm ... aku ke kamar dulu."
"Ya."
***
Winda baru masuk kamar setelah membereskan sisa makan malam mereka. Setelah mematikan semua lampu yang tidak terpakai, ia pun masuk kamar.
"Tumben sudah tidur duluan?" gumam Winda saat melihat Kavi ketiduran.
Winda pun ke kamar mandi, membersihkan wajah sebelum berangkat tidur. Saat ia kembali, Kavi masih tidur.
"Beneran apa pura-pura?" batin Winda kemudian pelan-pelan berbaring di sisi ranjang yang kosong.
Benar dugaan Winda, mana mungkin suaminya itu tidur duluan. Itu bukanlah gaya Kavi, terbukti ketika ia akan memejamkan mata, lengan Kavi langsung menarikan.
__ADS_1
"Sudah ku duga!" cibir Winda kemudian tersenyum remeh. Dasar Kavi, sepertinya mau ngibulin si Winda.
"Lama banget!" protes Kavi.
"Aku sampai ngantuk," tambah pria tersebut sembari memasang muka cemberut.
"Cuci muka dulu tadi. Ya udah sekarang ayo tidur. Matanya dah merah gitu, pasti ngantuk."
"Iya, ayo tidur!"
KLIK
Kavi mematikan lampu, saat ruangan menjadi gelap, Winda tersenyum getir. Ia pikir Kavi beneran mau diajak tidur, tapi tidak taunya tetep saja tidak mau absen.
***
Beberapa hari kemudian.
Mereka sudah ada di sebuah Bandara yang ada di Bali. Pagi ini Winda mengantar Kavi dulu, baru kemudian ke kantor.
"Jangan capek-capek kerjanya dan gak boleh lembur, nanti kalau kelelahan, aku jamin langsung aku jemput!"
"Aku serius!"
"Iya, Sayang!"
Kavi yang tadi mukanya masam karena harus pisah, langsung sumringah saat Winda memanggil dengan sebutan sayang. Jarang-jarang istrinya itu manggil kata sayang.
"Ya sudah, aku masuk ke dalam. See you sabtu depan." Kavi memeluk Winda dan sepertinya berat sekali melepaskan istrinya itu.
"Hemm ... masuk sana, nanti ketinggalan."
Pria itu mengangguk, kemudian mengecupp singkat kening Winda. Lalu berjalan mundur sambil melambaikan tangan.
"Daaa!"
"Daaa!"
Setelah berpisah di Bandara, Winda pun kembali ke tempat di mana ia parkir mobil. Saat baru memasang sabuk pengaman, ponselnya berdering. Lagi-lagi dari nomor ayahnya. Winda menatap sebentar, kemudian mengeser logo hijau.
__ADS_1
"Ya."
"Winda! Ini Tante, Tante Kumala. Tante pakai ponsel ayahmu karena ayahmu dalam masalah sekarang!"
"Maaf, ayah yang mana? Saya tidak punya ayah."
"Jangan DURHAKA kamu. Enak sedikit lupa sama asal usulmu!" sentak Kumala marah. Padahal tadi awal bicara terdengar memelas.
"Maaf, sepertinya salah sambung." Winda ingin memutus ponselnya saja. Percuma, ribut dengan ibu sambungnya itu hanya membuat tensinya naik.
"Ayahmu di penjara!" teriak Kumala frustasi.
Teriakan Kumala berhasil membuat Winda tertegun dan tidak mematikan ponselnya.
"Kenapa?"
"Rumah kami disita, ayahmu malah berkelahi, menyerang petugas yang mengusir kami."
"Maaf, sepertinya itu bukan urusan saya." Meski tidak tega, tapi bibirnya langsung mengucap spontan. Sepertinya ada luka yang belum sembuh.
"DASAR ANAK DURHAKA! Pada ayah kandungmu kau berani tidak peduli? Hem? Tidak tahu balas budi!" omel Kumala yang sudah sangat terdesak.
"Tante lupa? Dia bilang dia bukan ayah saya!" sentak Winda balik dengan emosi.
"Omong kosong! Dia ayah kandungmu! Dan kamu wajib mengeluarkan dia sekarang dari kantor polisi. Kau sudah kaya sekarang, harusnya balas budi sedikit saja karena sudah dilahirkan ke dunia!" ujar Kumala emosi.
Winda memejamkan mata rapat-rapat, menahan untuk tidak marah.
"Maaf, itu bukan urusan saya lagi!"
Tut Tut Tut
Winda melempar ponselnya di atas dashboard, dan membuat ponselnya langsung retak. Sayang sekali, padahal ponselnya seharga motor. Bersambung.
IG Sept_September2020
Fb Sept September
__ADS_1