
Kekasih Bayaran Bagian 68
Oleh Sept
"Beneran kamu sakit?"
Duda bernama Yudhistira itu menatap aneh pada wanita yang berdiri di depannya. Winda tidak kelihatan sakit, masih tampak segar, menawan seperti biasanya. Apanya yang sakit, pikir pria tersebut.
"Kamu bohong pada orang kantor?" tuduh Pak Yudhistira kemudian masuk sebelum dipersilahkan masuk oleh tuan rumah. Duda matang itu kemudian duduk di sofa.
Winda tersenyum kecut. "Tadi demam sedikit, Pak."
"Oh. Kok terlihat rapi? Apa kamu mau keluar?"
Winda mengigit bibir bawahnya, merasa salah tingkah. Mau jujur pun tidak enak. Ia hanya senyum tipis.
"Oh ... saya sepertinya datang di waktu yang tidak tepat?"
"Bukan ... bukan begitu, Pak!" sela Winda tidak enak.
"Begitu? Baguslah. Oh ya, jangan lupa! Yang kemarin kita bicarakan."
"Emmm ... itu." Winda diam sejenak bingung cara menolak.
'Aduh, mati aku. Gimana cara ngomong sama pak Yudhis?' Wajah Winda sudah mulai gelisah.
"Saya harap kamu datang."
Winda menghela napas panjang.
"Maaf, Pak."
Begitu mendengar kata maaf, pak Yudhistira langsung duduk dengan tegap.
"Kenapa? Kamu menolak?"
Dua bola mata itu menatap tajam ke arah Winda. Membuat Winda benar-benar tidak enak dan kurang nyaman.
"Kalau kamu mau waktu untuk berpikir, jangan kuatir. Mungkin ini permintaan mendadak. Saya sangat realistis, saya paham kamu mungkin butuh waktu." Pak Yudhistira terlihat lebih bijak dari pada Kavi. Membuat Winda semakin tidak enak.
"Mohon maaf Pak sebelumnya, tapi sepertinya saya tidak bisa."
Meski berat, Winda harus bicara lebih awal. Sebab sepertinya Pak Yudhistira berharap besar padanya.
__ADS_1
Yudhistira, si duda tampan mirip artis si Anjas itu pun tersenyum datar.
"Saya lihat kamu tidak memiliki pacar, lalu kenapa kamu menolak saya? Apa karena faktor status saya sebagai duda? Atau karena jarak usia kita?"
Winda menggeleng cepat. "Bukan, bukan seperti itu, Pak."
"Lalu?"
Winda kemudian menatap jari manisnya. Membuat mata om duda tersebut ikut melihat ke arah mata Winda menatap.
"Oh ...!" komentar Pak Yudhistira. Ia pria dewasa yang cerdas, jelas paham arti cincin emas di jari manis seorang wanita.
"Baiklah, sepertinya saya harus pergi sekarang!" ucap Pak Yudhistira yang terlihat sangat kecewa. Tapi berusaha stay cool.
"Maaf, Pak Yudhis."
Yudhistira kemudian menatap Winda dengan dalam.
"Tidak usah minta maaf." Bicaranya datar, dan sepertinya terlihat marah. Meskipun tidak memperlihatkan secara langsung.
Tok tok tok
"Win! Buka pintunya!" seru seorang pria yang berdiri di depan pintu. Ia terlihat ngos-ngosan karena dari Bandara langsung ke apartment. Berjalan ke apartment Winda dari lobby pun tadi tergesa-gesa. Tidak sabar bertemu wanita yang membuatnya bolak-balik Bali Jakarta, kemudian Jakarta Bali.
"Baiklah, saya permisi!"
KLEK
"Win!" Kavi mau memeluk si pembuka pintu, tapi yang keluar malah seorang pria. Disusul Winda yang ikut mengantar keluar. Yudhistira dan Kavi saling menatap, keduanya melempar pandangan sinis. Ketika saling menatap, seperti ada petir horizontal yang berjalan dari mata Kavi ke mata Pak Yudhistira.
"Terima kasih, Pak. Sudah datang menjengkuk Winda!" seru Winda melepas kepergian Pak Yudhistira. Seolah menjawab tatapan Kavi yang kini mengarah tajam padanya.
"Hemm ... cepat sembuh, saya tunggu di kantor!" timpal pak Yudhistira, kemudian menepuk pundak Winda lembut. Dengan sengaja ia membuat Kavi panas. Sekalian saja, karena ia kesal juga pada Winda. Berlagak seperti jomblo, tahu-tahu sebuah cincin sudah melingkar di jari manisnya.
"Iya, Pak. Terima kasih."
Yudhistira pun pergi, sambil mengangguk sedikit pada Kavi yang terus saja menatapnya.
***
KLEK
Begitu Yudhistira pergi, Kavi langsung masuk dan mengunci pintu.
__ADS_1
"Kenapa membiarkan pria lain masuk apartment? Kau tahu? Dia itu mengincarmu!" ketus Kavi kesal.
"Dia hanya datang menjengkuk, masa aku usir. Dia juga boss aku ... dan tolong jangan marah, aku demam!" ucap Winda kemudian meraih tangan Kavi. Meletakkan tangan itu tepat di pipinya.
"Hangat, kan? Aku sakit!" Winda merajuk agar tidak kena omel pria tersebut.
'Ish ... kau pintar merayu sekarang?' batin Kavi.
"Mana ada orang sakit segar begini?" celetuk Kavi kemudian.
"Ya ampun. Beneran ... tadi pagi aku demam. Tanya Kadek kalau nggak percaya!" Winda mencoba membela diri.
"Hemm!"
Winda menatapnya dengan mata sok imut, seperti kucing kecil tanpa dosa.
SETTTT ...
Langsung saja Kavi merengkuh pinggang yang ramping tersebut.
"Aku gak mau pria lain masuk."
"Iya."
"Bagaimana kalau dia macan-macam?"
Winda lalu melepaskan pelukan Kavi.
"Pak Yudhistira tidak akan macan-macam kalau datang ke sini. Tapi lain cerita kalau itu kamu!" celetuk Winda tanpa pikir panjang.
"Benarkah? Memangnya kalau aku ke sini apa yang terjadi?" pancing Kavi.
Winda langsung mendorong tubuh bidang tersebut. Tapi Kavi langsung menarik lembut.
Cup ...
"Jangan mendorongku terus ... aku bisa marah!" ancam Kavi tapi bibirnya tersenyum jahat.
"Jangan macan-macam, Kav! Kita belum nikah!" Winda panik, setelah mengecupp singkat bibirnya pria itu malah melonggarkan dasi. Tatapan Kavi seperti serigala lapar, membuat Winda bergidik.
Bersambung
__ADS_1