
Kekasih Bayaran Bagian 61
Oleh Sept
Ketika mereka berdua terjatuh di atas ranjang, Winda cepat-cepat bangkit. Wanita itu buru-buru bangun dan langsung kabur. Winda bahkan sempat mengambil kunci dan mengunci Kavi di dalam kamarnya.
"Windaaa! Windaaa!" teriak Kavi yang malah dikunci di dalam kamar sendiri. Ia memanggil Winda keras sambil mengedor pintu kamar tersebut. Bukannya marah, setelah berteriak, Kavi langsung melempar tubuhnya di atas ranjang. Ia tersenyum kecut, lalu meraih guling dan memeluknya.
Sedangkan di luar, Winda mengetuk-ngetuk kamar Kadek.
"Berisik banget kalian, seperti pengantin baru!" celetuk Kadek yang ternyata masih lembur mengerjakan tugasnya.
"Gue tidur sini!"
KLEK
"Lah. Kamarnya kenapa?"
"Ada buaya!"
Seketika Kadek terkekeh.
"Buaya ganteng seperti itu gue juga mau ... Aduhhhh!" Kadek meringis menahan sakit ketika pinggang rampingnya dicubit Winda.
Setelah mencubit teman satu apartmentnya itu, Winda duduk di meja depan computer.
"Masih ngerjain ini?"
"Hemm ... lu kan sibuk pacaran!"
"Ngawurr! Dia bukan cowok gue!"
"Ish!" Kadek menatap tidak percaya.
"Sumpah!" Winda memperlihatkan ekspresi wajah serius. Tapi temannya itu hanya tersenyum tipis.
"Apa dia cinta pertama lo yang membuat gagal move on hingga gak pernah pacaran selama ini?"
"Sok tau!" jawab Winda kemudian membuka jendela kamar Kadek dan keluar menuju balkon. Menatap langit yang gelap.
Melihat adanya kegalauan dalam mata sahabatnya itu, Kadek kemudian meninggalkan pekerjaan lemburnya. Ia ikut keluar kamar menuju balkon bersama Winda.
"Kenapa? Sepertinya dia suka sama lo! Beruntung banget ... banyak yang suka sama lo. Dari pak Yudhistira, ada lagi staff yang itu ... yang kapan hari kirim bunga di meja lo."
Winda hanya tersenyum miris. Ia diam cukup lama, masih menatap kosong ke arah langit yang gelap gulita.
"Sepertinya gue lihat, lo kok hati-hati banget dalam menjalani suatu hubungan. Kek trauma gitu. Kenapa sih? Sharing ... mungkin sedikit gue bisa kasih masukan."
Winda menghela napas panjang.
"Ayah gue ... dia kabur sama wanita lain. Dia laki-laki pertama yang membuat gue tidak akan percaya sama yang namanya laki-laki. Ibu gue jadi korbannya, sampai meninggal pun ... pria itu tidak mau tahu. Jadi, gue sepertinya gak mudah percaya sama pria. Apalagi model seperti Kavi!" Winda tersenyum getir.
"Ya jangan disamaratakan dong, Win!" protes Kadek. Ia paham, luka di hati Winda sepertinya sudah mengakar. Jadi mungkin akan sulit membuat Winda percaya akan sebuah hubungan.
'Pantes dia cuek sekali sama laki-laki itu, padahal kelihatan banget ... tuh cowok nyosor mulu. Kasian banget itu mas ganteng,' batin Kadek yang ikut menatap langit.
"Semua laki-laki sama, sama saja!" ucap Winda kemudian berbalik.
"Gue tidur di sini pokoknya!" timpalnya lagi.
"Hemm. Terserah ... apartment-apartment elu!" celetuk Kadek. Kemudian merangkul pundak Winda dari belakang. Tidak ada hubungan darah, tapi keduanya seperti dekat karena nasib yang menjadikan mereka seperti teman rasa saudara.
Pagi hari.
Winda yang dini hari baru bisa tidur, pagi ini telat bangun. Ia menatap sekeliling, kamar Kadek sudah rapi. Selimut, bantal, guling semua sudah pada tempatnya.
"Rajin sekali anak itu?" gumamnya kemudian mengosok kedua mata. Winda turun dari tempat tidur, matanya melotot saat melihat jam.
"Astaga! Telat! Anak itu kenapa gak bangun gue! Ish!"
Winda buru-buru keluar.
__ADS_1
"Kavi!" ucapnya. Ia lupa mengunci Kavi di kamar semalam. Winda semakin mempercepat langkah kakinya.
Baru keluar kamar, aroma harum kopi langsung menusuk hidung.
"Sudah bangun putri tidur?" goda Kavi sambil mengangkat cangkir kopi ke arah Winda.
"Ayo sarapan!" ajak Kavi santai. Ia berlagak seperti tuan rumah.
"Apa Kadek sudah berangkat?"
"Sudah! Cepat sini! Kalau dingin semuanya akan berbeda rasanya." Dengan perhatian Kavi menarik satu kursi agar Winda duduk.
"Aku mandi dulu!" Winda buru-buru ke kamar. Ia baru bangun, belum cuci muka. Mungkin malu dan gak PD. Kavi kelihatan sudah wangi dan ganteng soalnya.
Beberapa saat kemudian, Winda muncul dengan pakaian rapi. Setelan jas lemon dengan kemeja yang senada.
'Lihat ... kau tambah cantik saja!' puji Kavi saat melihat Winda keluar kamar dan langsung duduk di meja makan.
"Apa perlu aku hangatkan lagi!" tawar Kavi.
"Tidak! Terima kasih."
Winda langsung makan dengan lahap, sebab ia sedang buru-buru. Ia harus bertemu dengan salah satu klien. Mereka sudah ada janji sebelumnya.
"Jangan buru-buru, aku akan menunggu!" ucap Kavi sambil menuangkan segelas jus segar.
Winda menatap sinis, siapa yang mau ditunggu pria tersebut. Dan setelah sarapannya habis, Winda pun mengajak Kavi keluar.
"Aku mau pergi! Pintunya mau aku kunci, jadi tolong keluar."
"Hemm! Oh ya ... naik mobilku saja!" Kavi tidak membantah, ia malah mengajak Winda satu mobil.
"Sorry! Aku mau kerja. Gak ada waktu main-main."
"Hemm. Oke. Sampai jumpa lagi." Kavi kemudian mengusap bahu Winda dan meninggalkan Winda tertegun di depan apartment miliknya.
Ketika Kavi menurut, dan langsung pergi saat ia minta pergi, entah mengapa Winda malah merasa aneh.
Karena ada pertemuan dengan klien jam 10 nanti, Winda pun mencoba konsentrasi. Tidak mau memikirkan Kavi yang membuatnya tidak fokus.
***
Perusahaan tempat di mana Winda selama ini bekerja. Baru datang ia sudah disambut banyak berkas. Belum lagi pak Yudhistira ingin Winda ke ruang kerjanya.
"Dek, lu bikin kesalahan di laporan nggak? Kenapa pak Yudhistira manggil gue?"
Winda merasa tidak enak harus ke ruangan pak Yudhistira, sang CEO.
"Suudzon mulu, mungkin mau kasih hadiah, oleh-oleh gitu. Dia kan habis dari LN."
"Ish!"
"Udah sana! Kalau dapat mentaham, bagi dua ya!" canda Kadek.
"Ya udah, lo gantiin gue ke sana sekarang."
"Ogah! Orang pak Yudhistira sukanya sama elo!"
Winda semakin gelisah. Sebenarnya ia tahu atasannya itu perhatian padanya. Tapi Winda kan nggak pernah mikir bakal menjalin hubungan khusus dengan seorang pria. Hatinya masih terkunci rapat.
"Udah sana! Nanti keluar taringnya kalau lo gak cepet ke sana!"
Winda menghela napas panjang, lalu dengan berat hati ke ruangan CEO.
Tok tok tok
"Masuk!" suara khas, berat dan berwibawa membuat Winda resah.
KLEK
"Selamat pagi, Pak."
__ADS_1
"Duduk!"
Winda langsung duduk.
"Ada apa ya, Pak? Kenapa pak memanggil saya?"
Pria berusia 45 tahun itu meletakkan ipedd yang semula ia pegang. Kemudian menatap Winda yang duduk di depannya.
"Maaf membuat kamu tidak nyaman, hanya saja saya tidak suka membuang-buang waktu. Saya suka to the point."
"Iya."
"Ini undangan acara besar, saya mau kamu datang bersama saya."
"Saya?"
"Hemm."
Winda menelan ludah, ada yang tidak beres. Winda mulai curiga.
"Acara apa, Pak?"
"Buka saja."
Winda pun membuka amplop yang terlihat mewah dengan benang emas tersebut. Sebuah undangan acara besar yang hanya bisa dihadiri untuk kalangan elite terbatas. Diadakah di Jakarta minggu depan.
"Sangat bagus buat jenjang karirmu, ikut saja. Nanti saya kenalkan dengan banyak orang yang mungkin bisa berdampak baik dengan karirmu."
"Di Jakarta ya, Pak?"
"Iya, kenapa?"
"Nggak-nggak apa-apa."
"Oh ya, satu lagi. Salah satu tamu penting adalah keluarga besar saya. Jadi saya harap kamu datang. Sebab mungkin akan saya kenalkan juga dengan mereka."
Winda semakin resah. Ingin menolak tapi titah bos.
"Kamu paham kan, Winda?"
Winda mendongak. "Ehmm!"
"Saya harap kamu bisa datang."
"Kalau Winda berhalangan bagaimana, Pak?"
"Usahakan, karena setelah acara itu mungkin kita akan ke rumah saya yang ada di sana. Saya mau kenalin kamu sama putri saya."
'Aduh!' Kepala wanita itu semakin pusing. Entah mengapa ia merasa pak Yudhistira menyerang tanpa memberinya kesempatan untuk menolak.
"Putri bapak yang tinggal bersama ibunya itu?" tanya Winda hati-hati.
"Ya, tapi sepertinya dia akan ikut ke Bali. Karena mantan istri saya sudah menikah lagi."
"Oh!"
"Saya harap kamu bisa dekat dengan putri saya!"
'Aduh!'
"Kalian bisa berteman terlebih dahulu!" saran pak Yudhistira dengan seenaknya.
"Sebentar, Pak ... apa bapak menyukai saya?" tiba-tiba pertanyaan konyol itu meluncur dari mulut Winda.
Yudhistira sang duda mapan dan tampan itu malah tersenyum. Memperlihatkan lesung pipinya. Jadi meski umur 40an, pak Yudhistira ini masih kelihatan ganteng. Mungkin karena orang kaya, seolah menolak tua. (Anggap seperti mas Anjas si encep). Makin tua makin uhui.
"Winda! Saya bukan remaja lagi. Hal manis mengenai percintaan, tentang kata sayang, rayuan atau gombalan, itu bagi saya tidak penting. Bukankah wanita ketika sudah seusia kamu akan memilih pendamping yang akan bisa menjamin masa depan kelak? Saya bukan pria romantis. Tapi akan saya pastikan, kamu akan jadi satu-satunya."
Duda tampan dan mapan itu menatap dengan mata tulus. Membuat Winda galau. Bersambung.
Bang Kavi, sainganmu duda mateng. Hehehe
__ADS_1