
Kekasih Bayaran Bagian 66
Oleh Sept
Malam itu Winda yang selama ini terlihat tegar, akhirnya dinding pertahanannya runtuh. Hanya pada Kadek, dia bisa terbuka. Bisa mengatakan apa yang mengganjal dalam hatinya. Sampai larut malam, dua wanita lajang itu terjaga.
Puas menangis dan membagi kisah sedihnya dengan Kadek. Akhirnya Winda tertidur. Kadek yang tidur paling akhir, memasang selimut untuk menutupi tubuh Winda. Ditatapnya wajah Winda, matanya sembab, hidungnya memerah. Baru pertama kali Kadek melihat Winda segalau ini.
Karena besok ia harus kerja, dan masih ada waktu untuk tidur beberapa jam, ia pun berangkat tidur. Pergi ke kamarnya sendiri yang hanya berjarak beberapa langkah dari kamar Winda.
***
Suasana tidak jauh berbeda terlihat di sebuah kamar hotel. Kavi termenung, berdiri di balkon kamar sambil menikmati angin malam. Ia tidak bisa tidur karena memikirkan seorang gadis. Tangannya memainkan ponsel. Ada banyak rasa berkecamuk dalam benak pria berbadan tegap dan atletis tersebut.
Beberapa kali ia menatap layar, sama sekali tidak ada notifikasi dari Winda. Yang ada hanya pesan singkat dari sang mama. Menanyakan kapan dirinya pulang. Dan beberapa email masuk yang berhubungan dengan pekerjaan.
Kavi ingin menelpon, tapi melihat jam yang tertera pada sudut layar, ini sangatlah larut. Ia pikir Winda pasti sudah tidur. Ia sendiri tidak bisa memejamkan mata, banyak pikiran membuat insomnia pria itu kambuh.
Sampai pukul 3 pagi, barulah ia masuk ke dalam kamar. Besok pagi ia harus ke Bandara. Harusnya ia membawa Winda. Ya, harusnya. Tapi kadang rencana tidak sesuai kenyataan. Peristiwa pengembalian cincin yang dengan tulus ia berikan, membuat Kavi juga terluka. Ia tidak menyangka, begitu cepat Winda menyerah dan menolak permintaannya.
Kecewa, sudah pasti. Tapi mau bagaimana lagi. Tidak mungkin ia memaksa Winda menikah dengannya jika ternyata gadis itu benar-benar tidak menginginkan dirinya. Dengan lesu, ia menarik selimut. Berharap besok ada kejaiban.
***
Kring ... kring ... kring
Suara alarm di ponsel Kavi membuat pria itu mengerjap. Tangannya merabaa, mencari benda pipih yang cukup smart tersebut. Setelah berhasil meraih ponselnya yang ternyata ada di bawah bantal, ia pun megerjap lagi, menajamkan pandangan.
Kavi terlihat sangat kecewa, ketika Winda tidak mengirim kabar atau apapun. Dengan tidak bersemangat ia turun dari ranjang. Ke kamar mandi karena hari ini ia harus balik.
Selesai mandi, ia menatap kaca cukup lama. Ditatapnya wajah itu seraya berbicara pada pantulan dirinya.
"Apa aku harus ke sana? Tidak ... jika dia ingin hubungan ini, dia pasti mencegahku pergi. Mungkin aku harus memberikan dia waktu saat ini ... Ya. Tapi entah sampai kapan," gumam Kavi. Kemudian mengusap wajahnya yang terlihat sangat lelah dan layu, mungkin karena kurang tidur dan banyak pikiran. Memikirkan Winda rupanya cukup menguras hati.
Sesaat kemudian
__ADS_1
Kavi sudah memakai pakaian rapi, kemeja polos dibalut jas licin dari desainer kondang yang biasanya membuat pakaian untuk artis ternama di ibu kota, desainer langganan keluarga Gadhiata Ratama Prakash.
Setelah meninggalkan kamar hotel, ia menatap ke belakang sebentar. Kemudian menyusuri lorong, berjalan melewati lobby dengan murung.
'Kamu bahkan tidak ingin menghubungiku?' batin Kavi sambil melangkah dengan berat.
"Mobil sudah siap, Tuan! Mari!" seru sekretaris baru Kavi yang ikut menyusul, karena sebenarnya ia ke Bali untuk dua misi. Selain kerja juga untuk mencari Winda.
Sekarang pekerjaan sudah beres, tapi tidak dengan hubungan asmaranya. Kavi merasa jalinan cintanya dengan Winda seperti bulan di atas langit sana, menggantung tinggi susah diraih.
"Hemm! Langsung ke Bandara!" seru Kavi kemudian.
"Baik, Tuan."
Selama dalam perjalanan, Kavi terus saja melirik ponselnya. Berharap benda itu bergetar atau bersuara. Tapi sayang, setelah hampir tiba di Bandara ponselnya tak kunjung berdering.
Hingga ia putus asa dan langsung menyimpan ponselnya dalam saku. Kesal, tapi marah. Makanya ia ingin Winda telpon duluan. Hingga saat waktunya akan boarding pass. Kavi tidak tahan, ia pung merogoh saku jasnya dan langsung menelpon nomor Winda.
Terdengar nada sambung pribadi, sebuah lagu lama dan terdengar sendu, first love milik Utada Hikaru.
'Ke mana? Kok nggak diangkat!' gerutu Kavi setengah gusar. Bibirnya hanya diam, tapi matanya bisa bicara. Ia sedang kesal karena telpon tidak diangkat.
"Kamu bahkan tidak mau mengangkat telpon dariku rupanya?" Kavi bermonolog sendiri dengan kesal.
"Ish!" Ia mendesis kesal, apalagi sang sekretaris sudah menghampiri. Waktunya tidak banyak.
"Hemm ... ya hallo!" Sebuah suara di telpon cukup membuat Kavi bernapas lega. Ia kemudian mengangguk pada sang sekretaris lalu menjauh sebentar.
"Ada apa dengan suaramu?" tanya Kavi dingin. Tapi sebenarnya khawatir, suara Winda serak.
"Baru bangun!" jawab Winda singkat.
"Oh, aku sudah di Bandara. Hari ini akan balik."
"Ya."
__ADS_1
"Kau tidak mau mengatakan apapun," tanya Kavi, ia memancing dengan wajah penuh harap.
"Hati-hati!" jawab Winda datar.
Kavi langsung mendengus kesal.
"Tidak ingin mengatakan sesuatu?"
"Tidak."
"Huff ... !" Kavi menghela napas panjang. Menghadapi Winda benar-benar uji nyali, menguji emosinya dan menguras hatinya sampai kering.
Untuk sesaat keduanya sama-sama diam, kemudian Kavi hendak menutup ponselnya karena sepertinya tidak ada lagi yang ingin dikatakan.
"Ya sudah, aku tutup telponnya."
"Hemm."
Tut Tut Tut
Saat suara Kavi menghilang, mata Winda kembali perih. Ia memeluk ponselnya kemudian menangis.
Sedangkan Kavi, ia berbalik. Ia berjalan menghampiri sekretarisnya yang sudah menunggu. Kalau tidak bergegas, mereka akan ketinggalan pesawat.
***
Di dalam pesawat, Kavi hendak menyalakan mode pesawat pada smartphone miliknya. Tapi ia kaget saat beberapa pesan singkat sudah masuk tanpa ia sadari.
[Hari ini aku nggak masuk kerja, aku demam]
[Tidak ingin menjenguk?]
[Aku belum makan dari semalam]
Kemudian di pesan paling akhir ada sebuah gambar, foto jari lentik yang kembali mengenakan cincin pemberian Kavi.
__ADS_1
"Siallll!" desis Kavi saat pesawat sudah terlanjur lepas landas. Bersambung