Kekasih Bayaran

Kekasih Bayaran
M


__ADS_3

Kekasih Bayaran Bagian 90


Oleh Sep


"Maaf, ya!" Kadek mendekat kemudian memeluk Winda yang sudah duduk di ruang tamu lagi sambil tangannya terus digenggam Kavi.


"Bisa-bisanya kamu, Dek. Jahat banget!" omel Winda sambil mengusap matanya.


Kadek melempar senyum tipis kemudian memeluk Winda dengan hangat.


"Iya, iya ... maafin ya. Gue Keterlaluan ... maafin ya," pinta Kadek dan terdengar tulus.


Meski masih jengkel, kesal dan marah, Winda pun mengangguk pelan.


"Kali ini gue maafin, awas kalau lo macem-macem lagi!" ancam Winda tapi sepertinya sudah bisa bercanda. Karena ia juga bisa tersenyum meskipun sedikit.


Akhirnya semua damai, dan Celine pun mendekat.


"Maaf ya, sampai buat kamu shock seperti ini!" ucap Celine.


Winda langsung menatap tak ramah pada Celine, kemudian semua orang menjadi tegang. Namun, sesaat kemudian Winda mengangguk. Membuat semua pun menjadi lega. Mereka semua pun kembali melanjutkan acara, karena suasana hati Winda campur aduk, mereka semua pulang lebih awal.


Semua pamit, menyisahkan Kavi dan Winda di apartment yang besar tersebut.


KLEK


Suara pintu tertutup, tamu terakhir sudah pergi. Winda pun membereskan sisa-sisa hasil pesta perpisahan yang sederhana itu, meski tadi sudah diberesi bersama teman-temannya. Hanya beberapa yang kurang pada tempatnya.


"Udah, besok aja. Kamu pasti capek."


"Besok jadwal pesawat pagi! Malah telat kalau harus beres-beres besok!" celetuk Winda. Sepertinya ia masih marah. Karena wajahnya berubah galak.


Mendengar suara istrinya yang tidak biasa, alias ngegass, Kavi pun mendekat. Ia membantu apa yang bisa ia kerjakan. Namun, di mata Winda malah selalu salah.


"Bukan si situ letaknya! Udah, jangan tambah kerjaan aku jadi banyak!" ujar Winda yang melihat Kavi meletakkan barang-barang di tempat yang tidak semestinya.

__ADS_1


'Ih ... ini gara-gara Kadek!' batin Kavi yang ikut kesal. Gara-gara prank tadi, Winda sepertinya jadi emosional.


"Kan aku bantu, Sayang!"


"Udah, malah gak selesai-selesai!" cetus Winda galak.


"Hemm!" Kavi menghela napas panjang, kemudian masuk kamar.


'Singa lagi ngamuk!' celetuknya dalam hati.


Karena Winda tak tersentuh, senggol dikit ngomel-ngomel, ia pun memutuskan untuk tidur. Rebahan di ranjang empuk sambil menunggu Winda datang sendiri tanpa diminta.


Beberapa saat kemudian


Kavi yang memang kelelahan, ia malah tertidur. Saat Winda masuk, pria itu sudah memejamkan mata. Winda yang melihat ponsel Kavi tergeletak di ranjang, ia langsung meraihnya.


"Pakai sandi segala! Mencurigakan!" gerutu Winda yang mau memeriksa ponsel suaminya.


Winda pun memasukkan tanggal lahir suaminya, dan salah. Tidak kehilangan akal, ia mencoba lagi, memasukkan tanggal lahirnya sendiri, tapi tetap salah. Jengkel, ia lempar ponsel itu.


Kavi langsung berbalik, kemudian bicara dengan mata terpejam. "Masukkan tanggal pernikahan Kita!" seru Kavi dengan suara lirih. Sepertinya ia tahu Winda sedang mensabotase ponselnya.


"Mau cari apaan? Gak ada apa-apa di sana!" sela Kavi yang kini sudah membuka mata sempurna.


Sedangkan Winda, ia kini fokus memeriksa semua isi ponsel suaminya. Ia memeriksa semua gallery pria tersebut, tapi malah penuh akan fotonya sendiri. Foto yang diambil diam-diam. Seperti foto di danau hijau saat acara outbound di perusahaan dulu, dulu sekali. Mau ia cari-cari sampai berkali-kali, ponsel Kavi sangat bersih. Bahkan kontak telpon Kavi sebagian malah didominasi nama pria.


'Gara-gara Kadek! Winda malah curigaan begini?' batin Kavi yang memperhatikan wajah Winda yang sangat serius saat memeriksa smartphone miliknya.


"Ini!" Winda menyodorkan ponsel Kavi kemudian merebahkan tubuhnya.


"Sini, kenapa tidurnya jauh-jauhan?"


"Gak apa-apa, sakit hati aja!"


Kavi tersenyum kecut.

__ADS_1


"Sepertinya Kadek harus dikasih pelajaran!" ujar Kavi tegas. Seketika Winda langsung beranjak, ia langsung duduk dan bersandar pada sandaran ranjang.


"Jangan macam-macam sama Kadek! Dia cuma bercanda!" bela Winda, tidak mau Kavi menghukum Kadek. Apalagi ia sempat dengar ancaman suaminya pada teman-temannya, jika sampai mereka pisah, maka Kavi akan membuat semua rekan timnya menjadi penganguran alias jobless.


Kavi pun hanya menggeleng pelan, bisa-bisanya Winda hanya kesal pada saja.


"Ya sudah, jangan marah-marah lagi!"


"Siapa yang marah?" elak Winda padahal matanya sudah melotot mau keluar. Dan itu membuat Kavi gemas. Langsung saya dia raih tubuh Winda dan langsung memeluknya.


"Ayo tidur!"


"Gerah, lepasin!"


"Ya sudah, besok aku list temen-temenmu itu, biar aku blacklist!"


Wind yang kini dalam pelukan Kavi, langsung mendongak, menatap tajam.


"Kenapa mengancam?" protesnya.


Dan Kavi hanya mencubit pipinya, membuat Winda mengadu.


"Aku ngantuk banget, tidur yuk!"


Winda menahan napas kesal, tapi kemudian lengannya ikut memeluk Kavi dengan hangat. Kavi yang merasakan kehangatan itu, kantuknya sedikit hilang.


"Kok nggak jadi ngantuk ya ... main yuk," bisik Kavi mulai jahil.


"Sorry, lagi M!" celetuk Winda sambil tersenyum jahat dalam hati.


"Bohong ... kemarin malam masih bisa kok." Kavi masih ngeyel.


"Mau lihat?" tantang Winda sambil melepaskan pelukannya karena Kavi sama sekali tidak percaya. Seketika wajah Kavi langsung masam, dan Winda pun merasa puas.


'Sukur!'

__ADS_1


Bersambung.



__ADS_2