
Pintu apartemen terbuka, menampilkan sosok Andre yang berbalut selimut tebal, wajahnya tampak merah seperti kepiting rebus.
"Nai? Tumben ke sini?" tanya Andre.
"Masuk gih, di luar dingin," sahutnya lagi.
Naina masuk dan duduk di sofa tamu, Andre kembali dari dapur dengan dua cangkir teh hangat.
"Minum dulu."
"Makasih," jawab Naina menyesap sedikit teh aroma melati itu.
"Kamu mau pindah?" tanya Andre melirik tas besar Naina.
Gadis berhidung mancung itu mengangguk, lagi, ia menyesap teh yang menurutnya sangat enak itu. Membuatnya sedikit tenang.
Andre memandangi wajah Naina yang polos tanpa make up, tetap cantik dan manis, tak sadar ia senyum-senyum sendiri.
"Ngapain senyam-senyum?" tanya Naina heran.
"Eeh, enggak," sahut Andre gelagapan. "Jadi mau pindah ke mana? Mau aku carikan apartemen?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Gak perlu," jawab Naina santai.
"Jadi?"
Seketika Andre sadar apa maksud Naina. Ia tersenyum senang, akhirnya gadis itu menerima ajakannya.
"Boleh, boleh, tapi ada syaratnya," jawab Andre tersenyum jahil.
"Hah? Niat bantu gak sih? Katanya boleh," sungut Naina manyun.
"Denger dulu, baru protes."
"Jadi apa syaratnya?" tanya Naina tak sabar.
"Kamu bantu bersih-bersih sama masak."
"What!? Serius?" tanya Naina tak percaya, bahkan selama ini gadis itu jarang sekali memasak. Meski untuk dirinya sendiri.
Andre mengangguk pasti, Naina menatap memelas, tapi tak dihiraukan oleh lelaki itu.
"Kamu tuh, nyari kekasih bayaran, apa pembantu bayaran sih, kesel tau," ucap Naina mengerucutkan bibir.
"Bukan dua-duanya, tapi lagi nyari calon istri, cuma bukan yang bayaran, ahaha," ucap Andre tertawa senang.
"Andreee!"
Lelaki itu bangkit dan berlari, menghindari kejaran Naina yang ingin menimpuknya. Terjadilah aksi kejar-kejaran khas Tom and Jerry.
__ADS_1
"Stop, Nai. Capek, hah ... hah," ucap Andre menyerah. Lelaki itu terduduk di lantai. Wajahnya yang putih tampak merah dan pucat, dadanya naik turun mengatur napas.
"Kamu gak papa?" tanya Naina cemas. Amarahnya meluap begitu saja, membantu Andre berdiri dan duduk di sofa.
Perlahan ia menempelkan punggung tangannya ke kening Andre, panas menyengat kulitnya. Gadis itu terhenyak.
"Astaga! Panas banget, kamu ini lagi sakit malah lari-lari," celoteh Naina cemas sekaligus kesal.
Lelaki itu hanya tersenyum mendapat omelan dari Naina, ia justru merasa senang diperhatikan oleh gadis itu.
Naina kembali dari dapur, membawa air hangat dan handuk bersih. Telaten, ia mengompres kening Andre setelah lelaki itu berbaring.
"Kamu belum sarapan ya?" tanya Naina memecah keheningan.
Lelaki itu menggeleng, tersenyum simpul yang menyiratkan sebuah makna. Naina menatap binar mata itu, seperti tatapan anak kecil meminta lolipop. Gadis itu mengangguk pasrah.
Pertama, Naina membuka kulkas. Kosong. Gadis itu berdecak, bagaimana mau masak kalau gak ada bahan sama sekali? Astaga!
"Ndre, aku belanja dulu ke minimarket. Di kulkas gak ada apa-apa," ucap Naina bersiap keluar.
Hening, tak ada jawaban. Gadis itu melongok ke balik sofa, lelaki itu tampak lelap dengan senyum yang tak henti terukir di bibirnya.
Naina tak ingin mengganggu, ia tersenyum sendiri melihat Andre yang tampak imut saat tertidur. Lekas, ia bangkit dan keluar menuju minimarket terdekat.
Sepanjang jalan, gadis itu baru teringat. Kenapa ia sampai kabur dari rumahnya, tadinya ia ingin segera menceritakan soal tulisan di kacanya. Tetapi ia malah lupa dan rasa takutnya pun ikut lenyap saat bersama Andre.
Menuju meja kasir, lagi-lagi seperti de javu. Naina menoleh ke arah rak sabun dan sekelilingnya, tidak ada yang mencurigakan sama sekali. Gegas ia membayar dan pulang dengan setengah berlari.
Perasaannya tak enak, sambil berlari menuju lift ia sesekali menoleh ke belakang. Tak menyadari seseorang di depannya.
Bruk!
Belanjaannya jatuh dan berhamburan, Naina bangun dan menepuk membersihkan pakaiannya.
"Abbas? Ngapain di sini?" tanya Naina kaget.
"Harusnya aku yang nanya, di sini kan apartemen kakakku, kok kamu bisa di sini?"
Skakmat. Gadis itu terdiam. Naina merasa bingung harus menjawab apa, ingin menjelaskan tetapi Abbas tak tahu menahu tentang masalahnya.
"Kamu, gak ngikutin aku lagi kan?" tanya Naina mengalihkan pembicaraan.
"Aku dah berhenti, kamu gak liat nih mukaku masih biru gini? Sakit tau," ucapnya memelas.
"Rasain, sepadan dong itu," sahut Naina asal.
Gadis itu segera memunguti belanjaannya dibantu Abbas, sambil memikirkan kejadian barusan. Kalau bukan Abbas si tengil ini, lalu siapa yang masih mengikutinya?
"Kak! Woi, sadar!" seru Abbas melambaikan tangan di depan wajah Naina.
__ADS_1
Gadis itu tersadar dan mundur karena kaget wajah Abbas begitu dekat dengannya. Brondong tengil itu tersenyum jahil, sesekali mengerlingkan mata pada Naina yang langsung dihujami tatapan tajam.
"Mau masuk?" tanya Abbas.
Iya."
Dalam hening, Abbas memeperhatikan Naina. Wajah gadis itu tampak lelah, ia heran mendapatinya dalam keadaan polos tanpa make up. Tak seperti biasanya yang selalu tampil glamour dan elegan. Tapi tetap cantik, batin Abbas.
"Ngapain lirik-lirik, aku colok juga tuh mata," sinis Naina.
"Duh, galak amat sih, Kak. Tapi makin cantik deh," gombal Abbas.
"Kamu!"
Ting!
Pintu lift terbuka, Naina bergegas keluar mendahului. Segera masuk ke apartemen Andre yang membuat Abbas melongo.
Abbas mengekori masuk, ruangan yang berantakan menyapa penglihatannya. Lelaki dua puluh tahun itu berdecak lirih.
"Ck, bahkan kamar gue lebih ancur dari pada ini," ucapnya asal.
"Dasar aneh," sahut Naina.
"Ada perlu apa ke sini?" tanya Andre yang tiba-tiba muncul dari balik sofa.
"Nengokin lu lah, Bang," sahut Abbas santuy.
"Alasan," decak Andre.
"Nih, Mama minta gue anterin ini denger lo sakit. Gak tahunya gue malah dapat kejutan."
"Maksud kamu apa? Kalau dah selesai buruan pulang sana!" desak Andre kesal.
"Galak amat, udah kayak pengantin baru aja, nih, gue cabut," ucap Abbas meletakkan sebuah rantangan, kemudian melenggang pergi.
Naina yang menyaksikan kakak beradik itu kini mengerti, hubungan keduanya lumayan rumit dan tak baik. Gadis itu melenggang ke dapur, menata belanjaan. Enggan bertanya lebih.
Andre terduduk diam di sofa, memijit pelipisnya yang terasa sakit. Ia masih kesal jika melihat wajah Abbas, ada sesuatu yang terasa meremas kuat dalam dadanya.
***
Di sisi lain, sesosok misterius memasuki rumah Naina, ia melihat-lihat dan mulai mengambil beberapa album foto Naina. Memasukkannya ke dalam saku.
Tak lupa, ia memecahkan semua barang dan membuat rumah menjadi hancur berantakan. Ia tertawa senang, kemudian mengamuk lagi saat melihat wajah tersenyum Naina di figura yang menempel di dinding.
Puas, ia tinggalkan rumah kosong itu begitu saja, dengan tetes darah yang ia lukis di lantai.
"Tunggu pembalasanku!"
__ADS_1