Kekasih Bayaran

Kekasih Bayaran
12


__ADS_3

Perlahan kelopak mata itu terbuka, langit-langit putih bersih dengan aroma obat yang menyengat menyapanya, perasaannya seperti dejavu. Gadis itu menoleh ke sisi ranjang.


Tangannya digenggam erat oleh seseorang, dia Andre. Lelaki itu tampak lelap dalam tidurnya, Naina berusaha menggerakkan tangannya, terasa berat dan lemas sekali.


Merasakan getar halus, lelaki itu terbangun. Menatap kejora itu tak percaya, mata elangnya tampak berbinar.


"Nai? Kamu sudah sadar? Syukurlah," ucapnya tampak lega seraya menciumi punggung tangan Naina.


"A-apa yang terjadi?" tanya Naina parau.


"Hari itu kamu ditemukan pingsan bersimbah darah, ada yang mencoba mencelakaimu," ucap Andre berapi-api.


Naina mulai teringat, saat terakhir sebelum ia pingsan. Ia melihat sosok gelap yang tinggi dan terasa familiar. Ia memegang kepalanya yang diperban terasa nyeri.


"Berapa lama aku gak sadarkan diri?"


"Satu minggu, Nai."


"Satu mi-minggu?" tanya Naina tak percaya.


Andre mengangguk pasti, digenggamnya jemari lentik itu, menyalurkan kekuatan.


"Kamu sempat dioperasi, ada jaringan yang rusak di dalam, gegar otak ringan," ucap Andre menjelaskan perlahan.


"Apa? Sampai operasi?" tanya Naina tampak lebih syock dari sebelumnya.


"Tenang aja ya, sekarang sudah tidak apa-apa," jawab Andre menenangkan.


Brak!


Tiba-tiba pintu dibuka kasar, Abbas muncul dengan amarah yang meluap. Ia menerjang Andre, menarik kerahnya kasar dan melayangkan bogem mentah.


"Apa-apaan sih, kamu!" teriak Andre tak terima.


"Busuk lo, Bang! Tega banget nyembunyiin Naina dari gue, apa hak lo, hah!" teriak Abbas tak kalah garang.


"Cukup!" teriak Naina memegang kepalanya yang terasa berdenyut.


Keduanya tampak khawatir dan mendekat.


"Nai, kamu gak papa kan?" tanya Andre.


"Nai, lo baik-baik aja?" tanya Abbas resah.


"Keluar! Aku mau sendiri," ucap Naina melemah.


"Ini semua gara-gara kamu!" desis Andre menatap nyalang sang adik.


Abbas melengos dan keluar dari ruang rawat, disusul Andre yang tampak kesal.


Naina memejamkan mata, lelah. Pikirannya menerawang, siapa yang begitu ingin mencelakainya? Apa ia begitu dendam? Ahh, kepalanya sakit memikirkan banyak hal.


Ditambah kedua kakak adik yang seperti tom n jerry, membuatnya semakin pusing dan lelah.


.


Tiga hari kemudian, Naina diperbolehkan pulang. Abbas dan Andre sudah bersiap membantunya pulang, keduanya tampak akur di depan gadis itu. Tetapi tidak jika sudah berdua saja.


Naina ingin pulang ke rumahnya sendiri, ada rindu yang menelusup dalam dadanya. Mobil pun melaju menuju tempat Naina tinggal.

__ADS_1


Sesampainya di sana, Abbas dan Andre terus mengawal Naina. Gadis itu memutar kunci, menekan handle pintu pelan.


Pintu terbuka, pemandangan bak kapal pecah menyapu penglihatan ketiganya. Bulir bening turun dari sudut mata Naina, ia luruh dan hampir limbung jika Andre tak gegas menangkapnya.


"Siapa yang tega berbuat kayak gini?" ucap Abbas tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Kita balik ke apartemen aja ya, Nai," bujuk Andre.


Gadis itu mengangguk lemah, Abbas tinggal di lokasi untuk melaporkan kejadian itu ke polisi. Sedangkan Andre mengantar Naina kembali ke apartemennya.


Sesampainya di apartemen, Andre menyuruh Naina berbaring saja. Pekerjaan rumah akan ia bereskan.


"Ndre, aku bosan!" seru Naina dari dalam kamar.


"Mau nonton TV?" tawar Andre yang dijawab Naina dengan anggukan.


Andre menuntun gadis itu berbaring di sofa, remote sudah ada dalam genggamannya. Gegas lelaki itu melanjutkan pekerjaannya menyapu rumah yang belum selesai.


Naina menatap Andre yang tampak kerepotan membereskan rumah, berkali lelaki itu salah menempatkan barang. Gadis itu terkekeh sendiri, lucu menurutnya.


Tiba-tiba hp di meja berbunyi, Naina menatap layar, melihat siapa yang menghubungi nomor Andre.


Ayesha, nama itu terpampang di layar. Naina mengerutkan dahi, kedua alisnya bertaut. Apakah Ayesha sering menghubungi Andre?


Tiba-tiba ia merasakan sesak di dadanya, gadis itu memilih me-reject panggilan Ayesha. Entah mengapa ada sedikit perasaan tak rela membayangkan keduanya berhubungan.


Naina menggeleng kuat, 'dasar bodoh, mana mungkin cemburu? Apa hakku melarang? Toh hubungan ini cuma kontrak.' batin gadis itu mengingat posisinya.


Lesu, kini semangat itu ambyar. Naina malas menonton maupun melihat Andre. Ia memejamkan matanya. Memilih lelap dan melupakan masalah yang menimpanya.


Usai berberes, Andre mandi dan kembali ke ruang tamu. Dilihatnya Naina tertidur pulas, ia lekas menggendong gadis itu dan memindahkannya ke kamar.


Andre menutup pintu pelan dan duduk di depan TV, ia meraih benda pipih yang tampak berpendar itu dan menggeser layar.


"Ada apa lagi?" tanyanya tak sabar.


"Kan sudah kuturuti terakhir kali!?" seru Andre lagi karena kesal.


"Jangan lupa, semua belum berakhir," sahut suara di seberang telepon.


Panggilan diputuskan sepihak, Andre tampak mengeraskan gigi menahan amarah. Ia kesal karena tak berdaya seperti ini.


Benda pipih itu bergetar lagi, Andre menggeser layar kasar, penuh emosi tanpa melihat siapa sang penelpon.


"Apa lagi kali ini?" tanyanya murka.


"Lo udah gila ya, Bang? Ini gue Abbas, polisi udah nemu beberapa petunjuk. Mending lo buruan ke sini deh," ucap Abbas di seberang.


Andre mematikan sambungan, Abbas mengumpat di seberang sana. Gegas mobilnya meluncur ke TKP.


Dua puluh menit, ia sampai di sana. Ada tiga orang polisi dan Abbas yang tengah membicarakan sesuatu yang serius. Tampak dari raut wajah mereka yang tegang.


Andre melangkah mendekat, menyapa polisi ramah, berusaha bersikap tenang dan baik-baik saja.


"Jadi apa yang berhasil ditemukan, Pak?" tanya Andre tak sabar.


"Sidik jari dan lipstik merah untuk menulis di kaca, itu bukan darah," ucap salah satu polisi berbadan tambun.


"Sidik jari dan lipstik?" tanya Andre terkejut.

__ADS_1


"Benar, dan anehnya, sidik jari ini milik laki-laki. Sedangkan motif penggunaan lipstik masih belum terungkap."


"Masih dilakukan penyelidikan lebih lanjut, apakah sama dengan pembunuh berantai sebelumnya atau bukan," lanjut polisi itu.


Abbas dan Andre mengangguk paham, mereka bersalaman dan berpamitan.


"Kalau begitu, kami permisi dulu ya bapak-bapak, jika ada kabar terbaru. Tolong beri tahu kami. Ini kartu nama saya. Terimakasih," ucap Andre.


"Sama-sama."


Kedua kakak beradik itu beriringan menuju mobil, ada dentuman keras melanda hati keduanya. Sebenarnya siapa dalang di balik semua ini?


Mobil melaju menuju apartemen, hening menyelimuti keduanya. Seolah beban berat telah diletakkan di pundak mereka.


Pikiran Abbas melayang, bagaimana keadaan gadis itu, apa yang ia lakukan? Bagaimana ia bisa bertahan selama ini? Padahal begitu banyak rintangan yang menerpanya. Tetapi ia selalu berusaha tampil baik-baik saja.


Mobil berhenti, sebelum Andre turun, Abbas mencegah lenganya, membuat lelaki yang menjadi kakaknya itu menatap bingung.


"Bang, bentar aja. Kasih gue kesempatan bicara sama Naina," ucap Abbas memelas.


Mata Andre membulat, bagaimana mungkin ia memberi kesempatan pada orang lain? Sekalipun itu adik sendiri, tetap saja tidak rela.


"Sepuluh menit!" seru Andre pada akhirnya.


kesempatan yang ada.


Pintu apartemen sudah terlihat, gegas ia menekan kode dan masuk ke dalam. Pas sekali, gadis itu tengah duduk di ruang tamu. Menyesap susu hangat di genggamannya.


"Kak, Nai?" panggilnya lirih.


Gadis itu menoleh, tampak kaget mendapati Abbas di sana. Ia segera bergerak mundur.


"Ada perlu apa?" tanya Naina.


"Kak, kamu baik-baik aja, kan?" tanya Abbas parau.


"Aku sudah lebih baik, mana Andre?" tanya Naina.


Pertanyaan sederhana, tapi mampu mengoyak daging kecil dalam dada. Sesak, kesal juga kecewa menusuk Abbas.


"Ada di bawah, bisa gak jangan bahas yang lain dulu?"


"Apa maksud kamu?"


"Kak, kasih aku kesempatan sekali aja buat mengejarmu," pinta Abbas.


Naina berpaling memunggungi Abbas, ia sendiri pun bingung dengan perasaannya. Lagi, dia tak ingin memberi harapan untuk saat ini.


"Bisa tinggalin aku sekarang?" tanya Naina lemah.


"Jadi itu jawaban kamu, Kak?" tanya Abbas tak percaya.


"Baiklah, aku mengerti. Walau begitu, aku akan tetap mengejarmu," sahut Abbas lagi seraya meninggalkan Naina.


Gadis itu terduduk lemas. Ia memang sempat menyukai Abbas, tapi itu dulu. Tidak sama lagi dengan sekarang.


Andre muncul dari balik lift bersamaan Abbas yang keluar dari apartemen.


"Sudah sepuluh menit," ucap Andre.

__ADS_1


"Thanks, Bang," sahut Abbas menepuk pundak sang kakak seraya berlalu, menghilang bersamaan pintu lift yang menutup.


__ADS_2