
Kekasih Bayaran Bagian 92
Oleh Sept
"Sengaja ya, bohong kemarin?" tanya Kavi yang sudah terbaring lemas di bawah selimut.
"Nggak, kan emang lagi M. Males," ucap Winda kemudian tersenyum manja. Membuat Kavi tidak marah, lagian service barusan cukup membuatnya puas. Mana mungkin ia marah, takut malah tidak diberikan jatah plus-plus.
"Jahil banget, semalam kan pengen banget tuh!" balas Kavi sembari melingkarkan lengannya di perut Winda.
"Siapa suruh bikin kejutan aneh-aneh. Aku gak suka seperti itu, Kav."
"Nah ... Kadek tuh biang keladinya!" Kavi ngeles biar tidak disalahkan
"Sama aja! Kalian raja tega!" Winda merajuk, aduh makin membuat Kavi gemas. Bikin mau nambah.
"Iya, iya ... maaf ya, Sayang. Gak lagi-lagi deh. Janji."
"Hemm!"
Akhirnya mereka pun tertidur di bawah selimut yang sama. Menikmati malam yang hangat di ibu kota.
***
Pagi hari, suasana rumah sangat sepi. Hanya terdengar suara alat masak. Rupanya penjaga rumah yang selama ini menjaga rumah itu sedang masak. Namanya bi Inah, wanita dari jawa timur yang sangat ramah. Seorang janda karena ditinggal mati.
"Pagi, Bik!" sapa Winda ramah.
"Selamat pagi, Non. Nona mau saya masakin apa?"
"Gak usah, Bik. Yang ada saja."
"Baik, Non. Oh ya ... apa tuan muda mau kopi, Non?"
Winda menggeleng. "Biar saya buat sendiri, Bik."
"Baik, Non."
Setelah membuat kopi untuk suaminya, Winda membawanya masuk ke kamar. Dilihatnya Kavi sedang menyisir rambut. Eleh, makin ganteng saja suaminya itu.
"Udah, licin banget. Udah ganteng, kok!" ledek Winda.
Kavi hanya tersenyum, kemudian melangkah sambil merentangkan tangan.
"Eit! Kopi ... panas ini!" seru Winda menjauhkan tangannya dari Kavi. Pria itu kemudian mengambil alih, memegang kopi itu lalu meletakkan di atas meja.
Setttt ...
"Kopi rasa mint dulu!" bisik Kavi sembari langsung merampas bibir manis Winda yang masih beraroma mint tersebut karena habis gosok gigi beberapa saat yang lalu.
"Pintunya gak aku kunci!" desis Winda.
"Biarkan, lagian cuma ada bibi sama satpam di rumah ini. Kita bebas, Sayang!" Kavi menjauhkan wajahnya, kemudian mengerlingkan mata.
__ADS_1
"Ish! Dasar!"
"Dasar apa? Hayoo!" Pria itu mengelitik Winda sampai Winda minta ampun.
"Geli! Stop ... Kavi, jangan gitu. Geli!"
Keduanya terkekeh, sampai terdengar dari dapur. Dan bik Inah pun menggeleng pelan.
'Pengantin baru,' batin bik Inah. Baru awal nikah, masih manis-manisnya.
***
Satu jam kemudian
Kavi keluar kamar sambil merapikan pakaian, kemudian disusul Winda yang menyisir rambut dengan tangan, biar kelihatan rapi.
"Udah gak ada yang ketinggalan? Ponsel sama dompet, kunci mobilnya?" tanya Winda yang berjalan mengekor di belakang Kavi.
"Udah, udah semuanya. Bik ... kami pergi ya."
Kavi berteriak memanggil bik Inah yang tidak kelihatan. Sesaat kemudian wanita paruh baya itu muncul sambil membawa kemoceng.
"Iya, Tuan."
"Kami pergi dulu, ya Bik." Ganti Winda yang pamit.
"Baik, Non."
"Ya sudah. Kami pergi," ucap Kavi kemudian merangkul pundak istrinya.
"Jangan ngebut, kurangi kecepatan. Kita belum punya baby!" celetuk Winda saat Kavi sedang menguji berapa kecepatan mobil barunya itu.
"Iya, Sayang. Oke!" Kavi langsung mengurangi kecepatan. Kemudian berjalan dengan kecepatan yang sedang-sedang saja. Perjalanan yang harusnya hanya 30 menit pun jadi lebih banyak. Selain ibu kota yang macet, ini karena Kavi mengemudi dengan pelan. Sesuai perintah sang ratu.
Begitu tiba, mereka langsung disambut oleh Hanum dan keluarga yang lain. Apalagi Kezia. Gadis kecil yang imut itu langsung minta gendong Winda.
"Seneng ya ketemu bunda?" goda Olivia sambil menggendong anak keduanya.
Kezia melingkarkan lengannya dengan erat, tidak mau turun dari gendongan Winda sama sekali.
"Bunda capek, ayo sama Oma!" Hanum mengulurkan tangan.
"Gak apa-apa, Ma. Winda juga kangen sama Zia." Winda mengecupp pipi Chubby Kezia berkali-kali.
Mereka pun berkumpul, bersuka ria. Membicarakan hal-hal bahagia dan terutama kelucuan anak-anak Arjun dan Olivia.
"Nanti malam, Zia mau bobo sama bundaaa!" celetuk Kezia yang sudah dalam pangkuan. Tidak lagi dalam gendongan.
Kavi langsung masam, lalu melirik abangnya.
"Iya, gak apa-apa. Kita nginep di rumah oma 2 malam kok." Arjun sepertinya sengaja. Kavi tambah keki. Dan semuanya langsung tertawa.
Tidak terasa, sore pun tiba. Winda ada di dapur bersama Olivia. Sedangkan yang pria, ada di ruang theater, sedang nonton film.
__ADS_1
"Setelah pindah, rencananya mau apa, Win?" tanya Olivia mencoba basa-basi. Karena mereka memang jarang ketemu. Meksipun agak canggung, Winda mencoba membaur.
"Mungkin sebulan ini Winda off dulu, Mbak. Mau istirahat. Barulah Winda pikir nanti."
"Iya, pengantin baru memang butuh libur. Jangan kerja ... kerja aja. Hehehe ... biar cepet dapat momongan, kaya Mbak."
"Iya, Mbak." Winda sedikit malu-malu.
"Mau nggak, Mbak kasih resep biar cepet jadi?"
Uhuk uhuk uhuk
Winda langsung terbatuk, dan Olivia yang jahil langsung terkekeh.
"Gak usah malu, menikah kan memang untuk melahirkan keturunan juga. Tuh .. Mbak lihat Kavi ngebet pengen baby."
"Eh ... iya, Mbk."
"Bulan madu yang jauh, yang lama juga. Biar pulang langsung isi," goda Olivia lagi. Membuat pipi Winda merona.
"Apanya yang isi!" celetuk Kavi yang baru datang langsung nimbrung.
"Bukan apa-apa! Bantu bawain buah buat Kezia!" sela Winda yang malu.
Kavi menatap aneh, tapi langsung menurut dan pergi. Setelah Kavi pergi, Olivia kembali memancing Winda.
"Gak perlu malu, apalagi depan suami. Malunya buang jauh-jauh." Olivia sok bijak, padahal dulu, ia seperti pasangan kanebo kering saat bersama Arjun.
Winda yang tidak tahu masa lalu Olivia, hanya mengangguk. Dan menganggap kakak iparnya itu adalah suhu.
***
Malam harinya, Kavi sudah ketar-ketir saat Kezia masuk kamar. Akan tetapi ia tersenyum puas saat jam delapan malam, keponakannya itu sudah terbang ke alam mimpi. Kezia tidur dalam pelukan Winda. Dengan hati-hati, ia membopong tubuh munggil itu ke kamar orang tuanya.
"Mas ... Kavi mau dinas. Tolong bantu jaga Kezia!"
Blukkkk
Sebuah bantal langsung melayang, Kavi pergi sambil terkekeh dan menutup pintu kamar di mana Kezia sedang terlelap.
Kavi berjalan, masih dengan wajah sumringah.
"Kav!" suara Gadhi membuatnya menoleh.
"Nonton bola sama Papa. Ada pertandingan seru, kalau lihat sendirian papa suka ngantuk! Arjun juga sedang jagain anak-anak. Lama juga Kita nggak ngobrol."
Ngekkk
Hati, pikiran, semuanya sudah tertuju di kamar. Setelah Kezia, kenapa harus sang papa?
"Kita lihat besok malam, Pa. Kavi kok ngantuk." Kavi mencari alasan. Pura-pura menguap berkali-kali. Sambil mengusap wajahnya.
"Ini malam final, seru. Sini ... temani Papa. Biar Papa minta mama siapin camilan sama kopi."
__ADS_1
'Astaga Papa! Kavi mau dinas malam. Ish!' bersambung.