
Kekasih Bayaran Bagian 100
Oleh Sept
Tap tap tap
Terdengar derap langkah kaki yang mendekat, membuat Kavi melepaskan pelukan. Dilihatnya dari belakang lagi, posture tubuh wanita di depannya agak aneh. Sepertinya bukan Winda, meskipun baju yang dikenakan adalah milik istrinya sehari-hari.
"Tuan sudah datang, Tuan mau kopi?" tanya suster yang baru muncul sambil membawa teko kosong.
Kavi menghela, kemudian mengintip siapa yang dia peluk tadi. Dan saat wanita di depannya itu berbalik, Kavi mengumpat kesal dalam hati.
'Sialll!'
Tanpa malu, Berbi melempar senyum manis pada Kavi saat kedua mata mereka bertemu. Karena jengkel, sebab Berbi diam saja tadi saat ia salah peluk, Kavi pun langsung bergegas. Meninggalkan suster yang bengong karena Kavi berjalan dengan tatapan marah dan gusar.
***
Di dalam kamar, Kavi melihat Winda yang tertidur sambil memeluk sebuah buku. Kavi lantas mengambil buku itu, meletakkan di atas nakas. Kemudian menghela napas panjang.
'Astaga ... apa yang terjadi barusan? Apa suster itu tahu? Sialannnn!' Kavi mengusap wajahnya dengan kasar. Mungkin takut suster mengadu pada Winda besok.
Pusing, pria itu memutuskan mandi terlebih dulu. Dan ketika baru selesai membersihkan diri, Winda sudah terbangun. Mungkin mendengar gemricik air dari kamar mandi, membuat Winda jadi bangun, hamil 2 bulan ini ia jadi lebih sensitive dalam semua hal.
"Sudah bangun?" tanya Kavi yang masih memakai bathrobe. Pria itu berjalan mendekati Winda yang wajahnya masih kusut.
"Hemm."
"Bagaimana perutnya? Apa masih mual?"
Winda menggeleng. "Sudah mendingan. Oh ya, aku lupa bilang. Tadi siang Berbi ke sini. Boleh ya dia nginep beberapa hari."
Kavi menelan ludah, ingat kejadian tadi. "Apa dia gak kuliah?" tanya Kavi mengalihkan pikirannya.
"Lagi libur."
"Ibunya?"
"Masih di Medan."
Kavi tidak melanjutkan bertanya, sebab ia benar-benar malas berurusan dengan keluarga Winda yang satu itu.
"Mau pulang kapan? Jangan lama-lama di sini!" celetuk Kavi yang sedang memilih baju.
Winda langsung masam, mengapa suaminya terkesan mengusir saudaranya itu. "Gak boleh, ya?" tebak Winda yang memang sangat sensitive.
"Bukan itu masalahnya," sela Kavi kemudian memakai kaos kasual.
"Terus apa?"
"Sudahlah, gak usah dibahas!" Tiba-tiba Kavi jadi bad mood. Jika Winda makin sensitive, Kavi pun sama. Satu bulan puasa membuatnya sering uring-uringan mendadak.
"Kamu kok marah, sih?" protes Winda.
"Aku gak marah!"
"Itu marah!"
"Astaga!" Kavi menghela napas panjang kemudian mengusap wajahnya pasrah. Benar, ia memang marah. Ini pasti gara-gara pelukan tadi dan juga karena lama tidak dapat jatah.
"Kamu sekarang beda banget," ucap Winda yang ngambek.
"Aku cuma capek, aku gak marah!" ujar Kavi.
__ADS_1
"Alasan!" Winda pun memutuskan turun, ia jadi bete melihat suaminya yang bermuka masam itu.
"Mau ke mana?" Suara Kavi bagai angin, membuat Winda bergeming.
***
Satu jam sudah Winda di luar, dan Kavi memilih di kamar seorang diri. Entah mengapa mereka tambah perang dingin. Kavi kini memilih menyalakan laptop, memeriksa berkas dan pekerjaan dari para pikirannya ke mana-mana. Sesaat kemudian pintu malah terbuka. Yakin itu adalah Winda, Kavi langsung berdiri. Hendak menyusul istrinya yang ngambek keluar kamar tadi.
"Kopi, Mas." Berbi datang membawa nampam. Saat gadis itu akan melangkah semakin dalam, Kavi langsung menghentikan dengan kata-katanya.
"Bawa itu kembali, dan tolong tutup pintunya lagi!" cetus Kavi dingin.
Berbi tersenyum getir, kemudian berjalan maju. Gadis itu seolah tidak takut akan kemurkaan Kavi yang jelas sudah terasa.
"Mas Kavi jangan takut, Berbi bisa jaga rahasia!" ucap gadis tersebut kemudian meletakkan kopi di atas meja. Berbi juga menatap sofa yang sudah ada bantal dan kain selimut. Ia kemudian tersenyum jahat.
"Aku bisa kok kasih lebih, bukan sekedar pelukan seperti tadi," ucap Berbi sangat berani dengan nada yang menggoda.
"Keluar dari kamar ini!" sentak Kavi marah.
"Mbak Winda sedang bersama suster, mereka sedang asik nonton film. Mas Kavi nggak usah takut. Aku gak akan laporin ke mbak Winda."
Berbi dengan berani semakin mendesak, hingga jarak keduanya hanya tinggal beberapa jengkal.
"KELUAR!" teriak Kavi yang menahan marah sejak ia pulang tadi.
"Jangan teriak, nanti mbak Winda dengar. Dan jangan jual mahal, aku tahu ... sepertinya Mas butuh kehangatan. Kenapa tidur di sofa? Apa karena mbak hamil jadi gak mau berhubungan ... emmm ... Bagaimana dengan Berbi? Bi bisa kasih, Bi juga akan jaga rahasia," bisik Bernie yang begitu aggressive.
"Kamu mau saya lempar atau keluar dengan kakimu sendiri?" sentak Kavi marah. Ia menatap jijikk pada gadis yang minta digaruk tersebut.
"Oke, sepertinya Mas masih takut kalau kita di sini. Lagian juga nggak aman, kalau Mas mau, Barbie siap di calling kapan aja!" seru gadis tersebut dengan mengerlingkan mata membuat Kavi semakin kebakaran jenggot.
"Aku keluar dulu, Mas bisa pikirkan lagi tawaran Berbi," bisikan penuh racun.
Berbi hanya tersenyum, kemudian mengedipkan sebelah matanya.
'Cukup besar!' batin Berbie kemudian menutup pintu.
***
Di ruang keluarga, Winda malah tertidur. Film yang ia tonton sudah habis, dan dia juga sudah tertidur.
Kavi keluar saat suster mengetuk pintu, ya Kavi mengunci pintu setelah ulat bulu itu pergi. Dia baru membuka pintu saat mendengar suara suster.
"Ada apa?"
"Nona Winda ketiduran."
Kavi mengangguk. Pria itu pun berjalan ke mana Winda berada. Dan tidak jauh dari sana, ia melihat Berbi. Rasanya ingin mengumpat gadis nakal itu.
Tidak mau kehabisan tenaga memikirkan ulat bulu. Kavi lantas membopong tubuh Winda, tanpa bicara, ia langsung masuk kamar dan menguncinya.
***
Pukul 3 pagi
Kavi yang tidak bisa tidur, memilih bergadang di depan laptop. Ia sama sekali tidak keluar kamar, dan mengunci ganda pintu kamarnya. Takut kalau ada penyusup masuk.
Beberapa saat kemudian
Winda yang tidur, mengerjap. Ia terbangun dan melirik sofa. Dilihatnya Kavi tidak ada. Winda yang menjadi sensitive, mulai memikirkan aneh-aneh. Kemana suaminya?
"Sayang ...!"
__ADS_1
Kavi yang mendengar Winda terbangun, langsung membuka pintu yang menghubungkan dengan balkon.
"Terbangun?" tanya Kavi kemudian meletakkan benda yang semula ia apit dan mengeluarkan asap.
Winda menatap heran, sejak kapan suaminya jadi pero kok?
"Apa itu?"
"Bukan apa-apa, ayo tidur lagi!"
Winda tidak beranjak, ia malah bertanya pada suaminya.
"Kamu kenapa? Apa ada masalah?" Winda mengendus sesuatu yang tidak beres. Ia hafal kebiasaan suaminya itu. Pasti ada sesuatu.
"Cuma masalah kantor," Kavi mencoba mencari alasan.
"Hanya masalah perusahaan?"
Pria itu mengangguk, tapi Winda sama sekali tidak percaya. Dari mata suaminya saja ia bisa tahu, kalau suaminya sedang berbohong.
"Bohong!"
"Ya ... aku bohong." Kavi kemudian berjalan melewati istrinya. Ia kemudian berbaring di atas sofa yang sebulan ini menjadi tempat peraduannya.
Winda yang dalam mode sensitive bin possessive, langsung berdiri di samping sofa.
"Apa ada wanita lain?"
Kavi mendesis kesal. "Pertanyaan macam apa itu?"
"Kamu beda!"
"ASTAGA!"
"Kamu sering marah-marah!"
"Sudah, Win. Cukup."
"Kamu gak sayang aku lagi, kan?" tanya Winda dengan tatapan nanar. Ia menjadi curigaan. Padahal sikap Kavi yang uring-uringan karena harus puasa satu bulan lebih. Harus tahan tidak menyentuh istrinya. Padahal sudah ingin sekali.
"Ish!"
"Kamu berubah sejak aku hamil!"
"Winda, aku bahkan belum tidur hari ini. Mari kita tidur. Kita bicarakan besok lagi. Aku lelah."
"Kamu bahkan tidak mau bicara denganku, tidak mau menatap mataku ... kamu pasti selingkuh!" cerocos Winda dengan mata yang sudah merah. Sepertinya bendungannya akan ambrol.
"Ishhhh!"
'Maaf, Winda ... kamu benar-benar menguji kesabaranku,' batin Kavi yang kemudian berdiri.
Winda yang tadi marah-marah hampir menangis kini merasa takut sendiri. Sorot mata suaminya membuatnya bergidik.
"Sayang, kamu mau apa ... aku gak mau!" Winda berjalan mundur apalagi Kavi mulai melepaskan semua kancing bajunya.
"Sepertinya kamu butuh asupan gizi yang lain, agar ngomongnya gak ngaco!" cetus Kavi yang sudah di ubun-ubun, dan setelah melepaskan pakain ia langsung membopong Winda.
Bersambung
__ADS_1