Kekasih Bayaran

Kekasih Bayaran
AYAH


__ADS_3

Kekasih Bayaran Bagian 95


Oleh Sept


"Siapa yang telpon?" tanya Kavi saat dilihatnya wajah Winda yang berubah pucat.


"Kavi, kita harus ke Medan, sekarang," ucap Winda dengan bibir yang bergetar. Matanya berkaca-kaca, ada kesedihan yang mendalam yang tergambar di dalam matanya.


"Winda, aku gak mau kamu susah lagi. Banyak pikiran dan malah sakit hati! Sudah, jangan ikut campur lagi dengan urusan mereka," ujar Kavi marah. Ia masih dendam karena sikap mereka pada Winda waktu dulu.


"Baiklah, aku mau ke Medan sekarang. Gak apa ... kamu di sini saja!" ucap Winda sambil terisak.


"WIN!"


Winda menutup wajahnya dengan kedua tangan, tangisnya pecah. Ia terisak, menangis sesengukan.


"Oke, aku akan kirim pengacara. Kita gak usah ke sana!" ucap Kavi tegas.


Tangis Winda langsung menjadi, membuat Kavi panik. Pria itu kemudian mencoba menenangkan istrinya.


"Kamu kenapa?"


Ditatap penuh perhatian dari pria satu-satunya yang ada di dalam hatinya, Winda langsung memeluk Kavi.


"Anterin aku ke sana, Kavi!" bisiknya disertai isak tangis.

__ADS_1


"Oke! Aku pesankan ticket sekarang. Tapi Kita pulang dulu."


Winda mengangguk setuju. Malam itu juga mereka terbang ke Medan setelah pamit Hanum dan Gadhi. Sampai di sana, sudah tengah malam. Mereka tidak langsung ke rumah Pak Ruhut, karena rumah itu sudah digembok oleh pihak Bank. Seperti kabar yang didapat dari Kumala, mereka langsung ke rumah sakit.


***


Di depan ICU, Winda menangis sambil memeluk suaminya. Ayahnya kritis karena serangan jantung ketikan dalam tahanan. Menurut keterangan saksi, Pak Ruhut terlibat perkelahian dengan sesama tahanan.


"Saya sudah hubungi kamu berkali-kali, kenapa kamu nggak peduli? Dasar anak DURHAKA! Puas kamu lihat ayahmu seperti ini? Saya tahu kamu pasti dendam pada kami! Tapi dia tetap orang tuamu. Hanya karena kamu sekarang menikahi laki-laki kaya, kamu sudah lupa daratan!" Kumala marah, ia berteriak merutuki Winda yang sedang menangis.


Sedangkan anak gadis Kumala, mencoba menenangkan ibunya. "Ma! ini rumah sakit, Mama jangan membuat keributan!" seru Berbi yang merasa sang mama keterlaluan.


"Jangan ikut-ikut, kamu gak tahu apa-apa!" sentak Kumala pada putrinya.


Putrinya yang tahu bahwa kalau marah Kumala menjelma jadi singa, ia pun langsung diam. Tidak lagi mencoba melerai. Nanti ia malah kena awan panas dari si Kumala yang hobby marah-marah tersebut karena tidak punya uang, alias sudah bangktut.


'Pasangan laknattt!' umpat Kumala yang sakit hati.


KLIK


Pintu terbuka, seorang dokter keluar kemudian membuka masker biru yang menutupi mulutnya.


"Ada yang bernama Winda?" tanya dokter.


Winda langsung mendekat, bersama dengan Kumala dan si Berbi.

__ADS_1


"Satu orang saja, ikut masuk ke dalam."


"Saya istrinya!" sela Kumala.


"Apa Nyonya bernama Winda?"


Kumala langsung bermuka masam. 'Bahkan mau mati pun kau hanya ingat dia. Aku belasan bahkan lebih sudah menemanimu! Cih!' Kumala mengumpat kesal dalam hati.


Sedangkan Winda, setelah menatap suaminya yang mengangguk ke arahnya. Winda lantas masuk dengan langkah berat. Dilihatnya di dalam sana, tubuh sang ayah dipenuhi memar. Ditambah luka yang masih menganggah.


Tidak bisa berbicara lagi, Winda hanya menangis kemudian memeluk tubuh ayahnya.


"Ma-Maaf ..."


Tangis Winda semakin menjadi, da danya sesak seketika, ketika mendengar ayahnya terbata mengucap maaf. Winda yang memang sangat marah pada pria tersebut, melihat ayahnya sekarang, kemarahan selama ini seakan hilang tanpa sisa.


"Nda ... Win ... nda!"


Winda mengangkat wajahnya, kemudian menatap wajah sang ayah yang sudah pucat tersebut.


"Ma-ma-maafkan a-ayah!" Tangan Ruhut terangkat, ingin mengusap wajah putrinya. Sayang, belum sampai tangan itu melayang diudara sebentar kemudian terhempas.


"Yah ... Ayahhhhhhh!"


Bersambung

__ADS_1



__ADS_2