
Usai menginap semalam, paginya Naina pamit pulang. Rencananya ia akan memberesi rumahnya yang hancur berantakan.
Karena dari pihak kepolisian tidak ada kemajuan sama sekali, membuat Naina ingin kembali ke rumah yang beberapa tahun terakhir ini ia tinggali.
Andre melarang keras, ia mengkhawatirkan banyak hal. Tetapi Naina kekeuh pada keinginannya, dengan berat hati, lelaki yang kini berstatus kekasihnya itu terpaksa menyodorkan Abbas sebagai bodyguard sementara. Sampai ia pulih total.
Abbas yang seolah mendapat kesempatan emas, langsung saja mengiyakan meski Naina kerap kali menolak.
Walau begitu, pada akhirnya mereka kini berakhir dalam satu mobil. Abbas menyetir di depan, dan Naina di belakang. Persis seperti supir dan penumpang.
"Nai, duduk depan napa? Kan gue kayak supir jadinya," keluh Abbas memonyongkan bibir.
"Biarin, siapa suruh nekat ikut."
"Ck, emangnya lo gak takut si pembunuh berantai itu balik lagi?" tanya Abbas telak. Menohok ulu hati.
Ya, yaa, gue takut sih, tapi tetep aja dong. Masa gue numpang mulu di rumah orang," kilah Naina.
Tujuan Naina sebenarnya adalah ingin menyelidiki sendiri siapa dalang di balik semua ini. Gadis itu yakin, pelakunya pasti mempunyai dendam terhadapnya.
"Makanya kan gue temenin."
Naina diam saja, tak menyahuti Abbas lagi. Suasana hatinya masih buruk, meski satu beban berat di hatinya telah terangkat saat melihat Andre sadar kembali.
Tak berapa lama, mobil mereka berhenti di depan sebuah gang. Naina turun dan mulai melangkah memasuki gang. Sedangkan Abbas mencari tempat parkir.
Gadis itu termenung di depan sebuah rumah yang kini tampak seperti rumah hantu itu. Banyak sarang laba-laba di kanan kiri atap.
Melangkah memasuki halaman yang tak seberapa luas, gadis itu berhenti tiba-tiba. Membuat Abbas hampir saja menubruknya.
Ada rasa takut dan keraguan yang hinggap di hatinya, trauma membuatnya harus membulatkan tekad untuk berani membuka handle pintu yang kini berada satu meter di depannya.
"Nai, kalau gak sanggup. Mending lain kali deh," pinta Abbas menangkap sinyal keresahan yang dirasakan gadis itu.
"Gue gak takut," cicit Naina, lebih kepada diri sendiri.
"Nai, lo yakin?" tanya Abbas yang kini justru ragu.
__ADS_1
Gadis itu mengangguk, meraih handle pintu dan menekannya pelan. Pintu terbuka, seketika hawa pengap menyambut penciumannya. Naina menutup hidung, merasa mual saat mencium bau amis dan bangkai.
Abbas yang melihat dari mana sumber bau itu, gegas menutup pintunya dan menarik Naina menjauh.
Mata elang itu tampak bergetar, sebuah bangkai manusia tergeletak tak jauh dari pintu utama. Abbas mengepalkan tinju, geram karena pihak kepolisian begitu enteng menanggapi kasus ini.
Segera mereka kembali ke mobil dan menuju kantor polisi setempat, melaporkan kejadian, beberapa anggota akhirnya menuju TKP bersama Naina dan Abbas.
Polisi segera mengamankan jasad yang sudah membusuk itu, untuk dilakukan autopsi. Katanya kemungkinan besar sudah lebih dari tiga hari mayat itu di sana.
Tetangga sekitar rumah Naina memang sepi, bahkan beredar kabar banyak yang menjual rumah mereka dan pindah dari sini semenjak ada pembunuhan berantai itu.
Naina menatap ngeri pada apa yang dilihatnya, Abbas menarik gadis itu agar tak terus menerus melihat.
Pihak kepolisian menyarankan Naina untuk pindah saja, karena lingkungan menjadi lebih sepi dan rawan tanpa tetangga sekitar.
Akhirnya, dengan langkah gontai. Naina ikut Abbas kembali ke kediaman Kurniawan. Polisi berjanji akan membantu menuntaskan masalah ini.
Saat perjalanan ke sana, Naina merasa ada mobil yang mengikuti. Entah hanya perasaan saja karena terlalu parno atau memang benar ada.
Abbas memberi kode pada Naina agar berpegangan, gadis itu mengangguk bersamaan dengan setir yang dibanting secara tiba-tiba.
Kecepatan meningkat drastis, Naina memejamkan mata karena takut. Abbas tiba-tiba mengebutkan mobil di tikungan tajam, melalui jalan pintas.
Membuat jeep hitam itu kelabakan dan tak sempat mengejar, setelah jauh dan berbaur dengan keramaian. Abbas memelankan laju kendaraanya.
Menyentuh lengan gadis itu pelan, Naina membuka mata perlahan. Bersyukur masih hidup.
"Udah aman," ucap Abbas.
"Rasanya kayak mau copot jantung," cicit Naina dengan parau.
Abbas terkekeh geli, menatap gadis itu sekilas. Kemudian fokus mengemudi.
"Gak perlu takut, gue ini pembalap handal," sahut Abbas bangga.
"Cih, gak percaya," desis Naina meragukan.
__ADS_1
Oh, jadi mau coba sekali lagi kayak tadi?" tantang Abbas.
Naina bergidik ngeri sembari menggeleng, perasaannya masih tak karuan.
"Gak! Iya deh, gue percaya," ucap Naina mengaku kalah.
Abbas tersenyum menang, tak lama lagi mereka sampai di kediaman Kurniawan. Naina mencoba menetralkan detak jantungnya. Ia tak ingin melihat Andre cemas dan menghambat pemulihannya.
Saat mobil mereka memasuki halaman, sungguh hal mengejutkan melihat Andre berada di taman bersama Ayesha.
Ada rasa panas yang menjalari dada, Naina menatap dari dalam mobil. Bersama dengan Abbas.
Posisi lelaki yang tengah menggunakan kursi roda itu menjadi lebih pendek dari Ayesha. Tiba-tiba Ayesha menunduk dan mencium Andre tepat di depan Naina. Bersamaan dengan bulir bening yang dengan cepat membasahi pipinya.
Andre tampak marah dan mendorong Ayesha. Tetapi hati Naina sudah terlanjur marah dan cemburu, membuatnya merasakan sakit yang teramat.
Abbas menatap Naina dan mengusap bulir bening itu, memutar arah, mobil kembali keluar menyusuri jalanan, menyisakan seorang gadis yang menangis tersedu. Bersama dengan seorang lelaki yang hatinya juga teramat hancur.
Terkadang, cinta memang serumit itu. Membuat hal sepele menjadi terlihat besar, menghujami pengorbanan dengan pesakitan.
Abbas melajukan mobil menuju pinggiran kota, jembatan tempat keduanya pertama kali bertemu.
Naina segera turun dari mobil begitu sampai, menuju sisi jembatan dan menatap sungai yang mengalir deras di bawahnya.
Hembusan angin yang kencang seolah menampar wajah keduanya. Dua insan yang sama-sama patah oleh cinta. Cinta yang seharusnya membahagiakan, bisa berubah menjadi kian menyakitkan.
Pikiran melayang seiring mata memandang di kejauhan, sama-sama berpikir. Bagaimana rasanya jika mereka sama melompat ke bawah. Mungkinkah hanya sakit sesaat? Kemudian berbagai macam beban hilang?
Tidak, tidak. Ketika pikiran keduanya berkelana terlalu jauh, kini mereka mendapatkan gambaran.
Mungkin tubuh mereka akan hancur di terkam ganasnya bebatuan, sakitnya takkan kunjung hilang. Masa depan tak ada lagi dalam angan.
Untung saja, keduanya masih mempunyai kewarasan. Segera kembali ke kenyataan, dan menata kembali hidup meski dalam pesakitan.
Keduanya saling pandang, seolah mengerti isi hati masing-masing. Kemudian mengangguk pasti dan melaju pulang.
Bersiap melawan, meski nyawa menjadi taruhan.
__ADS_1