
Kekasih Bayaran Bagian 59
Oleh Sept
"Aku haus, ambilkan minum!" ucap Kavi setelah melonggarkan dasi. Pria itu langsung duduk di sofa, seperti pemilik apartment. Dan ia malah meminta Winda mengambilkan minum untuknya.
Winda yang masih kaget, menatap aneh pada sosok pria yang kini melepaskan sepatunya juga.
"Kav! Jangan aneh-aneh. Tolong tinggalkan tempat ini!"
"Aneh-aneh? Aku hanya minta minum!" celetuk Kavi, pria itu kemudian bersandar dengan gaya santai. Benar-benar menganggap tempat itu sepertinya rumahnya sendiri.
'Habis minum awas kau tidak pergi!' gerutu Winda sambil mencari minuman dingin di dalam kulkas.
Saat Winda mengambil minum, Kavi memindai seluruh ruang apartment di sana.
'Besar juga!' batin Kavi.
Ia kembali memasang muka serius ketika Winda datang dengan minuman di tangannya.
"Habiskan dan silahkan pergi dari sini!" usir Winda sok galak.
"Kau mengusirku? Aku bahkan belum minum!" Kavi mendesis kemudian meraih botol minuman dingin yang diberikan oleh Winda.
Winda melengos, memalingkan muka. Tidak mau menatap wajah Kavi yang menjengkelkan itu. Sedangkan Kavi, ia minum tapi ekor matanya melirik Winda. Terlihat dari samping wajah Winda yang cemberut.
__ADS_1
'Kenapa kau jadi cantik sekali?' tanya Kavi dalam benaknya.
Tiga tahun berpisah tanpa kabar, cukup membuat Kavi tidak sabar untuk bertemu. Tapi karena sang mama masih dalam pemulihan. Kavi memilih menahan, nanti jika saatnya tiba, ia akan cari wanita itu. Dan sepertinya ini adalah saatnya.
Tapi sepertinya Winda bukan Winda yang dulu. Bisa ia tindas dan menurut atas ancaman hutang. Winda sudah punya banyak uang, dan ancaman pasti tidak akan berlaku lagi. Kavi harus memutar otak lagi, bagaimana caranya menjerat Winda. Wanita yang sudah terlanjur memenuhi isi kepalanya.
Hingga wanita lain yang singgah, tidak pernah bisa masuk. Sebab Kavi sudah mengunci rapat pintu hatinya. Terlanjur terpaut, Winda seolah punya magnet tersendiri yang membuat Kavi tertarik. Apalagi sekarang, Winda sangat cantik. Membuat Kavi ingin memiliki wanita yang masih single tersebut.
"Sudah habis, kan? Bisa kamu tinggalkan tempat ini?" tanya Winda kemudian. Suaranya membuat Kavi tersadar dari lamunan.
"Sombong sekali! Hanya karena punya uang banyak sekarang kamu jadi sombong!" celetuk Kavi menyindir. Wajahnya pun jadi masam.
"Ingat dulu! Aku bahkan tidak pernah mengusirmu!" sambung Kavi yang mengungkit masa lalu. Di mana ia selalu menolong Winda, sampai memberi gadis itu tumpangan. Ya, ia sampai disalahpahami oleh Hanum karena tinggal satu apartment dengan Winda kala itu.
Winda menghela napas panjang, kemudian pergi ke kamar. Kavi mencoba mencari tahu apa yang wanita itu lakukan. Sesaat kemudian Winda muncul dengan koper kecil.
"Kamu tidak paham tentangku? Simpan uangmu!" Kavi mendorong tas itu agar menjauh dari hadapannya.
"Huufttt! LALU KAU MAU APA?" tanya Winda dengan nada tinggi yang penuh penegasan. Ia kesal dengan Kavi yang mengejar bak rentenir sampai menerobos masuk apartment miliknya.
"Tolong jangan ganggu aku lagi, setelah hutang dibayar. Kita sudah selesai, tidak ada urusan lagi. Aku harap kamu bisa bersikap dewasa!" sambung Winda setelah menarik napas panjang agar tidak emosional.
"Aku bahkan belum memulainya, apanya yang selesai? Hem? Menjadi kaya ... rupanya membuatmu jadi pribadi yang sombong dan kaku! Dan menyuruhku bersikap dewasa? Dewasa bagaimana menurutmu? Hem?"
Winda panik karena Kavi mendekat, pria itu pindah duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Apa seperti ini?" Kavi mulai menyentuh dagunya dan mendekatkan wajahnya.
"KAVIII!" sentak Winda kemudian memalingkan wajah.
"Aku ke sini bukan karena uang, itu yang harus kamu tahu!"
Kavi melepaskan tangannya, kemudian ganti menangkup wajah Winda agar menatap dirinya.
CUP
'Kav!'
Degup jantung pun sudah tidak berjalan seperti biasanya. Winda terbelalak, tangannya mencoba mendorong da da bidang tersebut, tapi Kavi bergerak semakin dekat, mengunci tubuhnya. Membuat Winda terpojok.
Sejenak Kavi menarik diri, tapi tangannya masih menangkup wajah Winda yang masih shok.
"Dan Ini bunganya selama tiga tahun," ucap Kavi langsung menyesap lembut bibir Winda.
KLEK
Seseorang masuk, kemudian berjalan santai masuk ke ruang tamu. Tangannya membawa tas kresek dan tangan satunya membawa paper bag kecil.
"Astaga!"
Bersambung
__ADS_1