
Kekasih Bayaran Bagian 57
Oleh Sept
Di salah satu gedung tertinggi dengan view menghadap pantai, Winda dan timnya sedang menyiapkan beberapa berkas. Sebentar lagi meteka akan meeting. Membahas beberapa hal mengenai pengembangan resort di tepi pantai.
Winda sudah serius, sedangkan yang lain masih terlihat bercanda. Ini semua karena mereka sedang menunggu. Meeting ternyata mundur setengah jam karena pimpinan masih di jalan.
Beberapa saat kemudian, seorang pria berpakaian rapi dan berambut klimis datang bersama beberapa orang yang berjalan di belakangnya. Winda dan yang lain pun ikut bergabung. Meeting akan segera dimulai.
Awalnya semua berjalan hampir sangat mulus, tidak ada kendala yang serius. Winda seperti biasa, sangat fasih ketika presentasi dengan bahasa asingnya. Ya, karena beberapa peserta meeting waktu itu hanya bisa bahasa mandarin. Ada pun bahasa inggris mereka paham, tapi tidak seperti jika dijelaksan dengan gamblang seperti bahasa mereka sehari-hari.
Seperti biasa, Winda selalu bisa membuat para peserta yakin akan semua ide-ide brilliant yang sudah ia susun bersama timnya. Hingga senyum puas mengembang di bibirnya saat rapat kerja berakhir.
"Xie xie nin," ucap Winda sambil berjabat tangan dengan salah satu pengusaha berumur tapi Babyface yang bermata sipit dan seperti artis tersebut. Ia mengucap terima kasih karena kesepakatan mereka yang sudah deal.
"Buyong xie!" balas Cici yang jika tersenyum maka matanya tidak terlihat.
Setelah basa-basi habis meeting, semua pun meninggalkan ruangan. Dan seperti biasa pula. Winda akan keluar paling akhir. Ia akan menatap ruangan itu sebentar, menyimpan dalam memorinya.
'Ibu ... hari ini aku berhasil lagi ... ibu ... apa kau melihatku?'
Winda tersentak kaget ketika terdengar pintu terbuka. Dilihatnya Kadek datang membawa tas besar.
"Apa ini?" tanya Winda heran.
"Sorry, gue tinggal dulu. Kita bisa pakai ruang ini beberapa jam lagi. Gue sejam lagi ke sini, ini Bu Sarita nyuruh gue balik segera. Lo tetap di sini. Gue balik dulu!"
"Lah! Dek ... Kadekkk!" teriak Winda tapi sama sekali tidak digubris oleh teman satu apartmentnya itu.
"Apa-apaan sih ini Kadek?" Winda mengusap wajahnya, kemudian melihat tas penuh berkas, akan ia kerjakan di rumah, ia pun meletakkan benda itu di samping kursi.
"Itu kenapa main tinggal-tinggal di Kadek! Ish!" Winda mengerutu. Ia menatap sekeliling. Kemudian bicara pada dirinya sendiri sekali lagi.
__ADS_1
"Balik aja, ngapain di sini sendirian?" gumam Winda kemudian berjalan menuju pintunya.
Saat tangannya menyentuh knop pintu, ia merasakan pintu sedang dibuka dari luar. Winda spontan mundur. Takut kepalanya terbentur.
"Ngapain lagi?" tanya Winda saat pintu terbuka sempurna. Winda sih yakin, yang masuk lagi pasti Kadek, entah apa lagi yang tertinggal atau apapun itu.
Tapi ketika mata Winda menatap tepat ke depan, yang terlihat pertama kali oleh kedua bola matanya adalah dasi polos warna merah hati. Kan pasti bukan Kadek, sejak kapan Kadek pakai jas untuk pria.
Reflek, Winda mendongak. Perlahan menatap ke atas. Sempat kaget, sangat kaget malahan. Tapi Winda mencoba terlihat tenang. Mana pernah ia mengira akan bertemu dengan pria itu lagi. Huffff, jantungnya sempat berdegup kencang sesaat.
"Kau ...!" lidahnya yang selalu lancar di depan semua orang, mendadak kelu dan sulit berkata-kata. Winda tiba-tiba jadi gagap. Speechless karena ketemu sosok pria yang lama tidak ia temui.
Sementara itu, Kavi mulai memasang wajah dingin. Padahal dalam hati sangat ingin memeluk wanita yang ia selidiki masih belum menikah tersebut.
Pria itu melangkah maju, kemudian tanpa menoleh ia tutup lagi pintunya dari dalam.
KLEK
Entah mengapa, suara pintu yang tertutup itu mendadak berubah menjadi suara yang menegangkan bagi Winda saat ini. Bagai back sounds sinema horor. Ingin mengatakan sesuatu, tapi Winda malah gagu. Bibirnya hanya bisa terbuka sedikit tanpa mengeluarkan suara apapun.
"Ke-kenapa kau ada di sini?" akhirnya pertanyaan itu bisa lolos keluar dari bibirnya.
"Apa kau melupakan sesuatu?"
Winda menatap pria tampan itu tanpa kedip.
"Melupakan sesuatu?" ulang Winda dengan lirih. Tiba-tiba ia tersenyum kecut. Ya, pasti Kavi datang untuk menagih hutang. Astaga ...
'Kau benar-benar seperti debt collector, kedatanganmu disertai aura mistis!'
"Tidak ... aku tidak lupa," ucap Winda mencoba tenang. Entah mengapa, ditatap Kavi membuatnya gelisah.
"Bagus!" ucap Kavi kemudian menarik diri. Pria itu lalu duduk di salah satu bangku yang sudah tertata rapi di dalam sana.
"Mana nomor rekeningmu, akan aku transfer sekarang."
__ADS_1
Winda mencari ponselnya di dalam tas dan belum ketemu, ia akan melakukan pembayaran hutang. Selama ia mencari ponsel, Kavi terus saja memperhatikan. Merasa diperhatikan, Winda pun jadi merasa kurang nyaman.
"Mana?" tanya Winda saat sudah memegang ponsel. Ia minta nomor rekening Kavi.
Kavi diam sejenak, kemudian duduk dengan sikap sempurna.
"Aku mau bunganya, sekarang!" ucap Kavi. Ia mengetuk meja dengan jarinya berkali-kali dengan jeda yang sama. Tuk ... tuk ... tuk ...
"Baik, akan ku berikan."
"Tapi aku tidak mau uang. Kau tahu kan, uang bukan masalah bagiku?"
Winda menelan ludah dengan kasar. 'Siall!' ia mengumpat pada Kavi dalam hati.
"Lalu kau mau apa? Pak Kavi?" tanya Winda dengan kata penuh penegasan.
"Simpan semua uangmu, ikut denganku malam ini, maka semua hutangmu lunas!"
Mata Winda melotot tajam. Ia kemudian mendesis kesal.
"Jangan konyol Pak Kavi! Sebutkan berapa yang kau mau. Aku tidak akan menolak!"
Kavi yang semula menatap tajam dan serius, kemudian berdiri dan mendekati Winda. Jelas Winda semakin panik, karena pria itu malah berjalan semakin dekat ke arahnya.
"Jangan macan-macam, aku bisa berteriak dan itu akan berakibat buruk pada imagemu!" ancam Winda meski ia sendiri sedang takut dan terdesak.
"Teriak lah ...!" bisik Kavi yang langsung saya mendaratkan bibirnya. Entah mengapa, ia seperti lepas kendali.
'Kavvv!'
BRUAKKK ...
Tubuh Kavi membentur salah satu kursi saat Winda mendorong tubuh tegap itu dengan keras.
"Apa yang kau lakukan?" sentak Winda marah sambil mengusap bibirnya dengan kasar.
__ADS_1
BERSAMBUNG