
Kelopak mata itu mengernyit terkena sinar matahari yang masuk melalui jendela kaca. Naina tak ingat bagaimana ia bisa berakhir tertidur di lantai saking takutnya tadi malam.
Ting! Ting!
Suara notifikasi handphone mengusiknya, ia lekas mencari benda pipih itu yang ternyata tertutup selimut di kasurnya.
Lekas ia geser dan membaca pesan yang masuk, satu dari Andre. Satu lagi notifikasi berita lokal harian.
Ia lebih memilih membaca berita terbaru hari ini, di sana tertulis.
(Pukul tiga dini hari, minggu 12 Juni 20××, ditemukan sebuah mayat seorang perempuan berinisial "N" di area pembangunan kembali di Jl. Cipto Gang. Berduri. Korban diperkirakan dibunuh menggunakan benda tumpul, ....)
Naina menutup mulutnya dengan telapak tangan, tak sanggup meneruskan membaca. Inisial yang sama dengan namanya membuatnya bergidik ngeri.
Lokasi pembangunan kembali tak jauh dari sini, bagaimana ia bisa tenang menjalani harinya lagi? Naina menggigit bibir, ketakutan menyelimuti.
'Apa mungkin bayangan semalam?' batin Naina resah.
Lekas ia membuka pesan dari Andre, yang ternyata juga ada banyak panggilan tak terjawab darinya.
[Naina, sudah tidur?]
[Jangan begadang, lekas istirahat ya.]
[Naina, kamu baik-baik saja? Aku baca di berita ada pembunuhan di lingkunganmu.]
Ting Tong!
Bel rumah Naina tiba-tiba berbunyi, gadis itu beringsut mundur, menutupi seluruh badan dengan selimut. 'Siapa?' batinya.
"Bagaimana kalau pembunuh itu? Ini masih jam enam pagi, mana mungkin ada tamu sepagi ini?" gumam Naina sendirian.
Ting tong!
Bel berbunyi lagi, Naina tak berani bergerak. Seluruh tubuhnya gemetar, napasnya semakin memburu. Bagaimana ini? Ya tuhan! Batin Naina menjerit.
Brak! Brak!
Pintu didobrak. Sepertinya ia mulai tak sabar. Gadis itu berusaha mencari nomor Andre, tapi karena tangannya terus gemetar, membuat benda pipih itu justru terjatuh ke lantai di sisi ranjang.
Layarnya pecah dan mati. Naina mendengkus kesal, kenapa harus di saat seperti ini? Batinya gelisah.
Tiba-tiba hening, tak ada gedoran pintu lagi, Naina menghela napas, mencoba tetap tenang.
Tak! Tak!
__ADS_1
Naina terlonjak, kini jendelanya gantian diketuk. Samar, ia mendengar seseorang memanggilnya.
"Na! Naina!"
"Kamu ada di dalam?"
"Andre!" seru Naina seraya menyibak gorden.
Tampaklah wajah panik Andre, lelaki itu tampak ngos-ngosan, tapi sedetik kemudian berubah menjadi lega karena gadis yang ia cari akhirnya muncul.
Sebelumnya Naina tak mengira jika itu Andre, ia terlalu takut dan terkurung oleh imajinasinya sendiri. Sehingga membuatnya tak mampu berpikir jernih.
Segera Naina membuka pintu, Andre masuk dan duduk di ruang tamu. Segelas air ia suguhkan yang langsung diminum habis oleh lelaki itu.
"Kamu bikin aku takut," serak Naina berbicara.
"Habisnya kamu gak bisa dihubungi, aku takut terjadi sesuatu."
"Maaf, soalnya aku baru bangun, gak tahu kamu mengirim pesan dan telepon sebelumnya," cicit Naina.
"Syukurlah kamu baik-baik saja."
Kamu tahu soal pembunuhan di dekat sini?" tanya Naina.
"Itu, terdengar mengerikan."
"Berhati-hatilah, sebaiknya kamu pindah saja, Nai."
"Pindah? Gak bisa, Ndre. Ini rumah yang kubeli dengan keringat sendiri. Banyak kenangan di sini," sahut Naina tampak lesu.
Andre terdiam, memandang wajah gadis yang diam-diam mulai ia sukai itu. Terlihat cantik meski tanpa make up.
"Kamu belum sarapan kan? Ayo kita makan di luar," ajak Andre mencoba mengalihkan kekhawatiran gadis itu.
"Baiklah, aku mandi dulu. Bisakah kamu tunggu di teras depan?"
"Tentu."
Andre melangkah keluar, duduk di kursi teras dengan menyandarkan kepala ke dinding. Dia menghela napas, terasa lelah karena tak bisa tidur nyenyak semalam.
Tak berapa lama Naina sudah siap, wajahnya terlihat lebih segar dari sebelumnya. Gadis itu tersenyum, membuat Andre berbunga.
Mobil melaju membelah padatnya jalanan kota, mereka memilih resto Asian's Food's untuk sarapan.Tempat di mana mereka bertemu lagi setelah sekian lama.
Usai sarapan, Andre mengajak Naina main ke kantor keluarganya, sekaligus bekerja. Ia sudah berjanji pada Mamanya untuk membantu di sini selama satu pekan.
__ADS_1
Naina meminta izin untuk berkeliling melihat suasana selagi Andre bekerja. Ia ingin melihat rooftop yang katanya ada banyak tanaman dan bunga.
Namun, saat pintu lift terbuka, gadis itu terkejut. Ia lupa, bahwa Abbas adalah adik Andre. Sudah tentu adiknya bekerja di sini.
"Gak masuk, Kak?" tanya Abbas dengan seringai tipis.
Kak?" tanya Naina melongo.
"Sekarang kan lagi jalan sama kakakku, atau mau kupanggil 'Sayang'? Kamu gak lupa kan," desis Abbas penuh penekanan.
Naina merasa canggung, tapi jika tak masuk itu sama saja menunjukkan bahwa ia kalah, dengan enggan gadis itu melangkah masuk.
Lift berjalan naik, Abbas terus memperhatikan Naina sampai membuatnya merasa risih. Sejujurnya dalam hati, gadis itu menyesal mengenal Abbas yang sedikit brengsek.
"Kamu gak kangen aku, Kak?" tanya Abbas memulai kebiasaanya. Menggoda.
"Kamu!"
"Ssst! Kak Naina, Sayang. Di sini ada cctv loh," ucap Abbas mengerling nakal.
Naina segera menyingkirkan jemari telunjuk Abbas dari bibirnya, ia merasa jijik dan kesal. Gadis itu heran, bagaimana bisa satu keturunan tapi sangat bertolak belakang.
Kakaknya begitu sopan dan baik, sedangkan adikknya terlihat brengsek dan degil. Naina bergeser mendekat ke tembok besi, menjaga jarak aman dari si tengil.
Lift berhenti di lantai enam dan terbuka. Abbas melangkah keluar dan tersenyum, menggoda Naina, gadis itu mendecih dan segera menutup pintu.
Sesampainya di rooftop, Naina segera melangkah menuju salah satu bangku yang ada di sana. Sepi dan sejuk. Kombinasi yang sempurna untuk menenangkan pikiran yang sedang kalut.
Tidak ada seorang pun di atas ini, karena jam kerja masih berlangsung. Pasti akan sangat ramai saat jam istirahat. Pikir Naina.
Banyak sekali macam bunga yang di tanam, ada anggrek, mawar merah, putih dan kuning. Ada juga bunga camelia, sungguh indah. Naina jadi teringat saat almarhumah sang Ibu mengajarkannya mengeja namanya saat kecil.
Saat itu Naina baru berumur empat tahun, bicara saja masih belepotan, tapi sang ibu mengajarinya dengan telaten.
"Naina Putri Camelia, ayo coba ikuti ibu," ucap sang ibu saat itu
"Na-na Pu-te-li Ca-ma-ia."
Naina tersenyum sendiri mengingat kenangan bersama ibunya, bahkan ia tak pernah dimarahi saat itu. Ibunya justru tertawa lepas dan bahagia.
Tiba-tiba Naina merasa merinding, seolah ada sepasang mata yang mengawasinya. Gadis itu menoleh ke arah pintu masuk secepat kilat.
"Siapa di sana!?" seru Naina was-was.
Hening. Tak ada siapapun.
__ADS_1