
Kekasih Bayaran Bagian 79
Oleh Sept
"Apa agenda kalian?" celetuk Gadhi yang kepo ketika mereka sedang makan pagi bersama.
Kavi kemudian melirik Winda, "Mau adain resepsi di sini apa di Bali?" Kavi balik bertanya pada istrinya yang sedang sarapan tersebut.
Winda lantas meletakkan sendok, kemudian menatap suaminya.
"Terserah saja."
"Bali, saja. Sekalian kita liburan ... Mama kangen pantai," sela Hanum.
"Bagus itu," komentar Gadhi.
"Kita honeymoon lagi, Ma," tambah Gadhi saat teringat perjalanan bulan madu mereka yang dulu gagal naik kapal pesiar. Mereka malah mendarat ke Mexico, Paris, kemudian Swiss.
"Ingat umur, Pa!" celetuk Hanum.
Kavi dan Winda langsung tersenyum, sedangkan Gadhi, wajahnya berubah masam.
"Umur hanya angka, Ma!" balas Gadhi yang tidak mau dipandang sebelah mata.
"Iya ... iya," ucap Hanum kemudian meminta mereka kembali makan, ada beberapa menu hidangan penutup pagi itu. Mereka tinggal pilih mau makan pencuci mulut yang mana.
***
Selesai sarapan, Kavi langsung menarik Winda ke atas kamar. Melihat hal itu, kedua orang tuanya hanya menggeleng kepala.
"Kav, aku gak enak ... masa di kamar terus?"
"Lah kamu mau ngapain? Mau masak? Udah ada bibi. Udah ... rebahan aja, santai. Lusa kita terbang ke Bali. Sekarang harus istirahat, lagian mama pasti ngertiin Kita. Mama kan juga pernah muda," tutur Kavi panjang lebar.
"Iya, sih. Badan aku pegel semua. Aku mau rebahan dulu," ucap Winda kemudian. Dan begitu Winda rebahan, Kavi langsung menyusul dan berbaring di sebelahnya.
Dengan tanpa disuruh, Kavi langsung mulai aktif.
"Katanya aku disuruh istirahat, tadi?" protes Winda ketika tangan Kavi sangat aktive. Winda pun langsung duduk dan menatap Kavi dengan kesal. Sumpah, badan Winda sakit semua. Ini karena semalam dibolak-balik oleh anak Hering tersebut.
"Gak apa-apa, udah ... kamu rebahan aja. Aku gak suruh ngapa-ngapain."
Winda makin melotot, dan Kavi langsung menyerang. Seolah tidak takut, kemarahan Winda malah membuat Kavi semakin jahil.
"Ya ampun Kavi, Kita bahkan baru makan!" protes Winda yang masih kenyang masa diajak aneh-aneh.
"Kamu rebahan aja, toh aku cuma pegang-pegang," Kavi memasang muka tanpa dosa, membuat Winda gemas lalu mencubit salah satu kismis pria tersebut.
"Ish!" Kavi mendesis, ia geli.
__ADS_1
"Jangan macem-macem, aku mau istirahat bentar aja!"
"Iya ... iya ...!"
Akhirnya Winda bisa istirahat sejenak. Karena semalam bergadang, pagi ini ia pun merasa kantuk. Dan lama-lama matanya terpejam. Kavi hanya menatap, karena sudah janji bakal tidak mengusik istrinya itu. Biar nanti malam dapat jatah triple.
***
Menjalani hari-hari pasca menikah di rumah mertua membuat Winda merasa canggung, tapi karena Kavi sering menguncinya di dalam kamar, sedikit mengurangi rasa canggungnya itu. Hanya sesekali Winda mengobrol dengan Hanum, karena Winda juga bingung cari bahan obrolan apa.
Winda masih kaku, karena mungkin masih baru. Dan lagi ada sejarah buruk di antara mereka, meskipun sekarang mertuanya sangat baik, Winda sepertinya buruh waktu untuk membaur, tidak bisa tiba-tiba langsung akrab. Di rumah itu ia merasa asing, tapi karena Kavi, semuanya bisa diatasi.
Tidak terasa sudah dua malam mereka menginap di rumah orang tua Kavi. Pagi ini mereka bangun pagi karena akan ke Bandara.
Winda berangkat bersama rombongan keluarga inti. Sedangkan keluarga Arjun akan menyusul esok harinya.
Kavi dan Winda berniat akan menggelar acara resepsi besar di pulau Dewata. Sekalian untuk liburan bagi keluarga barunya.
Sepanjang perjalanan di atas pesawat, Kavi terus saja mengganggu Winda. Tidak membiarkan istrinya itu tenang barang sejenak saja. Hanum yang memperhatikan tingkah pola Kavi, sampai heran. Mengapa Kavi persis seperti Gadhi saat muda dulu. Begitu bucin terhadap pasangan. Tapi itu bagus, setidaknya akan membuat Winda bahagia, pikir Hanum.
***
Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali.
Kadek datang menjemput Winda, gadis itu sudah menunggu di terminal kedatangan. Saat ia melihat Winda muncul, Kadek langsung lari dan memeluknya.
"Jangan teriak-teriak!" bisik Winda kemudian memeluk Kadek erat.
"Ya ampun, SELAMAT yaa!" ucap Kadek sangat bersemangat. Ia juga mengulurkan tangan pada Kavi.
"Selamat ya, Mas."
Kavi mengangguk. Dan Winda kemudian mengenalkan mertuanya pada Kadek.
"Ma ... ini temen dan rekan kerja Winda di Bali."
"Salam kenal," sapa Hanum ramah.
"Salam kenal, Tante." Kadek menundukkan wajahnya, seolah memberikan hormat pada orang yang lebih tua darinya itu.
Kavi kemudian maju dan menyela, "Mama ikut kami ya? Ke apartment Winda?"
Hanum menggeleng, "Papa sudah pesen hotel buat Arjun sama Olive juga. Kalian aja yang pulang ke apartment, kami akan ke hotel."
"Banyak kamar kok di apartment Winda," bujuk Kavi. Dan Hanum langsung melirik curiga. Kavi langsung tersenyum, merasa tidak enak sendiri, sepertinya ia salah ucap.
"Ya sudah, kami pergi ya, Ma."
Dari pada mamanya mulai mikir macan-macam, Kavi langsung pamit. Begitu juga dengan Winda. Keduanya pun berpisah di Bandara.
__ADS_1
"Hati-hati, nanti langsung telpon Mama kalau sudah sampai."
"Iya, Ma. Mama dan Papa juga hati-hati."
Rombongan pun berpisah, karena mereka beda arah.
***
Setelah menempuh perjalanan beberapa puluh kilo, akhirnya Winda tiba juga di apartment miliknya.
Kavi juga langsung menelpon orang tuanya. Mereka akan bertemu besok malam di sebuah gedung yang sudah disiapkan untuk acara resepsi pernikahan keduanya.
Padahal tidak banyak yang tahu, hanya menghubungi beberapa rekan bisnis dan kerabat jauh, tapi berita pernikahan Winda dan Kavi sudah terendus oleh media. Wajar saja sih, ini karena Kavi merupakan putra bungsu dari Gadhiata Ratama Prakash. Anak terakhir dari pemilik Global Tourshine Groups, yang pasti kabar pernikahan Kavi jelas terliput oleh media.
Berita tentang pernikahan putra global Tourshine Groups itu masuk beberapa media. Salah satunya berita di televisi, hari itu banyak pimpinan perusahaan yang mengucapkan selamat atas pernikahan anak terakhir dari grup Tourshine tersebut.
Hingga tanpa sengaja, di salah satu chanel berita bisnis, terselip kabar gembira itu. Ruhut yang kala itu sedang melihat berita seputar harga saham, sedikit terkejut saat wajah Hanum terpampang bersama pria yang kemrin ikut datang ke rumahnya.
Pria itu kemudian mengambil kacamata, mungkin ia berhalusinasi karena sudah mengusir Winda. Ketika berita itu selesai, Ruhut mengambil ponselnya. Ia kemudian mencari profile keluarga Gadhiata Ratama Prakash, pemilik Global Tourshine yang cukup mempunyai nama besar tersebut.
Bibirnya tersenyum getir, seperti tidak percaya.
"Lihat apa sih, Pah? Serius banget!" celetuk Kumala sambil membawa secangkir teh herbal untuk Ruhut.
"Bukan apa-apa." Ruhut bersikap dingin, membuat ibunda Berbi tersebut langsung masam.
"Lihat apa sih, Pah. Harga saham aja yang dilihat, aku ganti ya!" Kumala kemudian meraih remote. Dan saat ia mengganti chanel TV, lagi-lagi ada berita kabar pernikahan dari anak pengusaha yang memiliki kerajaan bisnis cukup besar di negara ini.
"Siapa sih yang nikah, kok beritanya lebay banget!" celetuk Kumala, tapi matanya tanpa sengaja menangkap sosok Winda ada di dalam TV.
Kumala makin tercenggang ketika mendengar narasi berita tersebut.
[Seorang wanita berhasil mendapatkan hati penerus Global Tourshine Groups, perusahaan besar yang cukup berpengaruh. Tidak banyak informasi yang bisa didapat oleh media, karena gadis itu sangat low profile.
Seperti yang Kita ketahui, keluarga besar global Tourshine Groups merupakan salah satu orang terkaya di negeri ini, sudah bisa dipastikan, pernikahan ini akan menjadi pernikahan paling mencuri perhatian Masyarakat di luar.
Tidak pernah terdengar scandal, dan sedang dekat dengan siapa, tiba-tiba kabar mengejutkan datang dari pasangan pengusaha terkenal itu. Selamat atas pernikahan mereka, kami warga Indonesia turut senang mendengar kabar yang membahagiakan ini]
Cetek!
Belum selesai, Kumala langsung mematikan TV. Entah mengapa ia seketika terkena penyakit AIN. Bersambung
Ada banyak orang yang kadang susah melihat orang lain senang. Semoga Kita tidak ya.
IG Sept_September2020
Fb Sept September
Seminggu lagi pengumuman give away bagi-bagi hampers cute, yukkk perang Komen paling absurd. Hehehe
__ADS_1