Kekasih Bayaran

Kekasih Bayaran
Pembalasan


__ADS_3

Kekasih Bayaran Bagian 103


Oleh Sept


Suara alarm di atas nakas membuat tidur nyenyak penghuni kamar terganggu, tangan Kavi meraba-raba, pria itu mencari sumber suara. Setelah mendapat jam weker, ia langsung mematikan tanpa melihat. Kavi kemudian kembali menarik selimut. Sepertinya pagi ini ia akan bolos bekerja. Mumpung Winda tidak mual-mual saat mereka sedang berdekatan, Kavi seolah tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada.


***


Tok tok tok


Pukul 7 lebih beberapa menit, Berbie mengetuk pintu kamar sang kakak. Ia penasaran kenapa keduanya tidak muncul sarapan di meja makan yang sama. Sampai makanan dingin, ia juga menunda sarapan untuk menunggu makan bareng kakak serta ipar yang ia incar tersebut.


"Mungkin mereka mau istirahat, tidak mau diganggu," ucap suster yang melihat gelagat aneh Berbi.


"Bukan urusanmu, kerjakan saja pekerjanmu!" celetuk Berbi yang mulai memperlihatkan sisi aslinya.


Suster pun merasa aneh, dahinya mengkerut mendapati tangapan tak ramah dari adik majikan tersebut. Padahal Winda sangat baik, suster merasa Winda dan Berbie ini bagai langit dan kerak bumi. Beda jauh dan satu-satunya kesamaan keduanya adalah mereka hanya sama-sama wanita.


Tidak mau bersitegang dengan Berbie, sus pun pergi. Ia akan menyiapkan buah, biasanya Winda makan buah jika tidak mau nasi karena perutnya mual.


***


Di dalam kamar


Meski pintu diketuk, Kavi malah melingkarkan lengannya. Seakan sedang memenjara dan menjerat istrinya itu.


"Tetap di tempat, aku tidak mau melihat wajahnya."


"Aku tidak bisa mengusirnya, toh dia akan segera pergi."


Kavi sang baru bangun, sudah merasa kesal sekali. Pria itu kemudian mengambil telpon. Kemudian berbicara pada suster. Meminta suster mengantar sarapan ke kamar.


Setelah menutup telpon, Kavi kemudian duduk. Ia tatap wajah istrinya dalam-dalam.


"Dia itu gadis penggoda, kamu tahu apa yang dia lakukan saat kamu di luar kemarin? Dia masuk kamar. Berlagak mengantar kopi. Jangan marah, aku katakan biar kamu bisa tegas!"


Winda memasang muka serius, sepertinya Kavi akan mengatakan kejutan lagi. Ia harus menyiapkan hati.


"Katakan! Jangan ada yang aku lewatkan," pinta Winda. Ia tidak mau sejarah terulang, di mana suami ayahnya direbut orang. Apalagi orang yang dikenal.


"Tapi jangan marah, aku pun sama sekali tidak terpengaruh."


Winda semakin penasaran, "Apa? Apa yang dia lakukan?


Ganti Kavi yang bingung mulai menjelaskan dengan kata apa. Pria itu menelan ludah, kemudian matanya memutar sempurna. Jangan-jangan setelah mengatakan ini Winda malah ilfil padanya. Bisa-bisa jatah yang baru saja ia dapat tidak ada kelangsungannya.

__ADS_1


"Kamu gak boleh marah tapi."


Winda semakin kepo. "Katakan secepatnya!"


Tidak bisa menjawab dengan suara lantang seperti tadi, Kavi memilih mendekat kemudian berbisik.


"Apa?"


Kavi mengangguk saat mengatakan Berbi berani menyentuh barang pribadi satu-satunya aset pribadi Kavi tersebut. Ya meskipun masih pakai celana komplit.


'Berani sekali dia?' batin Winda.


"Kamu tetap di sini!" ucap Winda kemudian turun dari ranjang.


"Sayang! Eh mau ngapain?" Kavi ingin mencegah, tapi Winda tetap melangkah. Sambil mengikat rambutnya dengan asal.


"Sarapan di kamar saja, biar aku sarapan di luar."


"Jangan aneh-aneh, kamu hamil Sayang!" Kavi tidak mau istrinya kenala-kenapa.


"Aku hanya akan memberikan hadiah kecil padanya karena berani mengusik milikku. Setelah aku keluar, kunci pintunya!"


Kavi menatap aneh, ada apa dengan Winda pagi ini? Sepertinya ada perang sebentar lagi.


***


Dilihatnya bik Inah sedang menyiapkan sesuatu.


"Biar saya saja, Bi. Bibik bisa mengerjakan yang lain," ucap Winda. Tanpa curiga, bibi pun pergi. Memang masih banyak pekerjaan lain yang harus dikerjakan.


Setelah bibi pergi, muncul suster.


"Non, biar saya saja. Nona mau apa?"


Winda menggeleng, kemudian meminta suster mengambil beberapa buah jeruk dalam kulkas.


"Biar saya saja, Non."


"Nggak apa-apa, saya bisa sendiri. Oh ya, Berbi sudah sarapan?"


"Belum, tadi sepertinya menunggu nona Winda."


"Bagus, panggil dia sekarang."


"Baik, Non."

__ADS_1


Setelah suster pergi, Winda kemudian mencari sesuatu di kotak obat. Berhasil mendapatkan apa


ia cari, Winda kemudian menaruh yang sudah ia lembutkan itu ke dalam jus buatannya.


Habis itu ia ke meja makan, sambil menunggu Berbi keluar, ia juga menabur sedikit ke makanan. Ia sendiri sudah punya banyak potongan buah segar. Tidak akan makan makanan yang ada di meja.


Tap tap tap


Dari belakang terdengar derap langkah yang semakin dekat. Winda pun berakting, ia pura-pura menikmati makan buah apel dan avocado.


"Ayo sarapan," ajak Winda seperti tidak terjadi apa-apa.


Sedangkan mata Berbi mencari ke sana ke mari. Ia sedang menunggu sosok pria paling tampan dan mapan di rumah itu.


"Mas Kavi nggak sarapan, Mbak?"


'Kenapa tanya suamiku?' rutuk Winda tapi bibirnya tersenyum.


"Dia kurang enak badan," jawab Winda bohong.


"Benarkah, sakit apa?"


Winda jadi sebal, tapi mecoba tetap tenang. "Cuma kecapekan sih!"


"Mas Kavi terlalu sibuk kerja, Mbak."


"Bukan kerja aja, sih ... nanti kalau kamu menikah. Kamu pasti paham!"


Berbie mengangguk, pura-pura mengerti. Kemudian meraih segelas jus segar buatan Winda.


"Mbak gak makan?"


"Ini, aku suka buah ... hamil begini agak kurang suka nasi!" kelit Winda. ia tidak mau makan, karena makanan di depannya terkandung rahasia.


Tanpa curiga, gadis itu pun langsung makan. Sementara Winda, ia juga makan. Namun, sesekali matanya melirik. Mengamati Berbi yang sudah berani mengangguk miliknya.


Sepertinya, setelah ini ia akan memutus semua akses komunikasi dengan Berbi. Mereka dikasih hati malah minta jantung. Wind ini kasiah, dia ingat saat remaja dulu harus banting tulang sendirian. Makanya iba melihat Berbi. Tapi dikasihani malah menikam. Jelas Winda murka, tapi harus tetap elegant. Kavi itu orang penting, tidak mau Berbi mengatakan macam-macam sampai mencuat scandal ke media. Ia lebih memilih bermain secara halus, menyerang musuh diam-diam.


Seperti sekarang, setelah sarapan, wind pun kembali masuk kamar. Sedangkan Berbi, ia mulai merasakan sesuatu yang tidak beres.


"Sialll! Kenapa ini perut gue?" umpat Berbi mencengkram perutnya yang mulas.


BERSAMBUNG


__ADS_1


__ADS_2