
Kekasih Bayaran Bagian 110
Oleh Sept
Matahari bersinar sangat cerah, sudah jam 8 pagi, tapi dua orang yang ada dalam ruangan yang sama itu masih terlelap. Kadek masih tertidur pulas di balik selimut dengan pria yang bukan suaminya.
Sesaat kemudian, ketika Kadek merasakan pantulan sinar matahari yang menyentuh kulitnya, kelopak matanya bergerak-gerak. Ia lalu mengerjap dan menatap langit-langit kamar yang terlihat buram.
"Di mana ini?" gumam Kadek merasa asing dengan tempat baru. Ia kemudian menyingkirkan lengan yang ada di atas perutnya, karena merasa enggap. Lalu menoleh ke samping. Seketika mata Kadek langsung melotot tajam dan spontan menjerit.
Yudhistira yang kaget, ia langsung terbangun. Kemudian menatap Kadek dengan tatapan biasa.
"Apa yang sudah Bapak lakukan padaku semalaman?" Kadek memeluk tubuhnya yang hanya pakai kemeja putih milik bosnya tersebut.
"Ke mana bajuku? Kenapa aku pakai baju ini? Apa yang sudah Bapak lakukan?" Kadek memberondong banyak pertanyaan untuk orang yang baru bangun tidur tersebut.
Mendengar bahwa Kadek begitu berisik ketika bangun pagi, membuat Yudhistira kesal. Ia kemudian meraih celana yang ada di dekatnya di atas kursi. Kemudian bicara dengan tenang.
"Coba ingat-ingat! Apa yang semalam kau lakukan padaku!" celetuk Yudhistira kemudian ganti mengambil pakaian. Ya, Yudhistira hanya memakai segitiga biru saat tidur.
"Kenapa Bapak membawaku ke sini?" Kadek masih belum sadar, ia masih menyalahkan bosnya itu.
"Dengarkan aku, Kadek! Cuci mukamu, dan ingat-ingatlah apa yang sudah terjadi semalam!" Yudhistira mulai memperlihatkan wajah masamnya seperti biasa.
"Bersihkan dirimu! Aku antar pulang!" tambah Yudhistira kemudian berjalan ke pintu.
Setelah Yudhistira pergi, Kadek pun mencoba mengingat apa yang sudah terjadi semalam. Meskipun sedikit pusing, ia harus mengingat apa yang terjadi. Apalagi ada yang tidak beres dengan dirinya.
Flashback
Malam ini Kadek muntah banyak sekali, membuat pakaian gadis itu kotor semua. Sudah di atas jam 12 malam, Yudhistira tidak membangunkan ARTnya. Entah sengaja atau apa. Duda kesepian itu malah mengganti sendiri pakaian seorang gadis.
"Tidak bisa minum tapi sok!" gerutunya.
Yudhistira sedikit menahan napas karena bau muntahan gadis tersebut. Sambil mengeryitkan alis, ia lepas semua kancing baju Kadek.
Pertama sih tidak terpengaruh, apalagi baunya tidak enak. Ia pun membopong Kadek, membawa gadis itu ke kamar mandi. Kadek sendiri setengah sadar, ia tidak berontak karena pengaruh minuman dan ngantuk berat.
"Kenapa masih bau?" desis Yudhistira. Ia tatap Beha Kadek warna hitam yang sepertinya tembus muntahan. Sambil menutup mata, Yudhistira melepaskan pengait. Kemudian mengambil handuk untuk menutupi tubuh Kadek.
Pria berstatus duda yang lama tidak bermain cinta itu pun kembali membopong Kadek ke luar dan meletakkan di atas ranjang.
__ADS_1
Ia lega, karena sudah melepas semuanya. Yudhistira hendak mengambil selimut lain agar tubuh Kadek tertutup sempurna. Setelah ia mendapatkan kain selimut yang baru, ia mendatangi Kadek lagi, tapi gadis itu malah merentangkan kaki dan tangannya lebar. Membuat handuk yang tadi menutup sempurna seketika terbuka.
"Sialll!" Yudhistira memalingkan wajah, kemudian melempar selimut dengan asal.
Blukkkk ...
Saat ia akan meninggalkan kamar, terdengar suara selimut dilempar. Yudhistira hanya mendesis kemudian segera keluar. Saat akan menutup pintu matanya tidak sengaja melihat Kadek yang bergulung di ranjang sampai tepi. Sedikit lagi gadis itu pasti jatuh.
"Ish! Tidak bisahkan dia diam saja?"
Yudhistira kembali masuk dan mendekati ranjang. Ia dorong tubuh Kadek dengan paksa. Dan bersiap pergi, sebab lama-lama di sini sepertinya sangat bahaya.
Ia pikir akan selamat jika mampu menahan diri. Tapi Yudhistira tetaplah seorang pria normal. Melihat bukit barisan seketika jakunnya naik turun. Ingin mengusir segala pikiran buruk, ia menggeleng keras dan berbalik.
"Pak ...!"
Yudhistira kaget, Kadek sudah bangun dan kini menatapnya.
"Di mana ini? Apa ini hotel?" Gadis itu mulai merancau tidak karuan.
"Tidurlah!" Yudhistira mau kabur apalagi Kadek sudah bangun.
"Tidur ... ya Kita ke hotel pasti untuk tidur. Astaga ... Bapak suka aku ya?" Kadek terkekeh.
"Bapakk ... Bapak mau ke mana?"
Melihat Yudhistira pergi, Kadek langsung bangun, dengan sempoyongan ia menghampiri Yudhistira.
Plukkk ...
"Mau ke mana?" bisik Kadek sembari memeluk Yudhistira dari belakang. Membuat pria itu tertegun sesaat.
"Lepaskan! Atau kau akan menyesalinya!" sentak Yudhistira mengingatkan.
"Aku lihat Bapak tidak pernah memiliki kekasih, kenapa? Apa perceraian membuat Bapak jerah? Kenapa tidak membuka hati ... banyak wanita di luar sana yang antri," Kadek terus saja bicara, membuat Yudhistira kesal.
"Ini yang terakhir, lepaskan!" ujar Yudhistira marah.
"Baiklah, baiklah bosku yang super galak!" ucap Kadek tersenyum seperti orang setres. Ini karena dalam pengaruh minuman.
Gadis itu kemudian berlari kecil lalu berhenti tepat di depan Yudhistira, membuat pria itu menutup mata.
__ADS_1
"Ish!" Yudhistira mencebik atas apa yang ia lihat.
Melihat Yudhistira memalingkan wajah, Kadek merasa terhina. Ia pun mendekat dan menatap tajam pria yang ada di depannya, ya ... meskipun Yudhistira tidak mau menatap balik.
"Kenapa tidak melihatku? Apa aku seburuk itu? Tidak hanya pekerjaan, apakah tubuhku juga tidak ada bagus-bagusnya?" Kadek yang dipengaruhi minuman, kembali bicara yang tidak-tidak.
"Menyingkirlah, aku mau lewat!" jawab Yudhistira dengan suara berat. Sepertinya dia juga mencoba menahan sesuatu.
"Astaga, kau memang konsisten dengan kegalakanmu itu!" celoteh Kadek marah.
"Tapi aku suka ... semakin kau jutek, kau semakin menarik!" celoteh Kadek lagi.
"Jangan bicara omong kosong, menyingkir!" Yudhistira menepis pundak wanita itu, sampai Kadek oleng. Mungkin karena kurang sadar, membuat tidak bisa menahan keseimbangan tubuhnya sendiri.
BRUKKKK
Karena berpegangan pada rak, membuat barang-barang di atas rak langsung jatuh. Sedangkan Kadek, ia berpegangan dengan sempoyongan.
Yudhistira mendesis kesal, kemudian memapah Kadek.
"Lain kali jangan pernah minum!" sentak Yudhistira marah.
"Kenapa? Bapak sendiri yang mengajak bukan?" Kadek mendongak, menatap mata Yudhistira tanpa kedip.
Keduanya malah terdiam saling menatap, Yudhistira sedang mencoba untuk fokus. Tapi pemandangan di depannya, membuat jengkel.
"Aku sudah menghindar, tapi kau sepertinya yang terus saja mengusik!"
CUP
Kadek kaget, matanya terbelalak saat bosnya tiba-tiba menempelkan bibirnya. Seakan sedikit tersadar, ia bisa merasakan bagaimana lidah itu menerobos masuk dan menyusuri isi di dalamnnya.
'Aku sudah mencoba menghindar ... tapi.'
Yudhistira semakin larut, sepertinya ia mulai terbawa arus. Sebab ia malah menyesap bibir gadis itu dengan dalam. Menjadi duda terlalu lama, nyatanya menjadikan pria itu seperti serigala lapar yang menemukan mangsa. Gayung pun bersambut, apalagi tangan Kadek kini melingkar di lehernya. Keduanya saling menyesap sampai kering.
Sesaat kemudian
"Aku yakin, kamu pasti menyesal setelah bangun besok!" bisik Yudhistira saat sudah di atas Kadek.
BERSAMBUNG
__ADS_1