Kekasih Bayaran

Kekasih Bayaran
TAMAT


__ADS_3

Kekasih Bayaran Bagian 112


Oleh Sept


TAMAT


...


"Sayang, ayo kita masuk duluan," ajak Kavi yang terlihat protective karena melihat ada duda yang mendekat. Meskipun Winda sudah jelas miliknya, ia masih kurang suka istrinya beramah tamah dengan pria lain.


"Dek, gue duluan!" Winda mengedipkan sebelah matanya. Ia seakan memberikan semangat untuk sahabatnya itu.


"Eh, Win!" Kadek yang panik, rasanya ingin ikut dengan pasangan suami istri itu.


"Aduh! Mampussss gue! Mana malu banget pula!" gumam Kadek lirih.


***


Lobby


"Kamu menghindar dariku?"


Suara khas dan berat itu lebih seram dari pada raunhan harimau lapar di Sumatra. Ngeri-ngeri sedap. Mendapat pertanyaan seperti itu, Kadek langsung nervous dan menggeleng keras kepalanya.


"Nggak, Pak. Untuk apa saya menghindar dari Bapak?" Kadek mencari alasan.


Pria itu menatap tajam setajam silet. Kemudian kembali bertanya perihal Kadek yang membolos paska kejadian malam itu.


"Lalu kamu kenapa tidak datang ke kantor? Bersikap professional lah sedikit!" cetus Yudhistira yang terdengar angkuh itu.


"Itu ... itu ...," jawab Kadek yang bingung tidak bisa mencari alasan lagi.


"Besok datang ke kantor!" ucap Yudhistira tegas.


"Em ... Maaf, Pak. Em ... Saya sepertinya akan berhenti."


Mata itu langsung melotot tajam, membuat Kadek tambah gelisah.


"Pasti karena malam itu?"


Kadek terdiam. Karena memang seperti itu adanya. Ia sebenarnya tidak punya muka lagi ketemu bosnya itu setelah apa yang terjadi antara mereka berdua saat dia telah terpengaruh oleh minuman.


"Sepertinya Kita harus bicara berdua. Ikut denganku! Ini Perintah!" titah pria itu dengan gaya bossy.


'Aduh!' Kadek mendesis kemudian mengirim pesan singkat ke ponsel Winda.


[Gue pergi dulu. Doain gue!]


Ting, pesan terkirim. Winda yang baru masuk kamar apartmen, langsung membaca dan membalas.


[Siap! Kabari tanggalnya. Usahain sebelum gue lahiran]


Kadek membaca pesan Winda dengan masam, kemudian kembali membalas sambil berjalan mengekor di belakang Yudhistira.


[Ngomong apa?]


[Hahahaha]


[Awas ya, nanti gue pas pulang!]


[Jangan main HP, sana ... mumpung didekatin sama duda kece]


[Ish ... resek]


[LOL]


Kadek langsung menyimpan ponselnya karena gemas membalas pesan-pesan dari sahabatnya itu.


***


Di dalam mobil, nuansanya sangat dingin. Bukan karena suhu dingin AC mobil, akan tetapi karena aura dari si pengemu dan penumpang di dalamnnya.


"Kita mau ke mana, Pak?" tanya Kadek yang lama-lama penasaran karena mobil tidak kunjung berhenti.


Chitt ...


Yudhistira kemudian menghentikan mobilnya di tepi jalan.


"Kau pasti sudah mengingat kejadian malam itu kan?"


Kadek langsung menelan ludah dengan susah payah.


"Itu ... anggap tidak pernah terjadi. Karena waktu itu aku dalam pengaruh minuman!" ucap Kadek yang ingin membuang rasa malunya.


"Cih!" Yudhistira si bos dingin dan berhati kulkas itu malah mencebik.


"Baiklah, kalau kau mau Kita melupakan malam itu. Toh aku sama sekali tidak rugi!" ujar Yudhistira kasar.


Kadek langsung geram, tiba-tiba ia merasa kesal sendiri.


"Oke, sepakat!" ujar Kadek kemudian melepaskan sabuk pengaman. Tanpa bicara ia langsung turun dari mobil itu. Dan Yudhistira sama sekali tidak menyusul atau menghentikan Kadek.


'Duda sialannn! Gue bilang lupain bukan berarti gue mau lupain. Ish ... bikin kesel!' Sambil jalan dan menyetop taksi, Kadek pergi dengan muka jengkel.


***


Apartmen


Kadek masuk apartmen dengan muka lusuh, ia langsung masuk tanpa menyapa Winda yang sedang rebahan di atas pangkuannya suaminya.


"Kok cepet?" celetuk Winda kemudian bangkit.


"Dek ... Kadek!" panggil Winda yang kemudian menyusul Kadek ke kamar.


"Kadek! Lo kenapa?" tanya Winda penasaran.


Kadek hanya menundukkan wajahnya, kemudian menghentakkan kaki kesal.


"Lo kesambet?"


Kadek melirik sekilas kemudian memeluk Winda.


"Gara-gara duda itu, mood gue amblas!"


"Ngapain pak Yudhistira? Apa dia aneh-aneh?"


Kadek menggeleng.


"Terus?"


"Udah lah, gue gak mau bahas duda kasar itu."


"Kasar? Dia ngapain elo lagi?"


Kadek langsung mengusap wajahnya dengan kasar kemudian cerita apa yang tadi terjadi. Dan tangapan Winda membuat Kadek tambah jengkel.


"Lah? Kan salah elo ... siapa suruh yang minta semuanya dilupakan?"


"Kok malah belain pak Yudhistira?" protes Kadek.


"Emang kan elo yang salah!"


"Udah lah. Gue mau tidur seharian ini!"


Bukkkk


Kadek langsung melempar tubuhnya di atas ranjang, menutup kepala dengan bantal. Hari ini kepalanya pusing. Hanya mau tidur saja.


"Ya elah, malah tidur? Ya udah ... gue keluar."


"Hemm!"


***


Ketika Kadek sedang galau, beda dengan Winda dan Kavi, mereka menikmati waktu bersama mereka mumpung masih liburan. Karena sebentar lagi mereka akan balik ke Jakarta. Sambil nonton TV, ditemani camilan di atas meja. Kavi dan Winda benar-benar menikmati masa-masa baby moon mereka.


"Mau dikupasin apel?"

__ADS_1


Winda menggeleng.


"Udah kenyang. Lihat perutnya sudah gede begini."


"Tumben, biasanya apa aja masuk!" godak Kavi. Winda hanya tersenyum karena memang kenyataan.


"Nggak, sumpah ... udah begah banget. Kenyang banget rasanya."


"Ya udah, aku pijitin ya."


Winda mengangguk karena memang kakinya agak bengkak. Sepertinya ia kecapekan karena jalan-jalan terus seharian.


***


Beberapa hari kemudian


Airport.


Hari ini Kavi dan Winda mau balik, dan Kadek malah ikut. Ia sudah mengirim surat pengunduran diri. Lagian pekerjaan yang ia lakukan selalu dicela negative oleh bosnya. Sepertinya ia harus mencari pekerjaan baru.


Saat mereka sedang menunggu untuk boarding pass, ponsel Kadek berdering. Namun, tidak mau ia angkat. Karena mereka sudah sepakat untuk melupakan kejadian malam itu.


Sesaat kemudian, sebuah pesan masuk.


[Aku sudah melihat surat pengunduran darimu. Aku dengar hari ini kau meninggalkan Bali. Apa karena aku?]


Kadek menghela napas panjang, lalu mengetik pesan balasan.


[Bukan. Jangan terlalu percaya diri] Balas Kadek jengkel.


Di dalam ruang kerjanya, Yudhistira mengambil surat pengunduran diri Kadek lalu melemparnya ke tong sampah.


"Pergilah! Lagian siapa kau yang bisa mengusik hidupku?" gumam Yudhistira kesal.


***


Setelah menempuh perjalanan udara 2 jam lebih, Bali Jakarta, akhirnya mereka bertiga sampai di Bandara SOETA.


"Lo nginep di rumah kami saja. Kavi nggak apa-apa kok."


"Nggak, gue gak mau ngerepotin."


Kavi langsung menyela. "Di rumah kami saja, sekalian temani istriku yang hamil tua ini."


"Maaf, selalu merepotkan."


"Jangan begitu, Kita kan besti!" canda Winda. Winda sekarang terlihat ceriah, semenjak ia hamil, ia jadi sering tersenyum. Apalagi kalau dekat Kadek, bibirnya selalu sumringah. Itu yang membuat Kavi senang. Karena melihat istrinya bahagia. Tanpa tekanan apapun. Bisa jadi diri sendiri ketika dekat dengan teman baiknya itu.


***


Kediaman Kavi


Begitu mereka tiba, langsung disambut oleh bik Inah dan suster. Rumah sangat sepi tanpa pasutri itu.


"Win ... rumah loh gede juga," celetuk Kadek.


"Rumah suami gue, Dek."


"Bukan, ini rumah Winda. Aku cuma numpang!" sela Kavi yang ikut nimbrung. Ya iyalah rumah Winda, meski yang bekerja Kavi, tapi semua aset sudah diubah atas nama Winda. Ya, mungkin karena Kavi sudah terlanjur bucin pada istrinya itu.


Winda hanya tersenyum tipis, melihat gombalan Kavi.


"Anggap rumah sendiri ya, Dek. Kalau butuh apa-apa, minta tolong saja sama bibi."


"Jadi ngerepotin."


Nyantai saja.


***


Bali


Ketika Kadek sedang di Jakarta untuk menenangkan diri, hati dan pikiran, ada sekeping hati sedang dilanda gelisah. Yudhistira tidak bisa konsentrasi dalam bekerja. Sepertinya ini karena Kadek. Samar-samar bayangan malam itu kembali terlintas dalam pelupuk mata.


"Untuk apa aku memikirkan gadis itu? Cih!"


Hingga malam ia baru pulang, sampai di rumah pun ART malah kena marah-marah. Pria itu uring-uringan tidak jelas akhir-akhir ini setelah Kadek mengundurkan diri.


Ditambah putrinya yang tidak pulang, katanya malah ingin tinggal bersama mamanya, ikut ke Los Angeles.


"Pulang! Papa bilang pulang sekarang!" sentaknya di telpon.


"Sorry, Pa. Aku mau ikut mama!"


"Honey! Dengarkan Papa!"


"Nanti aku kabari Papa kalau kami sudah tiba di Los Angeles!"


"Honey!!!" teriak Yudhistira jengkel. Lengkap sudah penderita duda kesepian itu. Tidak punya istri, pacar, anak. Hidupnya seketika terasa kosong.


***


Satu bulan kemudian


Global Tourshine Groups, Kadek sedang duduk di meja kerjanya. Ia sekarang menjadi bawahan bu Fenita.


"Temui klien kita, harusnya bersama dengan saya. Tapi saya ada pertemuan yang lebih penting. Kamu dari Bali kan? Sepertinya akan cocok, karena proyek Kita akan di kembangkan si sana."


"Baik, Bu."


"Sekarang kamu boleh pergi."


"Baik," ucap Kadek kemudian menundukkan wajahnya sedikit lalu mengucap permisi.


Beberapa jam kemudian.


Di sebuah ruangan tertutup, Kadek sedang memeriksa semua berkas yang akan ia presentasikan nanti di depan klien dari Bali. Berkali-kali ia memeriksa, untuk meminimalisir kesalahan.


Ia sampai tidak sadar, seorang pria membuka pintu dengan suara pelan. Sepertinya pria itu sengaja melakukannya.


Kadek baru tersadar ketika pria berjas hitam dengan kemeja biru laut duduk di depannya.


'Astaga ... nama kliennya kan pak Ketut, mengapa malah dia?' mata Kadek terbelalak. Ia kaget melihat duda yang ada di depannya.


"Kenapa Bapak di sini?"


Yudhistira kemudian mengeluarkan berkas dari tasnya, kemudian sebuah benda lagi dari dalam sakunya.


"Ini perjanjian kerja, dan ini perjanjian pernikahan!"


Mata Kadek terbelalak, ketika Yudhistira membuka kota cincin bermata berlian asli dari Afrika.


"Bapak! Jangan main-main dengan saya. Saya sedang bekerja. Mari professional!" terang Kadek sok cool. Padahal hatinya sudah jedag-jedug, kocar-kacir tak karuan.


"Aku terlalu tua untuk sebuah permainan, kau tahu Kadek? Aku suka to the point! Langsung pada intinya. Sekarang jawaban ada padamu, iya apa tidak?"


"Iya ... iya apanya?" tanya Kadek terbata.


Yudhistira kemudian menarik tangan Kadek paksa.


"Pakai ini, lalu menikah. Bukankah kau sudah lancang melihat dan menyentuhnya?"


Muka Kadek langsung merah, seperti kepitinh rebus.


"ASTAGA!" Kadek membekap mulutnya, ia menarik tangannya keras.


"Kau harus tanggung jawab, sebab aku tidak bisa melupakan malam itu!" ucap Yudhistira kemudian berjalan memutari kursi. Ketika sudah di samping Kadek, ia langsung merengkuh pinggang gadis tersebut.


"Eh!"


Kadek panik, matanya menatap CCTV di sudut ruangan.


"Apa yang Bapak lakukan?" bisik Kadek panik.


"Melakukan apa yang ingin aku lakukan!"


CUP

__ADS_1


Kaki Kadek seketika lemas, ia mengumpat dalam hati. Karena ia malah membalas sesapan yang makin lama semakin dalam dari duda kesepian itu.


'Ya ... aku kalah!' batin Kadek kemudian memejamkan mata, menikmati sensasi yang sangat berbeda. Membuat jiwanya bergejolak, dan sepertinya kalau begini, ia ingin cepat-cepat menikah.


***


Malam hari


Kediaman Kavi.


"Eh mau ke mana?" Winda menatap Kadek dari atas sampai bawah.


"Kamu ini kepo banget sih, Sayang. Biarin juga dia main. Gak kasian apa? Anak gadis jomblo di dalam rumah terus. Ini juga malam minggu!" celetuk Kavi kemudian merangkul Winda tanpa peduli ada Kadek.


Kadek hanya menggeleng pelan. Melihat pemandangan yang selalu mengusik hatinya itu.


"Gue juga mau seperti kalian, udah ya Win ... gua mau candlelight dinner sama calon gue!" Dengan percaya diri, Kadek membetulkan poni, ia hendak pamer cincin berlian di jarinya.


"Ehhh ... cincin dari siapa itu?" Winda histeris membuat Kavi langsung memeluknya erat.


"Udah, duduk sini!" ucap Kavi.


"Sayang, aku mau wawancara Kadek dulu."


"Maaf, ya. Gue telat. Bye!" Kadek buru-buru pergi. Sengaja membuat bumil penasaran.


........


Beberapa bulan kemudian.


BALI


D-Day


"Kemarin nolak! Sekarang klepek-klepek!" ledek Winda yang sudah cantik dengan gaun pesta. Perutnya yang besar membuat ia tambah sek sih abis.


Pagi ini adalah acara pernikahan Yudhistira dan Kadek. Di selengarakan di Bali.


"Kita gak tahu jodoh Kita siapa, Win!" Kadek membela diri. Ia berputar-putar di depan kaca. Melihat batapa angunnya dia dengan balutan baju pengantin dari sutra pilihan tersebut.


"Ngeles aja, lo! Btw Selamat yaaaaa!"


"Maksih, Win. Terima kasih karena sudah support gue selama ini."


Keduanya berpelukan, sampai Kavi datang dan mengambil istrinya.


"Sayang, dicari mama sama papa."


"Iya ... iya. Gue keluar dulu ya, Dek."


Kadek mengedipkan sebelah matanya. Wajahnya sumringah karena nanti malam akan segera ada pembelahan duren.


Rasanya lama sekali menunggu 3 bulan lebih, ini karena Kadek harus menyelesaikan pekerjaan di Jakarta dulu. Baru ia mau balik ke Bali menerima pinangan duda mantan atasannya itu.


Dan hari bahagia itu kini terjadi, hari di mana musuh bebuyutan malah jadi partner dalam segala hal, termasuk ranjang. Aduh, tiba-tiba wajahnya jadi panas. Kadek pikirannya sudah traveling sampai ke negari Jiran.


***


Acara pernikahan digelar cukup private, hanya dihadiri kalangan terbatas. Untuk Winda dan sekeluarga, hampir diundang sepenuhnya. Karena perusahaan mereka sudah bekerja sama.


Sampai acara resepsi, putri Yudhistira tidak mau hadir. Masih menetap di Los Angeles. Ia tidak suka dengan ibu barunya. Tidak suka dengan Kadek, karena menganggap ibu barunya itu hanya ingin harta papanya. Alhasil, ia sama sekali tidak mau datang.


Yudhistira hanya santai, sebab sudah berbulan-bulan ini juga putrinya tidak pulang ke Indonesia sama sekali. Dia kan juga butuh teman, teman hidup, teman tidur. Ya ... teman Tempur tentunya.


Malam harinya. Pulang dari gedung pernikahan, Winda merasakan perutnya mulas. Padahal HPL baru 2 minggu lagi.


"Sayang, sepertinya mau lahir."


"Apa?" Kavi panik. Ia langsung menambah kecepatan menuju rumah sakit terdekat.


...


Di tempat lain, ketika ada calon tiga bayi akan lahir, di dalam kamar pengantin sebuah hotel. Di dalam presidential suite, sepasang suami istri yang baru menikah tadi pagi, akan bersiap mencetak generasi masa depan.


"Mas ... aku mandi dulu, gerah!" pinta Kadek yang malu-malu saat Yudhistira langsung memeluknya.


"Nanti saja, tanggung."


Jantung Kadek bergemuru, apalagi saat Yudhistira melepaskan pelukan, dan sesaat kemudian melempar jas yang tadi dikenakan pria itu.


Terlihat jelas, masih sama. Sama saat ia melihat pertama kali ketika ia mabuk.


"Astaga!" Kadek memalingkan wajah karena malu.


"Jangan malu-malu, kamu bahkan sudah pernah menyentuhnya."


Lagi-lagi kata keramat itu membuat Kadek lemas tidak berdaya.


"Mati aku."


Kadek terbelalak, Yudhistira benar-benar tidak punya malu. Lampu masih menyala tapi semua sudah hilang. Ya, tidak ada sehelai benang yang tersisa.


"Aku sudah puasa bertahun-tahun, malam ini ... jangan sampai gagal seperti waktu itu."


Kadek menutup matanya rapat, membuat Yudhistira yang dingin itu langsung tersenyum jahat.


"Malam ini kita nggak boleh gagal. Tidak ada minuman ..."


"Itu ... tunggu ... aku belum siap."


"Benarkah?"


Belum siap apanya, sekali kecupann, sedikit belaian Kadek langsung luluh lantak.


"Aduh!"


Semakin Kadek berisik, mantan duda itu semakin bersemangat. Ia serang pada titik-titik rawan, yang membuat Kadek menyerah dan mengeliat.


"Belum siap apa? Sudah basah begini."


'Ish!'


Kadek ingin menjerit katika milik si duda menerobos masuk untuk yang pertama kalinya.....


Di tempat lain, terdengar suara tangisan bayi kembar tiga.


OEK .... OEK ... OEK ...


"Selamat Pak Kavi, bayi-bayi Bapak lahir selamat semuanya tanpa kurang apapun."


Kavi tidak bisa berbicara, ia takjub dengan hadiah yang luar biasa itu. Bayi lucu-lucu yang baru lahir ke dunia itu.


"Sayang ... mereka ..." Kavi tidak bisa berkata-kata. Lalu menggendong bayinya satu persatu. Kemudian diletakan di atas ibunya.


"Terima kasih sayang ... terima kasih karena sudah melahirkan bayi-bayi yang luar biasa ini."


Winda mencoba tersenyum, meksipun tubuhnya masih sakit semua. Sama seperti Winda, Kadek juga terkulai lemas malam ini tidak berdaya, setelah dihantam benda tumpul yang menyemburkan banyak kecebong sumber kehidupan.


'Win, tahu gini gue nikah sejak dulu!' gumam Kadek yang kini dalam dekapan Yudhistira. Sakit, sih. Tapi enak!


TAMAT


Nah, akhirnya selesai juga.


Setelah satu bulan lebih, akhirnya novelll ke 18 ini tamat juga. Terima kasih pembaca semuanya, dan semoga dapat diambil baiknya, buang semua buruknya yaaaa...


Sekali lagi, terima kasih supportnyaaaa. Tanpa kalian author bukan apa-apa. Terima Kasih, terima kasih karena sudi membaca tulisanku yang banyak typonya hehhehe...


Semangat untuk Novellll ke 19


SERUNI Dendam Istri Pertama


Cuss ya, selalu dukung. Dan nantikan give away di novelll selanjutnya.


Untuk information GA dan lainnya, cuss IG author


IG : Sept_September2020

__ADS_1


Pokoknya terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk baca tulisan gabutku. Tengkyuu besti. Jangan lupa senyum, dan bahagia ... bye bye. Sampai jumpa di karya Sept berikutnya... see u!!!!


__ADS_2