
Kekasih Bayaran Bagian 67
Oleh Sept
Kavi memang terlahir kaya, tapi seperti yang sudah diketahui. Anak itu sudah berbeda sejak remaja. Dari mulai menjadi karyawan biasa di perusahaan sang papa, dari memakai motor padahal mobilnya berjajar di garasi rumah sang papa. Semuanya sederhana, tidak pernah menunjukkan wujud aslinya. Meski kaya, Kavi selalu sederhana.
Bisa saja ia pulang ke Jakarta naik jet, tapi ia memilih penerbangan komersilal. Karena sejatinya ia memang tidak berniat balik, ia mungkin ingin mengertak Winda. Tapi malah gagal. Tidak sepenuhnya gagal, sih. Karena saat pesawat sudah terbang ternyata Winda memintanya datang.
Betapa gemasnya Kavi saat itu. Ingin turun tapi tidak bisa sejenak, tidak mungkin juga ia pakai parasut dan menjatuhkan diri seperti pasukan yang sudah terlatih, itu hanya hal konyol.
Meminta pesawat itu putar balik? Aduh, ini bukan angkot yang biasa ngetem di terminal menunggu penumpang bus turun untuk diangkut kembali. Ini burung besi yang tidak bisa belok, putar arah, berbalik dengan seenaknya. Akhirnya, sepanjang perjalanan Kavi hanya menahan gemas. Kenapa tadi ia tidak mengecek ponselnya lagi.
"Tuan ... Tuan kenapa? Apa ada sesuatu?"
Sekretaris Kavi melihat gelagat tidak biasa dari bosnya. Terlihat gelisah, makanya ia bertanya pada pria itu.
Kavi hanya menggeleng, kemudian menatap ponselnya yang tidak bisa digunakan.
***
Bali, apartment Winda.
Winda sedang melihat-lihat ponselnya. Wajahnya tampak kecewa karena Kavi tidak merespon.
"Apa dia sudah terbang?" gumamnya kemudian meletakkan telapak tangannya di dahi. Sedikit hangat, untung Kadek sudah memberikan dia obat. Jadi demamnya sedikit turun.
__ADS_1
"Makan dulu buburnya. Maaf ya, gue harus ninggal elo sendirian. Gue harus serahin beberapa berkas penting ini. Lo gak apa-apa kan gue tinggal?" Kadek cemas, tapi ia harus berangkat kerja.
"Gak apa-apa. Lo berangkat aja."
"Ya udah, makan dulu. Gue berangkat ya."
Winda mengangguk.
Siang harinya, pak Yudhistira mencari Winda. Dan ketika mendengar informasi Winda sakit, duda itu kemudian memutuskan melihat Winda saat jam makan siang.
Tok tok tok
Winda sumringah, ketika siang itu ada yang mengetuk pintu apartmennya. Tidak langsung membuka pintu, ia malah ke kamar mandi. Cuci muka. Tadi Kavi sudah menelpon, katanya Otw ke apartment.
Kavi juga cerita, pesannya terlambat dibaca. Karena pesawat sudah terlanjur terbang. Winda sih paham. Asal Kavi datang, telat juga tidak apa-apa.
Tok tok tok
Selesai ganti baju, ia berhias tipis-tipis agar kelihatan lebih segar.
"Astaga!" pekiknya ketika melihat matanya yang sembab.
"Harusnya aku nggak menangis semalaman. Ini jadinya seperti ini!" gerutunya. Winda kemudian memakai bedak kembali, menutupi lingkar matanya yang sembab.
"Sudah ... sip!" ucapnya pada pantulan wajah di cermin.
__ADS_1
Ia pun mengambil napas dalam-dalam, lalu melangkah ke depan pintu. Tidak sabar ingin menemui Kavi, ia tidak mau berbohong pada hatinya lagi. Mau terbuka dan mengatakan apa yang ia rasakan. Dan akan menceritakan kejadian tiga tahun silam. Di mana ia harus pergi. Sekalian, ia juga ingin tahu, mengapa pria itu tidak mencarinya. Atau menemuinya satu kali saja.
Tok tok tok
"Iya!" teriak Winda dari balik pintu.
"Sabar, Kav!"
KLEK
Winda membuka pintunya lebar-lebar, karena ia sudah berniat tidak lagi mengunci hatinya. Winda yang membuka pintu sambil tersenyum, tiba-tiba senyumnya hilang.
"Pak Yudhis?" ucapnya lirih.
'Aduh ... Kavi mau datang,' batin Winda panik.
Bersambung
Panik nggak? Panik lah ... pacar mau datang, eh ada duda bertamu. Hemm.
Siap-siap dapat hukuman, Win.
IG Sept_September2020
Fb Sept September
__ADS_1