
Seperti biasanya pagi itu Dewa melakukan pekerjaan rutinitasnya ia berangkat ke kantor dari rumah menuju kantor menggunakan motor andalan nya. Dengan penuh semangat ia bekerja untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari di rumah nya. Semua kebutuhan keluarga Dewa yang memenuhi nya ia juga harus bertanggung jawab atas panti yang sudah si titipkan Ayah nya pada nya.
Dewa selalu semangat bekerja pantang menyerah tidak kenal lelah. Bekerja dari siang hari hingga malam hari untuk memenuhi kebutuhan keluarga nya dan sedikit membantu anak-anak panti.
Setiap pagi Dewa selalu menyempatkan dirinya untuk mampir dan membeli beberapa kotak makanan untuk sarapan anak-anak di panti. Ia semangat mengemudi motor nya ingin cepat sampai saat itu sudah pukul 9. Dewa melirik jam di tangan nya. "Wah sudah terlambat anak-anak panti pasti sudah menunggu jatah sarapan mereka," ucap nya.
Dewa mempercepat jalan nya ia menggas motor nya agar cepat sampai di panti. Setelah beberapa menit kemudian Dewa pun sampai. Ia merasa aneh pagi itu tidak di sambut anak-anak. Biasanya mereka selalu ramai menyambut kedatangannya. Tapi kali itu tidak. Keadaan sepi dan tidak terdengar anak-anak bermain.
"Sepagi ini anak-anak pada ngapain ya? kok sepi biasanya ramai. Mungkinkah mereka belum bangun tidur atau... " Dewa tidak melanjutkan kata-katanya karna ia ingin melihat dengan pasti anak-anak sedang ngapain. Dewa mendengar suara anak-anak dari arah dapur. Ia pun menuju dapur dengan cepatnya karna mau memberikan sarapan buat anak-anak.
Setelah sampai di dapur ia kaget melihat anak-anak sudah berkerumun di meja makan mengerumuni seseorang. Seseorang itu dengan anggun nya memberikan satu per satu hadiah pada setiap anak.
"What siapa itu? Anak-anak...," panggil Dewa.
Semua anak-anak menoleh ke arah suara. Termaksud orang yang bersama mereka itu menatap dengan senyuman ke arah Dewa.
"Bang Dewa datang...!" teriak anak-anak berlarian mendekati Dewa.
Seseorang itu ikut terharu melihat anak-anak menghampiri Dewa.
Dengan kaget nya Dewa melihat seseorang itu yang tentu ia sangat mengenal nya. "Bella!" batinnya.
"Hay...," ucap Bella.
Dewa cuma berdehem tidak menjawab sapaan Bella. Tapi Bella tetap tersenyum pada Dewa walaupun di cuekin.
Anak-anak panti memberitahu Dewa kalau mereka sudah sarapan pagi bersama Bella.
"Bang ada Kakak cantik yang sudah memberi kami sarapan. Sarapan nya enak banget," ucap salah satu anak pada Dewa. Dewa pun memperingati anak-anak untuk tidak dekat-dekat dengan Bella.
"Sebaiknya kalian jangan sembarangan menerima makanan dari orang yang tidak dikenal ya, siapa tau orang itu ada niat jahat pada kalian," ucap Dewa menghasut anak-anak agar menjauhi Bella.
"Tidak kok Bang, Kakak cantik baik, ia juga sudah memberi Bu Tam uang untuk belanja harian kita." ucap anak itu.
"Iya benar, Kakak cantik juga sudah memberi kita hadiah mainan lho...!" sambung salah satu anak lagi.
__ADS_1
Dewa kaget mendengar ucapan anak-anak ia merasa tidak tenang. Ia pergi menemui Bella dan memperingatkan Bella untuk tidak sok baik pada anak-anak.
Tiba-tiba Bu Tami datang. Bu Tami adalah pengasuh anak-anak di pantai itu.
"Dewa, ternyata kamu sudah datang," ucap Bu Tami.
"Kalian sudah saling mengenal? baru aja ibu akan mengenal kan Nak Bella pada mu tadi," ucap Bu Tam
Bella pun terseyum ke arah Bu Tami.
"Bu Tam... dewa mau bicara!" ucap Dewa berlalu di hadapan Bella.
Dewa mengajak Bu Tam bicara di dalam, mereka sedang membicarakan sesuatu.
Bu Tami jadi serba salah mendengar ucap Dewa yang memojokkan Bella.
"Nak Dewa jangan kuatir, itu anak Pak Alek laksana dia donatur tetap di panti ini," terang Bu Tam.
"Ibu mengenal mereka?" Dewa kaget bukan main.
"Masa sih Bu!" Dewa meragukan nya.
"Nak Dewa tidak percaya?"
"Hem...." Dewa jadi bingung dan serba salah.
Ia melihat ke arah Bella secepatnya Bella yang dari tadi memperhatikan Bu Tam dan Dewa pura-pura mengalihkan perhatian nya pada hal lain.
Dewa pergi dari tempat itu. Tapi Bu Tam mengehentikan langkah Dewa. "Dewa apa kamu sudah mau berangkat kerja?" tanya Bu Tam.
"Iya Buk..." sahut Dewa.
"Kok gak pamit pada Nak Bella ya?"
"Tidak perlu pamitan kok Bu," sambung Bella juga ingin beranjak dari tempat itu.
__ADS_1
Bu Tam memperhatikan keduanya saling bergantian.
"Ya sudah Bella pamit ya Bu...," ucap Bella sambil bersalaman dengan ibu dan sebagian anak-anak yang ada di situ.
"Iya makasih sudah mau mampir ke sini sudah memberi semuanya untuk anak-anak," ucap Bu Tam.
"Sok cari perhatian banget sih dia, aku yakin dia pasti ada maksud lain di balik semua kebaikan nya." tuduh Dewa kepada Bella. Dewa pun pergi keluar Bella menyusulnya dengan cepat.
"Dewa tunggu!" ucap Bella.
Dewa mendengar panggilan Bella tapi ia tidak menghiraukannya.
Bella terus mengejar Dewa. Hingga Bella berhasil meraih tangan Dewa dan menariknya.
"Tungguin aku Dewa!" seru Bella.
"Apalagi! belum puas kamu merendahkan aku dan sekarang kamu cari muka depan anak-anak juga, aku kecewa pada mu Bella," bentak Dewa bicara ketus.
"Ya ampun Dewa, kamu masih marah padaku soal itu? bukan kah aku sudah meminta maaf dan mengakui kesalahanku? niat ku ini juga tulus kok Dewa pada anak-anak itu. Kenapa kamu jadi baper menuduhku yang bukan-bukan?" lirih Bella merasa kesal.
"Aku mohon pada mu Dewa maafin aku?" Bella memohon.
"Tidak semudah itu! aku akan memberi mu maaf" sahut Dewa melepaskan tangan Bella dan berlalu.
"Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkan ku Dewa?" ucap Bella berteriak.
Dewa mendengar namun enggan menjawab pertanyaan Bella karna hati nya masih merasa kesal dan dongkol pada perbuatan Bella yang sudah mempermainkan perasaan nya.
Maaf kan aku Bella, aku tidak bisa memaafkan mu, batin Dewa terus melaju.
Bella masih memandangi Dewa dari kejauhan hingga tak terlihat lagi di mata nya. Setelah itu ia pun juga pergi menuju kantornya.
Sesampai di kantor Bella bekerja dalam keadaan tidak tenang. Ia masih memikirkan bagaimana caranya agar bisa mendapatkan maaf dari dewa. Bella berusaha menyakinkan Dewa kalau ia tidak berniat jahat pada ya tapi harus dengan cara apa.
Bella tidak habis pikir kenapa Dewa tega menuduh nya yang tidak-tidak.
__ADS_1