
Kekasih Bayaran Bagian 76
Oleh Sept
Sungguh ini bukan bacaan BOBO, juga bukan majalah Trubuss. Jadi mohon skip. Akan ada sesuatu yang mungkin membuat kapal pesiar oleng. Waspada lah! Tidak ber-KTP diharapkan tap bab selanjutnya. Mohon lewati saja, terima kasih.
***
"Kavi belum keluar kamar dari tadi, Ma?" tanya Gadhi.
"Biarin, Pa."
"Apa dia nggak makan?" tanya Gadhi.
"Kalau lapar juga keluar cari makan," celetuk Hanum sambil melihat ponsel. Ia sedang melihat hasil jepretan Olivia tadi yang sudah dikirim ke ponselnya.
"Mama lagi apa, sih?" tanya Gadhi kepo.
"Lihat foto anak-anak, Pa."
"Oh." Gadhi kemudian diam, tapi matanya melirik ke lantai atas.
"Kok sepi ya, Ma?" tanya Gadhi lagi.
"Lalu Papa mau ramai seperti pasar?"
__ADS_1
"Bukan!" Gadhi langsung menelan ludah.
Dua manusia yang mulai menua itu pun memilih bersantai sambil nonton TV di ruang keluarga.
Lain cerita di kamar atas, Kavi yang baru bangun tidur, sekarang mulai menunjukkan teringnya. Serigala lapar itu sudah siap memangsa korbannya.
Winda, gadis itu sudah ada dalam kuasanya. Ya, wanita itu terbaring dalam kungkungan Kavi. Dengan kedua siku pria tersebut yang menjadi tumpuan agar tidak menindih tubuh Winda.
"Kav! Matiin lampu ... aku malu!" bisik Winda.
"Kalau lampunya mati, aku gak bisa lihat!" celetuk Kavi.
"Aku malu, Kav."
"Sama suami sendiri, nih ... aku temenin biar gak malu."
Melihat Kavi hanya pakai bawahan, bukanlah yang pertama, tapi kok Winda jadi deg-degan. Jantungnya meletup-letup, apalagi terlihat jelas barisan roti empuk yang tergambar di da da bidang Kavi. Aduh, Winda langsung menelan ludah dengan kasar.
Apalagi ada bulu-bulu halus yang membuat pikiran Winda langsung lari ke mana-mana. Belum lagi saat ia melirik ke area bawah. Aduh, Winda benar-benar oleng. Karena ada sesuatu yang menyembul.
"Bentar, tetap pada posisi begini. Aku lepasin ini dulu!" ucap Kavi kemudian beranjak dari ranjang. Pria itu pun melepaskan pengait pada celana jean yang ia kenakan. Dan hanya menyisah kain kaos tipis berbentuk segita warna hitam.
'Astaga! Winda! Ada apa dengan kepalamu?' rutuk Winda yang shock saat melihat gundukan yang biasanya tidak ada tersebut.
"Kav ... Matikan lampunya aja!" pinta Winda yang bergidik ngeri.
__ADS_1
"Jangan dimatikan, nanti kamu salah pegang!"
Ngekkk
Winda langsung speechless. Diam seribu bahasa. Lagian siapa yang mau pegang. Astaga, Kavi PD sekali. Siapa juga yang mau pegang monopterus tersebut? Yang ada ia malah geli.
'Wind, otak lo udah konslet!' batin Winda ketika menyamakan senjataa Kavi dengan monopterus.
"Nggak ... pokoknya matiin," pinta Winda.
"Yakin? Gak mau lihat? Gak nyesel?"
Winda yang malu langsung memalingkan wajah. Sedangkan Kavi, pria itu pun mematikan lampu. Menggantinya dengan lampu tidur yang remang-remang. Kini, ruangan pun minim pencahayaan. Kavi menuruti Winda, karena sepertinya wanita itu benar-benar malu. Padahal Kavi mau pamer. Ya, Kavi mau memperlihatkan pada Winda, betapa perkasanya dia.
"Dah ... dah aku matiin. Sekarang lanjut lagi!"
Secepat kilat, Kavi langsung naik kembali. Rasanya sudah sabar. Ingin segera uji coba.
"Sudah gelap gelapan gini, udah gak usah malu. Sini ... lihat ke mari."
Jantung Winda mau lepas, saat tangan Kavi menarik tangannya dan langsung disuruh pegang monopterus.
"Accchhhh!" Winda spontan menjerit.
Panik, karena Winda berteriak. Kavi lantas menutup mulut itu dengan bibirnya sendiri.
__ADS_1
Bersambung