
Kekasih Bayaran Bagian 86
Oleh Sept
Tiba di depan kantor, Winda meraih ponsel yang masih tergeletak di atas dashboard. Wanita berparas ayu dan terlihat elegant itu mengeryitkan dahi. Menghela napas panjang, ia mendesis ketika ponselnya tidak hanya retak. Ternyata HP paling mahal itu tidak tahan banting. Begitu ia lempar tadi, tidak hanya layarnya yang retak, tapi ponselnya juga mati.
"Ish! Pasti Kavi nanti ngomel-ngomel," celetuk Winda sambil menutup mobil. Ia pun buru-buru masuk ke dalam dan kebetulan melihat Kadek membawa kopi cup.
"Baru dateng?" Kadek memperhatikan Winda dari atas sampai bawah. Kemudian bibirnya yang comel itu kembali berkomentar.
"Ok. I know!" seru Kadek kemudian buru-buru jalan meninggalkan Winda. Kadek tiba-tiba merinding ketika ingat kejadian di apartment Winda tempo hari.
"Eits! Tunggu!" Winda menyusul temannya itu.
"Gue buru-buru!"
Winda tambah mendesis kesal. "Nanti kita makan siang bareng. Ada yang perlu gue omongin."
"Oke, gue duluan."
"Hemm ... sok sibuk!" celetuk Winda, tapi Kadek hanya melempar senyum. Mungkin karena terlalu tergesa-gesa. Kadek sampai tidak memperhatikan jalannya.
DUG ...
Ia menabrak seseorang, seorang gadis cantik, menawan, smart, manja, dan judes. Siapa lagi kalau bukan anak pak CEO, si duren sawit Yudhistira.
"Ups! Sorry!" seru Kadek kemudian megelap baju cantik putri CEO yang terlihat sangat marah.
"Punya mata gak sih?"
'Belagu!' batin Kadek.
"Sorry, Mbak. Gak sengaja."
"Lihat baju gue! Astaga! Mana gue mau datang ke seminar. Bener-bener deh! Bikin masalah!" Anak pak CEO yang sering di sebut si manja itu marah-marah pada Kadek. Membuat Winda yang ada di belakang langsung menghampiri keduanya.
"Ada apa ini?" tanya Winda ketika ia sudah berada di antara keduanya.
"Ini lagi ... datang-datang nanya!" cetus si manja putri CEO dengan ketus. Ia kemudian pergi dan berbalik meninggalkan Kadek yang bengong.
"Astaga ... siapa yang akan tahan hidup jadi istri bapaknya? Bapaknya si good looking, anaknya ... ampun! Bisa stroke seminggu nikah!" celetuk Kadek asal.
"Eh! Omongan itu doa, jangan ngasal Dekkk!"
"Amit-amit deh, Win."
"Jangan begitu, jangan benci-benci banget. Nanti jodoh!" goda Winda yang senang melihat Kadek keki gara-gara putrinya Pak CEO.
"Jangan sampai, Win. Mending cari perjaka pas pasan!"
"Prett!"
__ADS_1
"Pas buat traveling, pas buat apa aja. Omongan belum selesai dah lo potong aja!" celoteh Kadek.
"Ya udah! Tuh pass banget Pak Yudhis!"
Keduanya langsung terkekeh.
"Engak, gue mundur saat lihat anak gadisnya!"
Winda yang tadi suntuk, kemudian terbawa suasana. Ia bisa tersenyum dan bercanda dengan Kadek, si perubahan moodnya.
***
Siang hari, ketika jam makan siang. Winda mengajak Kadek ke sebuah toko HP besar yang tidak jauh dari kantornya. Habis itu mereka pergi ke kafe untuk makan siang.
"Ponsel yang lama kan baru beberapa bulan, ngapain ganti?" Kadek penasaran.
"Rusak!" jawab Winda sambil memasukkan sim card yang lama ke ponselnya yang baru. Baru juga dinyalakan, langsung banyak notifikasi masuk. Dari siapa lagi kalau bukan dari Kavi.
"Lo makan dulu, Dek. Gue angkat telpon suami gue dulu."
"Ish ... iya-iya yang punya suami!" cibir Kadek tapi dengan raut wajah mengumbar senyum, artinya ia hanya bercanda.
Winda pun sedikit menjauh, kemudian melakukan vcall dengan Kavi, suaminya.
"Kav."
Kavi terlihat masam di layar kaca. "Baru aku tinggal sehari kamu udah main matikan ponsel. Aku gak suka, ya!"
"Sorry, HPnya rusak. Pecah."
"Aku banting," jawab Winda kesal. Karena tiba-tiba ingat telpon Kumala yang mengatakan dia anak durhakim.
"Win ... ada masalah?" tanya Kavi kemudian memasang wajah serius. Tidak semarah tadi.
"Ayah, Kav. Ayah aku."
Kavi langsung mengerti.
"Kenapa dia?"
"Kena kasus hukum."
"Lalu kamu mau ke Medan bantu dia??? Nggak! Tidak boleh. Tetap di Bali. Kalau nggak, aku jemput ke Jakarta sekalian."
Winda menggeleng keras. "Nggak, aku gak mau ke Medan. Aku bahkan nggak mau menginjakkan kaki di rumah itu."
"Bagus!" sela Kavi.
"Tapi, Kav ..."
"Tapi apa lagi? Mereka sudah mengusir Kita. Sudahlah, Win. Jangan baik-baik jadi orang. Ini yang nggak aku suka, apa aku balik sekarang?"
__ADS_1
Padahal di depannya Kavi sedang berhadapan dengan klien. Karena Winda telpon, ia langsung mengangkat dan cuek pada dua pria berdasi di depannya. Untung bos, jika tidak dua pria itu pasti mengumpat Kavi habis-habisan.
Sementara itu, Winda merasa tidak enak jika meminta Kavi datang hanya karena ia sedang gunda gulana. Ia pun menggeleng, mengatakan tidak usah.
"Gak usah, nanti biar aku minta Kadek nginep saja."
"Hemm, oke. Nanti aku telpon lagi ya. Ini aku ada klien."
"Iya."
Tut Tut Tut
Winda kembali duduk, lalu makan bersama Kadek. Sambil makan, ia bercerita semuanya pada temannya itu. Dan Kadek hanya bisa menahan kesal, rasanya ingin menyakar wajah ibu tiri Winda tersebut.
"Secantik apa sih, sampai bokap lo berpaling karena ondel-ondel ini?" gerutu Kadek ikut jengkel.
"Entahlah, gue juga gak paham. Dulu ayah sayang sama kami. Tapi setelah wanita itu muncul, semua ancur. Ibu sampai depresi!" ucap Winda sedikit menyimpan dendam. Bagaimana pun Winda manusia biasa, ia tidak bisa melupakan apa yang sudah terjadi di masa lalu.
"Ya udah, lo gak usah mikirin mereka. Kan bokap lo bilang lo bukan darah dagingnya. Udah lah, biar mereka tuai karmanya."
"Tapi ... hati gue gak enak banget. Nyesek, Dek!"
"Habis pulang kerja kita healing. Dah, nanti mood lo bakal gue perbaiki!" celetuk Kadek kemudian menyendok es cream di atas tumpukan daging duren yang tebal dan terlihat lezat. Dan Winda hanya menghela napas panjang.
***
Sesuai janji, pulang kerja mereka langsung mencari hiburan. Pergi ke tempat karaoke, milik istrinya mas Adam yang punya kumis seperti pak Raden tersebut. Hampir satu jam lebih mereka nyanyi-nyanyi, teriak kenceng seperti orang kesurupan. Ternyata healing versi Kadek adalah mengajak Winda karaoke. Dan ternyata itu berhasil, puas rasanya Winda melepaskan amarahnya dengan nyanyi berteriak sesuka hatinya.
Setelah itu keduanya main ke time zone. Memainkan permain tinju dengan sangat optimal. Winda melepaskan emosinya dengan objek permainan. Sampai mandi keringat. Barulah mereka berhenti saat sudah merasa lelah.
"Gila ... capek banget gue!"
"Tapi lega, kan?" tanya Kadek.
Winda mengangguk, dan senyum tipis.
"Ya udah, ayo pulang. Besok harus bangun pagi. Kerjaan numpuk!" ajak Kadek.
"Yup!"
Mereka pun balik ke apartment, kali ini Kadek yang menyetir. Karena Winda menguap berkali-kali.
"Apa semalam lo nggak tidur? Kok kelihatan kurang tidur banget?"
Setelah menanyakan itu, Kadek langsung menyesal. Karena sudah pasti ia paham jawabannya. Ish.
Sampai di depan apartment, Winda berjalan dengan lesu. Sampai Kadek harus menarik lengannya.
"Ayooo!" ajak Kadek. Keduanya pun berjalan bersama-sama. Dan saat melewati lobby, sebuah suara membuatnya keduanya berhenti.
"Kalian dari mana?"
__ADS_1
Bersambung