
Kekasih Bayaran Bagian 72
Oleh Sep
Saat itu Winda merasakan seolah ada batu besar yang langsung menghantam jantungnya. Ia merasa bodohh, selama ini kadang memikirkan pria yang ia panggil ayah tersebut. Bukankah dulu ketika ia dipenjara saat kasus bersama Bora ayahnya sudah mengatakan dia sudah mati? Mengapa kini ia datang mencari pria yang bahkan sudah tidak mau melihatnya lagi?
Ya, Winda memang botol! Bodoh dan to lol. Terlalu berharap pada sosok pria yang ia sebut ayah. Tidakkah dia ingat ketika ibunya wafat di rumah sakit jiwa? Ayahnya yang kala itu di telpon bahkan tidak mengatakan suatu apapun sebagai penghibur saat hidupnya terpuruk.
Tidak simpati, tidak empati, tidak peduli, tidak respect, seolah mereka adalah orang lain. Lalu apakah selama ini ia memang orang lain? Dengan kepingan hati yang tersisa, Winda mencoba untuk bertahan. Untuk kuat menghadapi sang ayah yang sungguh teganya tersebut, seperti pada lagu Meggie z.
"Kita pulang saja!" ucap Kavi kemudian sembari merangkul bahu Winda yang saat itu pasti susah untuk berdiri dengan tegap.
"Tidak! Aku ingin mengatakan sesuatu pada mereka, Kav." Winda menolak pulang, ia ingin mengatakan sesuatu, setidaknya akan mengatakan hal itu untuk pertama dan yang terakhir.
"Katakan apa lagi? Bahkan dia sama sekali tidak menganggap kamu ada!" desis Kavi jengkel campur amarah yang sudah menggunung.
Sedangkan Ruhut, pria itu menatap sinis. Seolah tidak suka dengan kehadiran tamu dadakan itu.
"Kalau sudah tidak ada perlu lagi, silahkan tinggalkan tempat ini!" cetus Ruhut yang mengusir dengan kasar.
"Sebentar, Winda mau mengatakan sesuatu pada Ayah." Winda yang matanya sudah perih, mencoba memaksa untuk berbicara.
Sementara itu, Kumala melempar pandangan tidak suka.
"Awas kalau kamu minta warisan! Ruhut mulai kaya kan sejak sama aku!" gerutu Kumala yang takut Winda minta harta warisan pada suaminya. Suami yang bangga ia rebut dari seorang wanita lain. Mungkin Kumala lupa, kebahagian mengambil milik orang lain itu tidaklah kekal. Kalau pun saat ini semua baik-baik saja, yakinlah bahwa karma sedang diproses dan pasti akan diberikan lunas tanpa sisa pada masanya.
Kembali ke Winda, wanita itu mulai menata hati. Menyiapkan kata-kata yang pas untuk dikatakan pada sang ayah. Karena mungkin ini akan menjadi pertemuan terakhir mereka. Jika Ruhut sudah mengunci hatinya sejak lama sekali, maka Winda pun akan melakukan hal yang sama mulai sekarang. Tapi ia ingin mengatakan suatu hal, agar Ruhut tahu apa yang ia rasakan selama ini. Menjadi ada tapi tidak pernah dianggap.
"Winda darah daging Ayah, tidak peduli Ayah tidak mengakui Winda setelah mengenal tante ini!" Winda menunjuk batang hidung Kumala, ibu dari Berbi. Anak bawaan Kumala yang entah mengapa sangat disayangi Ruhut selama ini. Sepertinya sang ayah sudah lama terkena racun Kumala.
"Eh! Kenapa bawa-bawa saya? Ibumu itu yang selingkuh! Saya lihat sendiri ibumu sering pergi dengan pria lain saat suaminya ke luar pulau. Suami kerja cari nafkah, istri selingkuh!" ucap Kumala marah.
Winda yang sejak tadi menahan emosi, mulai mengepalkan tangan. Ingin rasanya ia bungkam mulut wanita itu dengan bogem mentahnya. Tega sekali memutar balikkan keadaan. Siapa yang selingkuh dan kenapa malah menyalahkan ibunya? Marah, pasti. Winda pun berniat membalas perkataan Kumala yang culass itu.
"Apa tidak terbalik? Anda yang sudah merebut suami orang!" ujar Winda tegas.
"CUKUP!" sentak Ruhut yang tidak mau mendengar apapun.
Kavi rasanya ingin sekali membawa Winda pergi dari keluarga penuh toxic tersebut. Tidak mau mental Winda jatuh karena perlakuan yang tidak wajar tersebut.
"Kamu bukan anak saya! Dan satu lagi, saya sudah melakukan tes DNA. Jadi jangan mencari saya lagi karena alasan apapun!" tegas Ruhut tanpa rasa iba. Meski dilihatnya air mata Winda langsung tumpah saat itu juga.
__ADS_1
Sedangkan Kumala, ia tersenyum penuh kemenangan. 'Mampusss kau, pria ini percaya saja hasil sudah aku tukar!' batin Kumala tersenyum jahat. Ia sangat senang, karena berhasil menghasut Ruhut, mengenai Rissa yang ia bilang selingkuh, dan menyuruh Ruhut melakukan tes DNA diam-diam. Agar dia bisa menguasai Ruhut seutuhnya.
Sementara itu, Kavi sudah hilang kesabaran. Setelah kata-kata jahat yang terlontar dari mulut Ruhut, Kavi langsung mencengkram lengan Winda.
"Kita pulang, sekarang!"
Kavi tidak mau Winda malah semakin menderita karena ulah suami istri yang tidak punya hati tersebut.
Winda yang masih shock, hanya menuruti apa mau Kavi. Tanpa pamit, ia langsung berbalik bersama Kavi. Meninggalkan rumah yang mungkin tidak ingin ia injak lagi selamanya.
'Bagus! Sana pergi!' gumam Kumala menatap keduanya yang keluar dari rumahnya.
Sedangkan Ruhut, wajahnya masih mengeras. Ia masih ingat bagaimana Kumala menunjukkan banyak bukti foto kalau Rissa, ibunya Winda ada main dengan pria lain.
Sampai ia curiga, jangan-jangan Winda bukan putrinya. Dan karena desakan Kumala, akhirnya ia melakukan tes diam-diam. Kumala yang licikk, selalu punya banyak cara untuk menebar fitnah. Demi harta, dan demi merebut suami orang, ia melakukan banyak macam cara. Tidak peduli apapun, yang penting hidupnya nyaman walau hasil rampasan. Miris, tapi inilah yang sering terjadi, pagar makan tanamam.
***
Di dalam mobil
"Jangan buang air mata kamu yang berharga itu. Sudah ... jangan nangis!" Kavi memberikan sekotak tisu pada Winda.
Tidak banyak bicara, Winda hanya menangis sampai mereka tiba di sebuah hotel bintang lima yang ada di tengah kota Medan.
"Aku nggak mau mereka melihat matamu yang sembab itu, dikiranya aku kdrt-in kamu!" ucap Kavi, sebenarnya niatnya untuk bercanda, sekedar melemaskan pikiran. Karena Winda hanya menangis sepanjang perjalanan tadi.
Tapi tangis Winda malah pecah, terpaksa Kavi meminta pak sopir keluar sebentar.
"Maaf ya, Pak."
"Baik, Tuan." Seolah mengerti, bapak sopir pun memberikan ruang pada Kavi dan Winda.
"Menangislah ... selagi di depanku. Hanya denganku kamu boleh menangis. Aku pastikan nanti ... kamu hanya menangis bahagia saat sudah bersamaku selamanya."
Kavi memeluk Winda yang sesengukan, mungkin tangis belasan tahun yang Winda pendam pecah semua.
Sesaat kemudian
Winda sudah terlihat lebih tenang, ia pun keluar mobil menggunakan kacamata hitam. Benar kata Kavi, matanya bengkak, sembab karena terlalu banyak menangis.
Keduanya lalu pergi ke kamar di mana sudah dipesan terlebih dahulu. Mereka pesan dua kamar tapi berdampingan. Dan Kavi bukannya pergi ke kamarnya sendiri, ia malah ikut masuk ke kamar Winda.
__ADS_1
"Kav! Kenapa kopermu kamu bawa masuk ke sini. Sana pergi ke kamarmu. Aku sedang nggak mood untuk berdebat!" ucap Winda lemas dengan suara serak.
"Kamu lagi sedih, aku nggak mau kamu merasa kesepian."
Winda tersenyum getir.
"Sudah! Sana ... jangan banyak alasan. Kita belum menikah. Aku tidak mau terjadi hal yang tidak-tidakk!" ujar Winda kemudian mendorong tubuh Kavi agar keluar dari kamarnya.
"Kenapa kamu takut sekali? Lagian kita juga akan menikah."
"Tidak ... apa kamu gak tahu? Siapa ayah kandungku saja aku nggak tahu!" ucapnya putus asa.
"Ish, jangan percaya omong kosong itu. Lihat, sekali melihat saja aku yakin kamu putrinya. Kalian sangat mirip."
Winda menggeleng pelan, dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
"Dia sudah tes DNA diam-diam, Kav." Winda juga yakin Ruhut bapaknya, tapi bagaimana lagi, pria itu bahkan tidak percaya dan malah melakukan tes yang menyakiti hatinya itu.
"Itu bisa dimanipulasi!" jawab Kavi enteng.
"Tetap saja, makin tidak setuju tante dengan pernikahan ini. Ayahku tidak jelas, dan ibuku dikatakan gila." Winda mengusap pipinya, mendadak jadi pesimis.
"Jangan mulai meragu, Win. Perjuanganku sangat berat untuk dapetin kamu," ucap Kavi dengan sorot matanya yang tak lepas dari Winda.
"Aku hanya realistis, Kav. Aku nggak punya keluarga lagi, satu-satunya ayah yang aku miliki malah membuangku, keluarga besar kamu pasti gak mau menerima aku." Winda mengusap wajahnya. Ia terlihat sangat lelah, lelah hati, lelah pikiran, lelah jiwa dan raga.
Kavi yang melihat betapa putus asanya wanita yang ia cintai itu, ia pun langsung meraih tubuh Winda. Memeluknya, mendekap erat tubuh wanita tersebut.
"Mulai sekarang, akulah keluargamu ... aku yang akan jadi wali kamu satu-satunya. Tidak masalah kamu tidak memiliki keluarga, bukankah aku sudah cukup?" bisik Kavi.
Kavi kemudian melepaskan pelukannya, menyentuh dagu Winda, lalu perlahan menurunkan wajahnya. Terasa asin saat ia mengecupp wanita yang tadi terus menangis itu. Pertama hanya iseng, sekedar menempelkan bibirnya.
Dimulai dengan sesapan kecil, sampai berubah menjadi menuntut. Dalam dan lama. Merasa mulai tidak beres, Winda melepaskan diri, karena wajahnya sudah memanas. Dan juga Kavi sepertinya mulai terlena. Bahkan tangannya sudah berani menyentuh sesuatu yang belum pernah ia raba sebelumnya.
"Sudah, Lav. Kita jangan lama-lama di sini Kamu balik ke kamar kamu."
Kavi mengusap wajahnya dengan kasar, hampir saja! Ia menghela napas panjang.
"Win ... aku gak bisa gini. Nunggu restu mama juga mungkin butuh waktu lagi. Sedangkan ayahmu jelas tidak akan memberikan restunya, karena ia merasa kamu bukan putrinya. Aku gak mau ambil resiko lagi ... malam ini kita nikah ya? ... di sini!"
Winda hampir jatuh karena kaget.
__ADS_1
Bersambung
Anak burung Hering sudah tidak percaya pada dirinya sendiri.