
Kekasih Bayaran Bagian 107
Oleh Sept
"Sayang! Kamu ini kenapa mondar-mandir. Udah duduk sini." Kavi menyentuh lembut lengan Winda. Istrinya itu sudah mirip alat gosok, dari tadi jalan ke sana ke sini seperti setrikaan.
"Sudah jam 11, kok Kadek belum pulang ya?"
Kavi mengusap wajahnya, "Ya ampun, Kadek itu sudah besar. Wajar dia nggak pulang atau pulang telat."
"Tapi dia bilang lembur, masa lembur sampai jam 11?" Winda khawatir dengan sahabatnya itu.
"Ya sudah, telpon saja."
"Nggak diangkat, Sayang!" keluh Winda pasrah. Ia kemudian menyandarkan punggungnya di sofa. Matanya menatap jam. Sudah larut mengapa Kadek tidak kunjung pulang. Apalagi dia kan seorang wanita.
"Mungkin battery ponsel dia habis. Udah dong Sayang, jangan khawatir berlebih. Kasian baby-baby Kita."
Kavi berjongkok di depan Winda, mengusap perut Winda yang besar seperti balon. Menurut kalender sih baru lima bulan. Tapi Kavi rasa ini besar sekali. Ya mungkin karena isinya tiga.
"Tidur yuk, aku pijitin!"
Winda melirik curiga. "Pijitin aja, ya?"
"Ya ampun, curiga sekali. Iya ... pijit sambil bonus apa gitu."
Winda langsung melotot dan Kavi memeluknya gemas.
"Iya ... iya sayangku."
Keduanya pun berangkat tidur. Kavi sudah tidak bisa membopong tubuh Winda lagi. Ini karena BB Winda sudah nambah 15 kilo gram. Cukup berat dan Kavi sepertinya takut nanti malah jatuh. Ia pun hanya merangkul istrinya itu ke kamar.
***
Di tempat lain. Hingar bingar malam di pulau Dewata, Bali malam ini cukup membuat Kadek terhibur. Setelah seharian bekerja sampai lembur, kini ia menikmati suasana malam di sebuah tempat yang gemerlap.
"Kau bisa minum juga?" cibir Yudhistira.
Kadek tersenyum datar, kemudian mengambil segelas minuman berwarna biru laut tersebut. Cukup pahit, membuat dahinya mengkerut.
Melihat itu, Yudhistira si duda kesepian, mapan dan tampan itu tersenyum tipis.
"Jika tidak bisa minum, tidak usah memaksakan. Akan ku pesankan air mineral. Kau sepertinya cocok dengan minuman itu!" ledek Yudhistira.
Kadek langsung panas mendengar cibiran dari bosnya yang bermuka dingin itu. Tanpa ragu, Kadek meraih sebotol minuman yang ada di depan Pak duda.
"Hey! Apa yang kau lakukan!" Yudhistira meraih botol itu, tapi telat. Kadek sudah menuangnya ke dalam gelas dan meminumnya sampai habis.
Pria itu pun hanya bisa mencebik dan menatap aneh. Ia seolah melihat sisi lain dari seorang Kadek.
"Aku sudah buktikan. Ini kecil ... hanya segini!" ucap Kadek sombong.
__ADS_1
"Jangan pernah mau diajak minum pria!" celetuk Yudhistira kemudian membetulkan jasnya.
"Ayo balik!" ajaknya kemudian.
"Apa? Kita bahkan baru sebentar. Kenapa? Apa Bapak jangan-jangan yang tidak bisa minum?"
Yudhistira tersenyum getir. "Jangan biacar yang tidak penting. Sepertinya aku salah mengajak orang."
"Apa?"
Kadek kesal kemudian kembali menuang minuman lagi, lagi dan lagi sampai habis.
Yudhistira mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian memanggil pelayan. Ia membayar lalu menarik paksa Kadek yang tidak mau pergi.
"Jangan pegang aku! Bapak bilang kerjaku tidak becus!!! Eitt ... bukan kerjaku yang tidak becus. Itu karena Bapak yang sedang banyak masalah. Jangan karena saya diam ... Bapak bisa injak-injak saya!" sentak Kadek yang mulai kehilangan kewarasan karena minuman.
"Jika kau teruskan, aku yakin besok kau akan malu!" ujar Yudhistira sambil melipat tangan di da danya.
"Ish ... kau memang atasan sombong. Kau pikir aku robot? Harus kerja lembur terus hanya karena kau menyalakan semua hasil kerjaku? Hem?" Kadek mulai marah-marah lagi.
"Sudah! Jangan membuat keributan di sini!"
"Jangan sentuh aku!" teriak Kadek yang membuat semua orang menatap keduanya.
Beberapa pelayan langsung mendekati. "Maaf, apa ada masalah?"
"Tidak!" jawab Yudhistira sembari mendesis kesal.
Kadek kemudian kembali duduk dan mencengkram meja. Ia tidak mau pergi.
Setelah beberapa langkah, ia sempat menoleh sebentar. Dilihatnya Kadek didekati 2 pria kekar sekaligus.
"Sialll!" gerutunya.
Yudhistira langsung kembali dan mencengkram lengan Kadek.
"Ayo!"
"Heii ... siapa kau? Berani menyentuh tubuhku?" jerit Kadek.
Yudhistira menahan kesal, kemudian menatap tajam dua pria yang hendak menggoda Kadek.
"Ayo pulang!"
"Pulang? Heiii Kau siapa?" ujar Kadek menepis tangan bosnya.
"Tolong lepaskan gadis ini!" pinta salah satu pria yang tadi mendekati Kadek.
"Jangan ikut campur hubungan orang lain!" cetus Yudhistira galak.
Pimpinan di tempat Kadek bekerja itu langsung menarik paksa Kadek. Meskipun ia teriak tidak ada yang menolong. Sebab semuanya mengira mereka adalah sepasang Kekasih yang sedang bertengkar.
__ADS_1
***
Basement
"Lepasin!"
"Diammm!"
"Siapa kau berani menyuruh aku diam?" Kadek mendorong tubuh Yudhistira sampai bosnya itu geram.
Yudhistira menghela napas panjang, menahan kesal karena aski berani Kadek yang sudah mendorongnya. Kali ini ia pun sedikit tegas dan kasar. Menarik Kadek dan langsung memasang sabuk pengaman. Akan mengantar pulang gadis itu. Tapi dia bingung, mau di antar ke mana?
"Di mana rumahmu?"
"Aku tidak punya rumah!" jawab Kadek sambil terkekeh.
"Aku serius, mana rumahmu?"
Kadek tertawa lepas, "Aku bukan siput tuan pemarah ... mana mungkin aku bawa rumah kemana-mana?"
Kesal, Yudhistira langsung tancap gas. Ia mengemudi dengan kencang. Ketika sampai di lampu merah dan mobil berhenti, Kadek mulai aneh-aneh. Ia melepaskan seatbelt dan akan membuka pintu.
"Kadekk!" sentak Yudhis sambil menarik lengan gadis itu. Mereka masih di tengah jalan. Masih berada di lampu merah, bisa-bisanya anak buahnya itu mau turun.
"Kenapa kau selalu marah-marah?" gerutu Kadek kemudian tertawa.
Tin tin tin
Terdengar suara klakson karena lampu sudah berganti hijau. Mobil pun kembali melaju, bersama kendaraan yang lainnya.
"Mana alamat rumahmu?" tanya Yudhistira sembari memperlambat laju kendaraan yang ia kendarai.
Kadek malah sudah tertidur, dan Yudhistira hanya bisa mendesis kesal.
***
Kediaman Yudhistira
Rumah sangat sepi karena malam sudah larut, Yudhistira memapah Kadek masuk ke dalam salah satu kamar di rumah tersebut. Kebetulan putrinya yang sudah gadis sedang berlibur bersama mantan istrinya. Mau dibawa ke hotel juga tidak mungkin, akhirnya ia membawa Kadek ke rumahnya saja.
Bukkk
Ia menjatuhkan Kadek ke atas ranjang. Kemudian bersiap pergi. Membiarkan Kadek di dalam kamar seorang diri.
"Lain kali jangan sok-sokan minum!" gerutu Yudhistira. Pria itu pun pergi, tapi malah mendengar Kadek mual. Sialllnya, Kadek malah muntah di atas ranjang.
Huekk .... huekk ...
Yudhistira mendesis kesal. Masalahnya sudah sangat larut, bibi di rumah juga sudah tidur. Alhasil ia yang harus membantu Kadek melepaskan pakaikan yang sudah kena muntahan tersebut. Bersambung.
Haduh, duda kok pakai buka-buka baju gadis?
__ADS_1
IG Sept_September2020
Jangan lewatkan beberapa episode terakhir. Terima kasih.