
Kekasih Bayaran Bagian 97
Oleh Sept
Pria itu khawatir ketika Winda malah mendorong tubuhnya lagi kemudian menutup pintu. Tidak mengijinkan dia masuk, menyuruh Kavi untuk tetap diam di depan pintu.
"Sayang! Winda ... kamu kenapa? Salah makan apa tadi? Aku telpon dokter ya?"
Tok tok tok
Kata-kata Kavi tidak didengar oleh Winda, karena beradu dengan suara kran air yang menyala deras.
"Winda?" Kavi menempelkan telinga pada pintu, berharap bisa mendengar suara dari dalam. Hanya suara air dan Winda yang terdengar muntah.
Gelisah, Kavi berbalik kemudian merogoh saku bajunya. Ia pun menghubungi dokter pribadi yang biasanya datang saat dipanggil. Setelah selesai telpon dokter, ditatapnya pintu kamar mandi dalam kamarnya sudah terbuka. Winda keluar dengan wajah pucat dan layu.
"Sayang, kamu kenapa?" Kavi berjalan mendekati istrinya itu. Tapi dahi Winda mengkerut, kemudian menggeleng ke arah kavi.
"Sudah aku telpon dokter, jangan mundur-mundur, nanti jatuh!" tambah Kavi yang akan meraih pundak istrinya, tapi baru beberapa detik Winda kembali masuk. Ia juga mengunci pintunya dari dalam. Membuat Kavi tambah gelisah.
"Win!! Buka pintunya!"
Tok tok tok
Hampir lima menit Winda di dalam, dan hampir saja Kavi mendobrak pintu kamar mandi tersebut. Tidak jadi karena selang beberapa saat Winda kembali keluar.
Baru membuka pintu, baru juga melangkah satu jangka, tiba-tiba pandangan matanya jadi gelap. Winda ambruk saat itu juga, untung reflek Kavi sangat cepat, membuat wanita itu tidak sampai menyentuh lantai karena Kavi langsung menangkap tubuhnya.
'Kenapa kamu Winda?'
Kavi langsung membopong tubuh Winda dan meletakkan dengan hati-hati di atas ranjang. Ia juga kembali menghubungi dokter, meminta datang lebih cepat.
Kavi pikir mungkin karena Winda akhir-akhir ini jarang makan, setelah meninggalnya sang ayah, Winda memang sangat murung, tidak semangat seperti biasanya. Dan pingsannya Winda kali ini, Kavi pikir karena beban kesedihan yang sangat berat yang ditanggung istrinya itu.
Masih diliputi rasa cemas dan khawatir, ia mencoba membuka laci, mencari minyak untuk dioles di hidung Winda agar siuman. Pelan-pelan ia beri aroma therapy itu agar Winda kembali sadar. Selang beberapa saat, kelopak matanya bergerak-gerak. Winda perlahan tersadar dan membuka matanya.
"Syukurlah," Kavi menghela napas lega. Ia usap kepala Winda dengan lembut. Dan Winda hanya menatapnya dengan lemas.
"Kita ke rumah sakit, ya? Sepertinya kamu nggak baik-baik saja," ucap Kavi kemudian saat Winda sepenuhnya tersadar.
Winda menggeleng pelan. Kemudian berbicara dengan suara lirih. "Nggak usah."
"Nggak usah bagaimana, lihat badan kamu. Kamu jadi kurusan sebulan ini. Pucet juga, kita lakukan general check up. Periksa semuanya, oke?"
"Aku nggak apa-apa, Kav!" tolak Winda.
__ADS_1
"Kali ini kamu harus nurut, jangan keras kepala!" protes Kavi.
"Tapi beneran, aku nggak sakit."
"Nggak sakit apanya," Kavi mulai ngomel-ngomel. Wajahnya juga menjadi galak, dia bukan marah tapi sangat khawatir dengan kondisi istrinya.
"Aku telat, Kav!" sela Winda yang membuat Kavi tertegun.
"Telat? Telat apa?" tanya Kavi spontan. Tapi otaknya yang cerdas mulai berpikir. Mulai menyusun kepingan puzzle yang tercacar. Merangkai kejadian demi kejadian yang terjadi akhir-akhir ini. Kavi juga ingat, sudah lama Winda tidak M. Jangan-jangan ...
"Kita tunggu dokter datang!" ucap Kavi kemudian. Wajahnya berubah tegang. Matanya melirik perut Winda.
'Cepet banget?'
Mata Kavi kemudian tertuju pada beberapa koper yang sudah tertata rapi.
'Itu bagaimana?' tanya Kavi dalam hati.
***
"Sepertinya istri anda sedang hamil, ada yang keras di sebelah sini. Sebaiknya dilakukan tes," ucap dokter.
Winda dan Kavi saling menatap. Kemudian melakukan sesuai apa yang dokter minta. Winda turun dari ranjang kemudian melakukan test mandiri saat masih ada dokter di sana.
Beberapa menit kemudian, Winda menatap hasil tesnya. Ada rasa aneh yang menyeruak masuk, apa yang ia pikirkan ternyata benar. Rasa sedih, senang, haru jadi satu. Hatinya yang tidak menentu akhir-akhir ini, membuat perasannya menjadi mellow. Dan saat ia keluar kamar, ia memberikan alat itu pada suaminya.
Winda mengangguk, Kavi langsung memeluknya. Meski masih shock, tapi terlihat jelas kalau Kavi sangat bahagia dengan kabar kehamilan istrinya itu. Mereka berpelukan lama, sampai abai bahwa dokter masih di kamar yang sama dengan mereka.
Sesaat kemudian
"Sebaiknya periksa ke rumah sakit, dan dilakukan USG agar lebih akurat," ucap dokter.
"Baik, Dok. Terima kasih banyak."
"Sama-sama, ini saya resepkan vitamin dan pereda mual. Karena tidak ada keluhan yang lain lagi."
"Iya, Dok."
Kavi kemudian melihat sebelah ranjang, di mana banyak koper yang sudah siap.
"Maaf, Dok. Untuk perjalanan jauh saat awal mula kehamilan bagaimana?"
"Jangan, tidak dianjurkan!" sela dokter dengan cepat.
Kavi mengangguk paham. Ya, Paris melayang.
__ADS_1
"Kami tidak mau mengambil resiko, sebaiknya hindari penerbangan apalagi janin masih sangat rentan di trimester awal," tambah dokter sambil menulis resep yang tulisannya sangat indah dan estetik, sampai sulit untuk terbaca oleh mata orang awam.
"Baik, Dok!" Kavi tidak membantah, sebab kesehatan Winda dan calon buah hatinya adalah segalanya.
***
Sore itu juga Kavi menghubungi orang tuanya saat dokter sudah pergi. Ia melakukan vcall dan membuat Hanum sangat gembira.
"Jangan berangkat ke Paris!" seru Hanum dalam vcall yang sedang berlangsung.
"Iya, Ma."
"Besok Mama ke sana, sudah sekarang istirahat saja. Oh ya, Winda mau apa? Biar Mama carikan," ucap Hanum antusias.
Winda yang merasa diperhatikan, tiba-tiba matanya terasa perih. Telpon dengan Hanum, sang mertua. Sedikit banyak mampu mengobati kerinduan Winda pada keluarga.
Setelah telpon usai, Kavi bersikap sangat manis. Lebih manis dari pada sebelumnya. Tapi sikapnya berubah ketika Winda memintanya malam ini jangan tidur satu ranjang dengannya.
"Kav, jangan tidur di sini. Aku mau tidur sendiri."
Kavi langsung masam, "Jangan aneh-aneh!"
"Ya sudah, aku tidur di sofa," ucap Winda yang akan turun dari ranjang empuk mereka.
"Jangan bercanda, gak lucu!" cetus Kavi.
Winda sepertinya tidak bercanda, bumil itu meraih satu bantal dan bersiap turun.
"Windaaaa!" desis Kavi kesal.
"Balikkk!" tambah Kavi sambil menajamkan mata.
"Aku mau tidur sendiri," seru Winda kekeh mau tidur sendirian.
"Mana bisa begitu? Kamu ini kan istriku!" protes Kavi.
Winda juga bertekat kuat, ia terus berjalan kemudian rebahan di sofa. Kavi menghela napas dalam-dalam lalu mengalah.
"Oke!!! Baiklah!"
Pria itu ikut turun kemudian menghampiri Winda yang sudah terbaring di sofa.
"Kali ini aku maafkan!" ucapnya setengah hati sambil membopong Winda ke kasurr.
Akhirnya malam ini Winda menguasai ranjang seorang diri, sedangkan Kavi, sepanjang malam harus merutuk kesal karena harus pisah ranjang.
__ADS_1
'Semoga Winda hanya iseng!' batinnya yang tidak rela tidur terpisah.