Kekasih Bayaran

Kekasih Bayaran
Jahil


__ADS_3

Kekasih Bayaran Bagian 93


Oleh Sept


Sepanjang jalannya permainan sepak bola di TV, pikiran Kavi tidak fokus pada apa yang ia tonton. Berbanding terbalik dengan Gadhi, sang papa. Pria itu begitu bersemangat, apalagi ketika tim jagoan papa Gadhi melakukan gol terbaiknya. Semangat pria yang sudah punya enam cucu itu pun tambah berkobar.


Ya, Gadhi dan Hanum memiliki enam cucu dari anak kembar pertamanya dan dari pasangan Arjun serta Olivia. Sekarang tinggal anak terakhir mereka yang belum memberikan mereka cucu.


Tidak terasa pertandingan pun berakhir, sejak tadi Kavi sudah menguap berkali-kali. Bukan pura-pura mengantuk, tapi Kavi memang ngantuk beneran.


"Pa ... Kavi ke kamar dulu."


"Iya, seru juga lama gak nobar," ucap Gadhi kemudian bangkit. Ia berdiri siap masuk ke kamarnya. Sedangkan Kavi, sambil mengusap wajah untuk mengusir rasa kantuk, ia kembali merutuk dalam hati.


'Seru apanya!'


Apes bagi Kavi, karena Winda sudah tidur saat ia masuk ke kamar lamanya. Kamar yang selama ini ia tempati selama bujang.


"Tuh kan, sudah tidur duluan ... hadeh papa, sih!"


Kavi melihat wajah damai Winda yang sudah lelap, dan ia juga ngantuk para. Alhasil, meski tidak rela, ia pun memutuskan untuk pergi tidur saja. Terpaksa ia akan absen malam ini.


***


Cuaca cerah, mentari pagi menyapa wajah Kavi yang terbaring dengan lembut. Cahaya pagi yang hangat itu menerobos masuk lewat jendela kamar Kavi yang sudah terbuka lebar.


"Sayang, bangun ... katanya ngantor hari ini? Sudah pagi!" bisik Winda tepat di telinga Kavi.


"Lima menit lagi," jawab Kavi, masih dengan mata tertutup. Ia semalam bergadang lihat bola, alhasil sekarang masih mengantuk berat.


"Bangun ... siap-siap. Katanya mau ajak aku ke kantor?"


Perlahan mata dengan alis yang lebat itu mengerjap. Kelopak matanya bergerak-gerak kemudian membuka peran-pelan. Setelah bangun sempurna, Kavi menatap Winda lama.


"Mau ikut?" tanya Kavi dengan suara yang masih serak.


Winda mengangguk, membuat Kavi langsung sumringah.


"Oke, aku mandi dulu!" Pria itu kemudian bergegas turun dari ranjang dan mengambil handuk untuk mandi. Kavi yang baru bangun terlihat begitu bersemangat ketika Winda bilang akan ikut ngantor dengannya pagi ini. Lumayan, kalau Winda diajak ke kantor, setidaknya tidak ada lagi yang mengusik kebersamaan keduanya.


***


Saat sarapan pagi, semua berkumpul di meja panjang bak meja kerajaan saat jamuan makan. Di sela-sela sarapan pagi itu, mereka juga berbincang. Membicarakan hal sederhana sampai dengan masalah bisnis. Hingga makan selesai, mereka masih sempat mengobrol lagi. Sampai akhirnya Kavi pamit untuk ngantor.


"Winda ikut? Nggak di rumah saja sama Mama?" tanya Hanum yang melihat Winda menenteng tas Gussi warna orange.


"Gak, Ma. Winda sama Kavi," sela Kavi yang tidak mau ditikung lagi. Di rumah terlalu banyak yang menganggu. Membuat waktunya bersama Winda jadi berkurang.


"Winda pergi dulu, Ma." Winda pun pamit pada semuanya. Dan akhirnya Kavi bisa tersenyum puas. Apalagi saat melihat Kezia merengek minta ikut. Mau tidak mau, Olivia harus membujuk.


'Akhirnya, bebas! Susah sekali berdua saja sama istri sendiri!' batin Kavi kemudian memasang sabuk pengaman. Ia kini sudah ada di dalam mobil, otw ke global Tourshine Groups.


"Sayang, wajah kamu kenapa tegang begitu?" tanya Kavi saat melihat Winda memasang seatbelt sebelum ia menyalakan mesin.


"Gak apa-apa, deg-degan aja mau ke kantor itu."


"Mereka semua pasti shock."

__ADS_1


"Benarkah?"


Kavi mengangguk, kemudian melempar senyum. Pria itu lalu mulai menjalankan kendaraan warna merah mengkilap tersebut. Meninggalkan kediaman Gadhiata Ratama Prakash yang besar dan megah itu.


***


Global Tourshine Groups


Belum masuk, masih di basement tempat parkir perusahaan. Winda menarik napas banyak-banyak.


"Kenapa nervous begitu, Sayang?"


"Tau nih, tegang aja."


"Sini, biar gak tegang lagi."


CUP


Bibir itu langsung mendarat tanpa aba-aba.


"Ish!"


Kavi menarik wajahnya kemudian tersenyum tipis. "Masih tegang?"


Winda balas tersenyum mengejek. "Jangan mulai, deh! Ayo turun ... dah telat."


"Telat apa, jadwalku udah aku kosongkan hari ini."


"Lah? Terus ngapain ke kantor?"


"Astaga!"


"Dah, jangan bengong. Masuk ... Ayo!"


Kavi keluar duluan, kemudian membuka pintu untuk istrinya itu. Dan saat mereka masuk lobby perusahaan, semua mata curi-curi pandang pada keduanya. Bisik-bisik tetangga pun kembali terdengar.


[Dia dulu karyawan biasa di perusahaan ini, gilaa! Malah dapat anak bos!]


[Halah, paling juga main guna-guna. Mana ada anak bos, kaya raya mau sama gadis miskin. Fix pasti pakai hal mistis]


[Jangan sembarangan kalau ngomong, dinding juga punya telinga]


[Gak takut, emang gue salah?]


[Dipecat baru nangis, Lo!]


[Mana ada aturannya, karyawan dengan prestasi terbaik dipecat karena gibahin istri bos?]


Para karyawan itu langsung diam ketika Winda dan Kavi melewati mereka. Kavi memasang muka dingin, entah mengatakan ia merasakan feeling kurang enak saat melewati grup karyawan tukang gibah tersebut. Sedangkan Winda, ia jauh lebih ramah dan sopan.


Ketika ada yang menyapa hanya dengan senyumnya, Winda pun membalas dengan ramah. Ikut senyum tipis kemudian melanjutkan langkahnya.


"Itu bu Fenita, kan?" tanya Winda yang melihat Fenita dari jauh sedang berjalan sambil membawa berkas.


"Ya, mau menyapa dia? Dia pasti senang kamu masih ingat dengannya," goda Kavi. Ia jadi geli saat ingat bagaimana mereka bertiga bertemu. Salah paham yang berbuntut sangat panjang.


"Hemmm."

__ADS_1


Keduanya pun berjalan, dan jarak antara mereka dengan bu Fenita pun semakin dekat. Dari jauh bu Fenita sudah melihat kedatangan Kavi. Hatinya langsung senang, begitu juga matanya, berbinar seperti ketemu pacar lama. Senyumnya yang menggembang, seketika sirna tatkala menatap wanita cantik serta glowing di sisi Kavi.


'Wait! Itu Winda, kan? Uang bisa merubah segalanya. Kenapa dia jadi sangat cantik dan wajahnya putih bersinar? Pasti operasi di Korea atau Thailand!' gerutu bu Fenita yang merasa cemburu.


'Demoga dia gak dendam karena aku pernah memecat dia. Eh, bukan aku. Itu kan surat perintah dari atasan. Aku gak ikut adil sama sekali. Meskipun saat itu aku merasa sangat senang. Karena anak ini sudah berhasil menusukk dari belakang. Bisa-bisanya dia bermain di belakangku. Tidak kah dia tahu, kalau Kavi itu ineranku. Sialll! Harusnya aku sekarang yang berdiri di sebelah pria tampan ini. Padahal dulu, saat status dia sebagai karyawan biasa, kami sangatlah dekat. Sebelum Winda datang dan merusak hubungan kami!' Fenita tidak berhenti merutuk, sampai sapaan Winda membuatnya tersadar.


"Pagi, Bu Feni!" sapa Winda yang sama sekali tidak dijawab.


"Ehemm!" Kavi berdehem. Membuat Fenita mendongak dan mengeluarkan senyum paling manis pada suami orang.


"Pagi, Pak Kavi!" sapa Fenita yang malah menatap Kavi terus.


'Lah ... kan tadi aku yang nyapa, kenapa malah menyapa Kavi duluan? Ish ... dia gak berubah. Sepertinya juga masih suka sama Kavi. Bu Fenita ... aku di sini. Woii!' batin Winda yang sama sekali tidak ditatap Fenita. Sepertinya juga Fenita sengaja.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Fenita lembut dan bernada merdu seperti suara penyanyi.


Winda yang pendendam, ia pun sepintas ingin mengerjai mantan atasannya itu. Kapan lagi bisa ngerjai bu Fenita.


"Aduh!"


Kavi langsung menoleh dan bertanya dengan perhatian, "Kenapa, Sayang?"


"Perut aku tiba-tiba nyeri, sakit," jawab Winda dengan manja dan wajah dibuat lemas.


"Ayo ke ruang kerjaku. Bisa jalan, kan?"


Melihat Winda diam sambil terus memegangi perutnya, Kavi pun langsung membopong tubuh Winda di depan bu Fenita. Winda sendiri langsung melingkarkan lengannya di leher sang suami. Sengaja memanas-manasi Fenita. Aduhhh, senangnya hati Winda. Melihat betapa masam dan kecutnya wajah mantan bosnya dulu.


'Apa aku kekanak-kanakan ya?' batinnya bertanya-tanya.


Saat akan sampai pintu ruang kerja Kavi, Winda langsung minta turun.


"Sayang, udah ... turunin. Aku gak apa-apa."


"Sudah tahu!" jawab Kavi santai.


"Ish. Ya udah, turunin."


"Biar aja, lanjutin sampai selesai."


"Ini kantor, ayo dong jangan aneh-aneh."


KLEK


Kavi membuka pintu dengan sikunya, kemudian terus berjalan. Ia baru berhenti setelah meletakkan Winda pelan-pelan di atas sofa di dalam ruang kerjanya.


"Jangan bergerak, tetap seperti ini!" ucap Kavi kemudian berbalik dan terdengar suara pintu dikunci.


'Astaga!'


"Sayang! Ini kantor!" Winda panik saat Kavi melonggarkan dasi.


"Ini gantinya semalam!" Kavi mengerlingkan mata.


Winda pun langsung beringsut.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2