
Kekasih Bayaran Bagian 98
Oleh Sept
Rumah sakit
Semalam Kavi dibuat tidak bisa tidur karena harus tidur di sofa. Maka, pagi harinya ia pun terus menguap saat berjalan di koridor sebuah rumah sakit besar di tengah kota. Mereka akan menemui dokter specialist untuk memeriksa kandungan Winda. Sekalian untuk dilakukan USG yang pertama kali.
Sambil berjalan, Winda melirik suaminya. Dilihatnya Kavi mengusap wajahnya. Mengusir rasa kantuk yang tergambar jelas di paras pria tampan itu.
'Apa semalam gak tidur?' batin Winda yang memperhatikan suaminya yang sepertinya ngantuk berat.
"Ngantuk?" tanya Winda basa-basi.
"Gak!" jawab Kavi singkat meskipun habis menguap. Bahkan matanya terlihat sangat lelah.
"Baguslah, semalam aku enak banget tidurnya," curhat Winda. Dan suaminya hanya bisa tersenyum masam. Winda mungkin tidur dengan nyenyak sedangkan dirinya harus menderita.
"Syukurlah!" komentar Kavi singkat. Kavi kembali menguap. Pria itu benar-benar kurang tidur semalaman. Dan tidak terasa mereka sudah di depan ruang dokter yang sudah ada janji dengan mereka sebelumnya.
Kavi membuka pintu, membiarkan Winda masuk terlebih dulu. Mereka sudah ada janji, makanya langsung masuk. Begitu datang, dokter wanita yang memakai jas putih itu menyapa keduanya sambil tersenyum ramah.
"Silahkan duduk," seru dokter kandungan tersebut.
Pemeriksaan pun dimulai, Winda diminta berbaring di ranjang rumah sakit, kemudian dokter mengoles jel di perut Winda yang kelihatan tegang.
"Rileks ya, gak usah tegang," ucap dokter mengajak Winda bercanda agar tidak tegang.
Winda hanya tersenyum tipis, kemudian menghela napas panjang. Setelah selesai dioles-oles, dokter tersebut kemudian mengambil alat. Sebuah alat khsusu yang kemudian diputar-putar di area perut sang pasien. Di layar terlihat samar-samar, terdapat 3 lingkaran hitam kecil.
Kavi dan Winda yang masih belum paham mencoba memasang telinga mereka, mendengar penjelasan sang dokter.
"Wah, selamat ya!" ucap dokter kemudian menatap Winda.
"Ada riwayat keturunan kembar?" tanya dokter kemudian meminta mereka memperhatikan layar.
Kavi mengangguk.
"Kembar tiga ya, Pak." Dokter tersenyum menatap Kavi, ia mengucapkan selamat untuk calon ayah dan ibu si kembar tersebut.
__ADS_1
Sementara itu, Kavi terlihat bengong dan shock. Sepertinya ia salah dengar, hingga meminta dokter menjelaskan lagi.
"Maaf, Dok ... maksudnya ... istri saya hamil anak kembar? Kembar tiga?"
"Benar, Pak Kavi. Selamat."
Kavi langsung menatap istrinya, ia yang semula duduk pun langsung beranjak. Kavi mendekati Winda kemudian berbicara dengan istrinya.
"Kamu yakin hamil 3, Sayang?" tanya Kavi yang masih tertegun. Masih tidak percaya.
Winda mengeryit, dahinya mengkerut. "Kata dokter kan begitu, Winda mana tahu."
Dokter ikut tersenyum, kemudian meminta mereka datang lagi bulan depan. Saat akan pemeriksaan selesai, Kavi ingin bicara dengan dokter.
"Dokter, maaf ... bukannya saya tidak percaya. Tapi itu beneran kembar tiga?" tanya Kavi tidak percaya.
"Pak Kavi tadi sudah lihat kan, gambarnya?"
Kavi mengangguk pelan. Kemudian pamit pergi. Sepertinya dokter memang tidak bercanda.
"Terima kasih, Dok." Winda juga ikut pamit, sepertinya ia juga cocok dengan dokter rekomendasi dari Olivia tersebut. Dia adalah dokter yang selama ini menangani Olivia saat hamil anak pertama dan hamil anak keduanya.
***
"Sayang, ini beneran isinya tiga?" tanya Kavi. Tangannya menyentuh perut Winda yang masih rata itu.
"Lah, kan kata dokter begitu."
"Banyak banget?" ucap Kavi jujur.
"Terus bagaimana?"
"Gak bagaimana-bagaimana ... hanya, aku masih belum percaya."
"Kenapa belum percaya? Kan tadi sudah lihat hasil USG juga. Kav ... kamu tahu nggak, aku kok merasa beda banget. Aku sering merasa kesepian dulu ... tapi sekarang, Tuhan kirim 3 Malaikat kecil dalam perut aku ... ini seperti mimpi," ucap Winda yang juga takjub.
"Ya, ini juga seperti mimpi bagiku," balas Kavi. Ia usap perut itu dengan lembut. Sambil berguman dalam hati.
'Anak-anak Papa. Kalian benar-benar seperti mimpi, mimpi indah yang membuat kami mungkin enggan untuk bangun.'
__ADS_1
***
Sampai di rumah, Hanum sudah ada di rumah mereka ternyata. Hanum datang bersama Gadhi. Mereka tidak sabar menunggu hasil pemeriksaan Winda.
"Bagaimana, Sayang? Semua baik-baik saja, kan?" tanya Hanum padahal Winda baru juga masuk rumah.
"Bagus, Ma. Semuanya bagus," jawab Kavi yang langsung meminta istrinya duduk. Ia bahkan mengambil kursi kecil agar kaki Winda tidak menggantung.
"Perhatian sekali anak Mama," goda Hanum dengan nada memuji.
Kavi hanya tersenyum kemudian duduk di sebelah istrinya. "Kebetulan ada Mama, tanya Mama, Sayang ... bagaimana pas hamil mas Siv sama mbak Siva."
Kavi kemudian memberikan hasil USG yang semula ada dalam tas istrinya.
"Apa kembar?" sela Hanum yang langsung bersemangat.
"Wah, selamat Kav!" tambah Gadhi yang semula fokus pada ponselnya. Meski tua, ia masih memantau harga saham dari ponselnya.
"Makasih, Ma ... Pa."
Hanum pun melihat hasil USG. "Loh ... ini tiga, Kav ... kembar tiga, Win?"
Kavi dan Winda mengangguk bersamaan.
"Ya, sekali tembak langsung tiga, Ma." Celetukan Kavi dengan sombong, dan langsung membuat wajah Winda merona karena malu.
Bersambung
klik profile Sept, ada 18 judul cerita yang sudah tersedia. Monggo silahkan pilih yang mana sesuai dengan minat kalian. Oke ... terima kasih banyak.
IG Sept_September2020
FB Sept September
__ADS_1