
Saat itu mereka telah tiba di tempat perkumpulan Laura dan teman-teman nya. Tempat itu seperti markas tampak elit dan mewah seperti sebuah hotel di lengkapi fasilitas serba lengkap.
Dewa yang dari tadi sibuk memandangi sekeliling tempat itu melihat dengan heran nya. Para wanita memadu kasih dengan sesama jenis.
Seseorang telah menghampiri Laura dengan sambutan mesra nya sambil mengecup bibir Laura.
"Aku sudah lama menunggu kemana aja sih?" ucap nya. Wanita itu memandang sinis ke arah Dewa. Laura menjelaskan tentang Dewa wanita itu pun tenang dan mulai mengajak Laura duduk di sofa.
Dewa mengelus dada kaget ternyata Laura seorang model yang suka pada sesama jenis juga. Dewa pun ingin beranjak dari tempat mengerikan itu, tapi di tahan seseorang.
"Mau kemana Ganteng? mari sini mendekat lah!" ucap seseorang dari mereka.
Tempat apa ini?" tanya Dewa mengerjap.
Laura terseyum ke arah Dewa.
"Bagaimana di sini menyenangkan bukan?" ucap nya pada Dewa. Dewa ingin berteriak saat seorang waria menggodanya. Laura tertawa melihat Dewa berlari ketakutan.
"Masih mau pergi dengan ku?" Laura terkekeh geli melihat Dewa ketakutan.
"Laura ayo kita pulang. Tempat apa ini? aku tidak mau di sini!" teriak Dewa.
"Bukan nya tadi kamu bilang kesepian dan suntuk? Di sini lah tempat yang menyenangkan nikmatilah...!"
ujar Laura penuh dengan semangat.
"Ini rupanya alasannya menolak semua pria yang ingin menikahinya. Ternyata Laura mahluk mengerikan!" ujar Dewa sendirinya ia merasa jijik menoleh ke arah Laura yang asik memadu kasih dengan wanita itu.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Laura mendekati Dewa yang saat itu terdiam di pojokan duduk di sebuah kursi.
"Apa pun yang kamu lihat di sini. Jangan pernah ikut campur apalagi mengadu pada keluarga ku. Sekarang kamu mengerti kan apa alasan ku selama ini menentang pernikahan dengan pria mana pun.
Dewa merinding saat berhadapan Laura. Tapi ia terpaksa menerima semua kenyataan itu.
.
.
.
Di tempat lain...
Saat itu Bella belum tidur ia merasa bingung memikirkan Dewa yang tiba-tiba menghilang.
Tidak lama lagi aku akan menikah dengan Rian setidaknya aku bisa memberi kabar kepada mu Dew, kalau aku akan segera menikah dengan orang lain.
Seandainya kamu tau Dewa aku masih mengharap kan mu! Tapi wasiat itu memaksa ku untuk melakukan hal ini.
Bella mencoba memejamkan mata nya yang sudah perih itu namun ia masih tidak bisa.
Keesokan hari nya.
Bella terbangun di saat matahari sudah bersinar terang, itu pun di bangunkan oleh bibik. Ia pun segera bersiap untuk berangkat kerja.
Bella turun buru-buru mencari Papa nya. mau pamitan.
__ADS_1
"Semalam begadang lagi?" tanya Papa Alex tiba-tiba.
"Papa, ternyata di sini? Bella pamit pergi Pa," ucap nya sambil bersalaman.
Papa Alek memperhatikan wajah putrinya yang mirif panda itu.
Tanpa menjawab pertanyaan lagi setelah berpamitan Bella pun langsung pergi dengan buru-buru.
"Anak gadis tidurnya kok molor terus bagaimana mau jadi seorang ibu. Hah.... "Papa Alek membuang napas kasarnya.
Bella menggas mobilnya tidak lama kemudian sampai di kantor. Ternyata Pak Sanjaya sudah sampai duluan hingga Bella kena interogasi lagi karna telat 20 menit.
Pak Sanjaya memberi perintah kepada Bella agar menyelasaikan banyak tugas hari ini sebagai hukumannya sudah telat 20 menit jam makan siang juga di potong 10 menit.
"Uh! kejam nya dunia... Paman sekalipun tidak punya toleransi sedikit pun pada keponakan sendiri. Apa Om Sanjaya tidak menganggap ku keponakan nya kali? ya...!" keluh Bella menarik napas panjang.
Bella tidak mau bersungut-sungut di depan sang paman ia diam dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh paman nya itu.
Sebentar lagi semua nya akan berakhir setelah aku menikah dengan Rian maka aku tidak akan pernah menginjakkan kaki ku di sini lagi. Bay... berkas-berkas yang menjengkelkan! bentak Bella menghempaskan semua berkas-berkas.
Pak Sanjaya jadi kaget. "Bella ada apa? Kenapa berisik sekali!"
"Maaf Om, tidak sengaja berkas nya terjatuh," ucap nya beralasan.
"Kerja nya hati-hati ntar berkas nya bisa rusak!" ujar Pak Sanjaya.
Bella hanya mengangguk sambil mencibir dalam hatinya.
__ADS_1