Kekasih Bayaran

Kekasih Bayaran
Tembus


__ADS_3

Kekasih Bayaran Bagian 77


Oleh Sept


Mata Winda masih terbelalak, tapi kali ini ia sudah tidak bisa bersuara lagi. Karena sempat teriak, membuat Kavi langsung membungkamnya. Dengan gerakan cepat Kavi mulai mengeksplore Winda. Mungkin sudah tidak tahan lagi, Kavi begitu bersemangat. Menyesap tanpa jeda, ditambah beberapa gigitan kecil, sudah pasti Winda langsung merasakan kebas pada bibirnya.


'Huuufh!' Kavi menjauh sebentar, ia mengambil napas. Begitu juga dengan Winda, mereka butuh menghirup oksigen sebelum melanjutkan pertempuran sengit ini. Sambil merasakan degup jantung yang memburu, disertai napas yang ngos-ngosan, Kavi kembali bereaksi. Kali ini ia lebih kalem, lebih slow dan lembut. Sambil menikmati permainan, jari jemari Kavi berkelana.


Pria itu sepertinya sukses membuat Winda melayang. Belum juga ke permainan inti, tapi Winda sudah dibuat terkapar tidak berdaya. Sesekali Winda meringkuk, menekuk lutut karena merasa geli.


"Udah, Kav!"


"Belum masuk! Udah apanya?" bisik Kavi kemudian menggigit jahil telinga istrinya tersebut.


"Kavvv!" Winda mengeliat karena Kavi sudah seperti penyedot debu buatan Jepang, gaya hisapnya sangat maksimal. Sampai mampu menghasilkan gambar-gambar warna merah muda. Mirip ruam karena kebanyakan makan udang.


"Jangan, jangan di situ!"


Winda langsung mendorong kepala pria itu. Semakin dilarang semakin gila, itulah Kavi, keturunan Hering paling tidak sabaran. Mungkin juga sudah lama menanti moment seperti ini, begitu sudah sah, Kavi main serobot saja.


"Geliii ... stop!" Winda mengeliat keras, membuat kakinya tidak sengaja menendang perut Kavi.


Tidak marah, seperti api yang disiram bensin, Kavi semakin berkobar. Gejolak dalam jiwanya sudah tidak tertahan.


"Wind ... jangan berisik. Apa perlu aku pakai tali?" Kavi menggoda dengan tatapan nakalll. Seketika Winda menelan ludah kemudian meninju pelan barisan roti sobek yang ada di atasnya itu.


"Awas macam-macam, aku gak mau aneh-aneh!" ancam Winda.


Kavi hanya tersenyum kemudian melanjutkan ekplorasinya kembali, di mulai dari bukit barisan kemudian menyusuri hutan gundul kembali, begitu seterusnya hingga Winda menyerah dan pasrah.

__ADS_1


Ini mungkin baru pertama bagi Kavi, tapi cara ia membuai istrinya itu cukup membuat Winda tidak berdaya, hingga wanita yang terkenal keras kepala itu mendadak lemah dan sekarang jadi kucing imut yang penurut.


Winda tidak banyak tingkah seperti sebelumnya, apalagi saat Kavi memandu Winda untuk bermain dengan monopterus. Jika sebelumnya Winda kaget dan berteriak, kini ia berani menyentuh, bahkan mulai bermain.


"Win ...!" Kavi mendesis, wajahnya terlihat sangat gelisah. Sentuhan lembut Winda membuat ia seperti melayang.


"Win."


"Ish ..."


Dahi Kavi mengerut, menahan sensasi rasa yang tidak biasa. Karena sepertinya sudah tegang, Kavi pun mencoba melanjutkan apa yang seharusnya dilakukan.


"Aku dengar ini akan sakit, tahan ya," bisik Kavi kemudian menarik diri. Ia membetulkan posisi agar bisa pas tanpa banyak drama.


Winda jadi ikut gelisah, ia memang sering dengar. Kalau untuk pertama kalinya pasti akan terasa sakit. Itu karena ada selaput darah yang robek. Aduh, kok belum apa-apa Winda sudah membayangkan betapa rasa perihnya.


"Pelan-pelan ya, Kav."


Hening sesaat, Kavi sedang mengamati medan.


...


JLEB


"KAV!" Mata Winda langsung tertutup rapat, ia mengigit bibirnya. Kavi Keterlaluan, masak langsung masuk menerobos begitu saja.


Kavi pun sama, wajahnya juga tegang. Apalagi saat ia merasa terjepit.


"Tahan ya ... katanya sakit di awal aja. Nanti enak kok," Kavi yang juga gelisah mencoba merayu.

__ADS_1


Perlahan Winda membuka matanya, dan percaya pada Kavi. Ia akan tahan sebentar, kalau masih sakit, ia bisa menendang Kavi agar menjauh. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Ketika beberapa menit berlalu, gerakan berirama Kavi membuatnya mendesis. Tangannya pun mulai mencengkram punggung si pria, menciptakan goresan-goresan kecil hasil dari kukunya.


"Bagaimana? Sakit?" tanya Kavi sembari berbisik lembut. Hingga hembusan napasnya membuat Winda gelisah.


Winda mencoba tetap tenang, meskipun wajahnya sudah memanas. Ia menggeleng, kemudian menarik bahu Kavi agar lebih dekat.


"Lebih cepat, Kav ..."


Kavi langsung tersenyum.


"Tahan ... kalau terlalu cepat, nanti cepat keluar juga," elak Kavi. Padahal masih mau berlama-lama. Ia tidak mau langsung keluar duluan.


Pria itu kemudian kembali bergerak seperti lagu baju yang sedang viral. Sambil sesekali seperti bayi yang minum ASI.


"Lebih cepat, Sayang!" bisik Winda yang sudah tidak tahan. Dipanggil sayang, Kavi tambah semangat. Dengan gerakan cepat monopterus memperlihatkan kehebatannya. Membuat Winda meggeliat seketika.


"Tahan, Sayang ... ini aku mau keluar!"


...


...


...


Bersambung



__ADS_1


Sudah ada Audiobook-nya, kisah dirga dan gadis karbol. Cuss ya ... Bacaan yang sangat seru, nambah imun. Komedinya dapat, romances juga dapet. Semoga terhibur.


"Dinikahi Milyader"


__ADS_2