
Kejadian itu tak lepas sedikitpun dari pandangan seluruh karyawan yang berada di ruangan itu. Kedua pengawal yang menjaga mereka hanya terdiam karena ingat dengan pesan Daffa. Mereka juga mendengar apa yang dikatakan wanita tak tahu diri itu. Makanya iya tak bertindak. Mereka berdua berfikir jika dua anak kecil genius itu akan mampu membantu ayahnya. Namun wanita itu tak tinggal diam. Iya berjalan cepat kearah Arsyad dan Arsyida. Menarik bahu kedua anak sang bos besar dan membawanya masuk ke ruangan lagi. Arsyi yang tahu saudara kembarnya hanya diam, iyapun juga diam. Begitu sampai didalam, wanita itu memarahi si kembar habis-habisan. Arsyad dan Arsyida malah diam tenang tak berkata sepatah katapun. Menambah rasa kesal wanita di hadapan mereka.
"Kalian itu siapa sih, datang-datang jadi perusuh" Eanita itu marah dan berteriak ke arah si kembar.
"Kalian tahu ngga, pekerjaan aku sudah selesai, dan sekarang aku harus mengerjakan semuanya dari awal karena kalian. Dasar anak nakal. Siapa orang tua kalian, haah" Wanita itu terbakar emosi di jiwanya. karena merasa tak mendapat tanggapan apapun dari si kembar. Iya duduk mengambil laptopnya yang sudah hancur. Namun siapa sangka, setelah wanita itu diam, Arsyad menuju sebuah lemari buku yang penuh dengan dokumen-dokumen penting. Selanjutnya meraih seluruh stopmap dan melemparkannya ke atas. Seketika seluruh kertas berterbangan ke seluruh penjuru ruangan. Seluruh karyawan dibuat syok dengan kelakuan dua bocah itu. Si kembar segera keluar. Namun tangan seorang wanita menghentikannya. Terpaksa Arsyad dan Arsyida berhenti dan memandang malas kepada wanita dihadapannya.
"Kalian harus tanggung jawab, panggil orang tua kalian kesini" Ucap wanita itu yang tak lain adalah manager departemen marketing. Di sisi lain, dua pengawal telah menghubungi Daffa.
"Ok nek" Arsyad segera mengambil ponselnya. Namun saat panggilan sudah terhubung, datanglah Rey.
"Om Rey, lihat mereka. Tidak bisa bekerja malah membicarakan mama dan papa" Arsyi mengadu kepada Rey. Seketika wanita yang tadi memarahi Arsyad dan Arsyi langsung gemetar berkeringat dingin.
"Om, tante yang itu ngga pantas ada disini" Arsyad berkata dan menunjuk salah seorang diantara karyawan diruangan itu. Tiba-tiba Daffa dan Hana datang.
__ADS_1
"Ada apa ini? " Tanya Daffa memandang kedua putra dan putrinya.
"Papa tanya saja sama tante jahat itu? " Ucap Arsyida dengan ketus.
"Jelaskan apa yang sudah terjadi! " Daffa berkata dengan tegas.
"Aa... Anuu tuan, tadi saya hanya berbicara sama teman disamping saya. Tapi tiba-tiba mereka datang dan membuat keonaran" Ucap wanita tak tahu diri yang menganggap dirinya lebih baik dari Hana tersebut dengan ketakutan.
"Jelaskan lebih detail, apa yang kamu bicarakan juga tante jahat" Arsyida berkata dengan sinis. Wanita itu semakin ketakutan.
"Kalian fikir anak-anakku belum paham dengan pembicaraan orang dewasa. Kamu berani berkata serendah itu. Dan kamu fikir aku laki-laki yang akan dengan mudah dirayu. Sekarang kamu ke HRD, minta uang pesangonmu" Daffa berkata dengan nada dingin. Matanya menatap tajam wanita didepannya yang telah merendahkan istrinya. Wanita itu menangis memohon maaf kepada Daffa dan keluarganya.
"Tuan, saya mohon jangan pecat saya, saya berjanji hal seperti ini tidak akan terulang lagi tuan, saya mohon" Ucap wanita itu memohon.
__ADS_1
"Rey, kamu tunjukkan dimana ruangan HRD, urus dia. Saya tidak ingin melihat dia ada disini lagi" Daffa berkata sambil menatap Arsyad. Ternyata putranya itu sudah duduk di kursi dengan memainkan game nya. Sedangkan karyawan yang lain berdiri dengan menunduk ketakutan.
"Bereskan semuanya" Setelah berkata, Daffa pergi meninggalkan ruangan itu lalu menuju ruangannya lagi. Iya tersenyum kepada Hana. Tak lama setelah melangkah beberapa langkah, iya berbalik mendekati kedua pengawal Arsyad dan Arsyida.
"Kalian jaga mereka, lakukan seperti yang aku bilang tadi" Daffa berkata sedikit berbisik. Setelahnya iya kembali kesamping Hana dan berjalan ke ruangannya.
"Anak-anak kita mempunyai pekikiran yang sangat unik sayang" Daffa berkata saat berjalan berdampingan dengan Hana.
"Mereka selalu menjadi yang terbaik mas" Hana bangga dengan kedua anaknya.
"Kalau seperti ini ngga akan ada yang berani deketin kamu mas" Hana bercanda.
"Ada sayang" Jawab Daffa.
__ADS_1
"Siapa yang berani deketin mas? " Hana berhenti sebentar dan menatap suaminya. Sontak hal tersebut membuat Daffa tertawa.
"Kamu lah sayang, siapa lagi.... Hahahahha" Daffa tertawa pelan. Hana pun menunduk karena sudah berfikir buruk tentang suaminya. Mereka kembali ke ruangan dengan meninggalkan anak-anaknya.