
Setelah ketiga orang tersebut berkata dengan jujur. Daffa mendekati mereka.
"Apa yang kalian katakan ini benar? " Tanya Daffa.
"Benar tuan, kami tidak berbohong, Nona Alisa menyuruh kami untuk menculik wanita yang bernama Hana Azzahra lalu membawanya ke suatu tempat" Ucap seseorang dari mereka.
"Baik, kalian boleh pergi, tinggalkan nomor kalian dan sesuatu untuk menjamin jika kalian berani macam-macam" Ucap Daffa.
"Baik tuan"
"Jika kalian berani berbohong, bukan hanya hidup kalian yang diujung tanduk" Daffa mengancam. Rey sudah biasa menatap sisi lain Daffa saat dalam ruangan ini. Daffa akan berubah layaknya seekor singa yang siap menerkam mangsa. Tak terlihat sedikitpun wajah ramah tamah. Akhirnya mereka bertiga keluar dari ruangan tersebut dengan kaki masih gemetar serta celana basah krena mengompol saking takutnya.
"Alhamdulillah, kita bisa selamat" Ucap seseorang setelah berjalan dari rumah Utama.
"Iya, ngga akan lagi aku mau berurusan dengan tuan Daffa. Disaat biasa saja dia sangat ramah. Bahkan seluruh orang tahu akan keramahannya. Tapi begitu menghadapi musuh sangat menakutkan" Ucap seorang sambil bergidik ngeri.
"Sebenarnya tuan Daffa orang baik, tapi jika sudah merasa terancam dia bisa lebih ganas dari seekor singa" Imbuh salah satunya lagi sambil melanjutkan berjalan menuju mobil.
"Jika nanti tuan Daffa menjadikan aku pekerjanya, aku akan setia kepadanya" Ucap seorang diantaranya.
"Ayo kita pulang dulu. Ini sudah malam" Berkata sambil melanjutkan perjalanan menggunakan mobil lagi. Karena malam-malam begini jarang ada mobil lewat. Perumahan ini tergolong elit, penghuninya adalah orang-orang kaya. Wajar jika jam segini sudah sepi. Hanya ada mobil patroli untuk menjaga keamanan.
Masih diwaktu dan tempat yang sama. Daffa menyuruh Rey untuk tetap menyelidiki ketiga orang tersebut.
"Rey, kamu pastikan seluruh data ketiga orang tersebut sudah ada besok pagi. Dan jangan lupa, suruh orang untuk menjemput Victor besok" Ucap Daffa sambil membuka pintu untuk kembali ke rumah utama. Diikuti oleh Rey dibelakangnya.
"Baik tuan" Rey mengikuti langkah Daffa. Daffa sudah sampi diruang tengah rumah utama. Iya segera menghampiri orang-orang yang duduk menanti kedatangannya. Bilal pun masih menunggu disana juga.
"Mas" Panggil Hana. Daffa menghampiri istrinya dan duduk disampingnya.
"Daf, apa yang terjadi, siapa mereka dan apa mau mereka? " Tanya Mama Sarah menerkam Daffa dengan berbagai pertanyaan.
"Mama, tanyanya satu-satu" Ucap Tuan Aji.
"Bagaimana Daf, apa sudah beres? " Tanya papa Aji.
__ADS_1
"Sudah pa, alhamdulillah" Daffa menjawab dengan santai.
"Siapa mereka Daf, apa kemauan mereka sendiri atau suruhan orang? " Tanya Bilal. Daffa melirik ke arah Rey. Rey yang merasa harus berbuat sesuatu segera menjawab semua pertanyaan dari keluarga tuannya itu.
"Jadi mereka adalah suruhan nona Alisa Subagya tuan. Putri tunggal dari Bimo Subagya. Dia adalah... " Ucapan Rey terhenti saat Daffa memanggilnya.
"Rey" Daffa memanggil memberi isyarat untuk tidak melanjutkan ucapannya.
"Alisa? Dia siapa? " Tanya Mama.
"Alisa... Bukannya dia yang pernah datang ke kantor waktu itu ya mas? " Tanya Hana mengingat-ingat. "Sepertinya aku ingat" Hana berkata lagi sambil melihat kearah Daffa.
"Benar sayang" Daffa membenarkan ucapan Hana.
"Kenapa dia menyuruh orang untuk menyerang kita? " Tanya Bilal belum paham.
"Jadi, waktu itu Alisa datang ke kantor. Dia menginginkan mas Daffa untuk kembali kepadanya. Mas Daffa ngga mau karena sudah menikah denganku mas" Jawab Hana.
"Berarti, dia memiliki niat buruk terhadap Hana? " Tebak Bilal.
"Iya sayang. Makanya kita harus lebih berhati-hati" Tutur Daffa.
"Apa yang diinginkan Alisa Daffa? " Tanya Bilal. Daffa terdiam, Iya memikirkan jawaban atas pertanyaan kakak iparnya.
"Ehhm, anu mas. Alisa menginginkan Hana pergi dari sisi saya" Jawab Daffa ragu-ragu. Semua menoleh ke arah Daffa. Merasa tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Daffa. Semua terdiam. Tiba-tiba Rey membuka suara.
"Kita ngga usah khawatir, kita akan menambah pengawalan terhadap keluarga utama" Ucap Rey.
"Rey benar, pengawalan akan ditambah. Tapi kita tetap haru berhati-hati" Ucap Daffa.
"Lalu, kemana mereka bertiga? " Tanya papa Aji.
"Pulang, bersyarat" Ucap Daffa.
"Apa rencana kamu? " Tanya Papa.
__ADS_1
"Besok papa akan tahu. Besok juga masih akan mengurus Victor. Orang yang sudah meretas email perusahaan" Jawab Daffa tenang. Tiba-tiba ponsel Bilal berbunyi. Istrinya menghubungi.
"Assalamualaikum, iya dek" Ucap Bilal.
"Mas belum pulang, ada apa? " Tanya Rani dari seberang telepon.
"Iya, ini mas baru mau pulang, urusannya baru selesai" Jawab Bilal.
"Ya sudah, Rani tunggu mas" Jawab Rani.
"Iya, Assalamualaikum" Bilal mengucapkan salam.
"Wa'alaikumsalam" 'Tut tut tut' Panggilan berakhir.
"Mbak Rani ya mas? " Tanya Hana.
"Iya Han. Emmm... Kalau begitu saya izin pulang dulu ya, istri dan anak saya sudah menunggu dirumah" Izin Bilal.
"Iya, hati-hati ya nak Bilal. Salam untuk anak dan istrimu" Jawab mama Sarah. Semua ikut berdiri.
"Kita juga pulang dulu ya ma, pa. Kasihan mas Bilal sendirian. Dan pula motor mas Bilal ada di rumah makan" Jawab Daffa.
"Iya, kalian hati-hati ya, ini sudah malam lo" Jawab orang tua Daffa.
"Iya ma, pa" Daffa, Bilal dan Hana mencium punggung tangan tuan Aji dan nyonya Sarah. Mereka keluar dari rumah menuju mobil yang sudah disediakan oleh pak Andi. Mereka kembali ke rumah ayah Hana. Setelah kepergian Daffa dan yang lain. Rey juga berpamitan untuk undur diri.
"Saya juga pulang ya tuan, nyonya" Ucap Rey.
"Kamu ngga mau tidur disini lagi Rey? " Tanya papa Aji.
"Lain waktu insya Allah tuan" Jawab Rey sambil tersenyum lalu menyalami mereka berdua.
"Lain waktu terus jawaban kamu, ngga ada yang lain. Ya sudah, hati-hati" Ucap mama Sarah. Dan Rey pun juga meninggalkan kediaman utama. Tuan Aji dan Nyonya Sarah masuk dan beristirahat.
TBC.
__ADS_1