KEKASIH HALAL CEO TAMPAN

KEKASIH HALAL CEO TAMPAN
Kepergian Ibu


__ADS_3

Hana berlari mencari keberadaan orang tuanya. Bilal yang baru datang segera menghampiri Hana. Saat Hana menemui Bilal, Daffa menghubungi Rey.


"Mas Bilal, gimana keadaan ayah dan ibu" Ucap Hana sambil mendekat ke Bilal.


"Tenang dek, alhamdulillah ayah selamat. Sekarang sudah mau dipindah ke ruang rawat" Ucap Bilal sambil memeluk adiknya yang menangis.


"Ibu, lalu ibu bagaimana? Bagaimana semua bisa terjadi mas? " Tanya Hana. Bilal tak menjawab. Iya memandang Daffa dengan sejuta ekspresi sedihnya.


"Nanti akan ada beberapa orang saksi yang akan datang dek. Kasus ini sedang ditangani polisi. Mobil yang menabrak ayah sama ibu kabur" Bilal menjelaskan dengan sangat pelan. Hatinya ikut remuk bersama kepergian sang ibu.


"Apa sebenarnya yang terjadi, kenapa mobil itu menabrak ayah sama ibu? "Hana terisak dalam pelukan kakak laki-lakinya. Bilal tak mampu menjawab apa-apa. Iya pun meneteskan air mata. Sedangkan Daffa yang memandang kejadian ini, hatinya hancur menyaksikan orang yang sangat dia sayangi bersedih. Daffa mendekat ke arah Hana dan Bilal. Meraih pundak Hana dan menariknya dalam pelukan. Iya ingin mengurangi beban hati istri tercintanya. Melihat Istrinya hancur karena harus kehilangan orang yang disayangi. Membuat Daffa ikut merasakan hal yang sama. Tak terasa air matanya menetes.


"Sayang, sayang tenang. Ada mas disini" Ucap Daffa pelan. Iya mengerti kenyataan sangat menghancurkan hati Hana dan Bilal.


"Ibu mas, ibu. Hana menangis dalam pelukan sang suami. Aku ingin bertemu sama ibu" Ucap Hana dengan terisak.

__ADS_1


"Ayo Daf, bawa istrimu" Bilal mengajak Daffa dan Hana menemui ibunya yang sudah pergi menghadap Tuhan. Saat sudah sampai di ruang IGD. Hana berteriak histeris. Tangisnya pecah menyaksikan tubuh kaku sang ibu. Dengan perlahan iya membuka kain yang menutupi seluruh tubuh sang ibu. Tangisnya tak dapat dibendung. Iya merasakan dunia seakan berhenti berputar. Melihat sekelilingnya menjadi gelap, hingga akhirnya Hana terjatuh tak sadarkan diri. Daffa dengan sigap membopong Hana. Meletakkan di brankar. Tak berbeda dengan Bilal. Hatinya terasa remuk melihat syurganya telah pergi. Iya menangis tertahan, menahan sesak di dadanya.


"Daffa, kamu bawa Hana pulang ya. Kasihan dia disini. Aku akan pulang bareng ambulans, aku akan menemui ayah dulu" Ucap Bilal serak menahan tangis. Iya perlahan pergi keruangan dimana ayahnya dirawat. Iya memandang ayahnya yang tersadar dari pingsannya sesaat sebelum istrinya dibawa pergi. Ayah memandang Bilal dengan tatapan kosong. Iya meneteskan air mata dari sudut matanya yang memerah. Air mata itu tertumpah tanpa disadari. Menyaksikan sang istri yang tak bernyawa disampingnya sebelum dipindahkan ke untuk dibawa pulang.


"Ayah" Bilal mendekati ayah dan menundukkan kepala disamping ayahnya. Iya terdiam tak dapat berkata apapun. Hatinya hancur menyaksikan segala kejadian ini. Bilal memeluk ayahnya yang juga terbaring. Kakinya tak dapat digerakkan. Kecelakaan itu telah membuat tulang kakinya patah. Dan kemungkinan untuk sembuh akan sangat lama bahkan tidak akan bisa sembuh total.


Ayah menggerakkan tangannya perlahan. Ingin menyentuh kepala putra sulungnya. Namun terasa berat. Badannya melemas karena berita yang sangat menyakitkan ini. Iya tak dapat menemani hari terakhir orang yang sangat dia sayangi. Yaitu istrinya. Tak lama setelah Bilal menemui ayahnya, Hana berjalan perlahan menyusulnya bersama Daffa, Rani, Yusuf dan ayah Rani. Seakan kaki Hana tak mampu menopang berat badannya. Kakinya terasa berat dan kaku untuk melangkah. Daffa segera membantu Hana. Hana melihat ayahnya yang terlihat tak berdaya. Hana duduk disamping Bilal. Tak terasa air mata menetes tanpa izin. Hatinya remuk juga menyaksikan cinta pertamannya terbaring diatas brankar rumah sakit.


"Ayah?" Hana memanggil ayah dengan nada menyedihkan. Tak banyak kata yang bisa dia ucapkan juga. Bibirnya terasa terkunci. Ayah membalas pandangan putrinya. Iya memaksakan untuk tersenyum hingga akhirnya tangisnya pecah bersamaan dengan Hana yang memeluknya.


"Hana" Panggil Bilal pelan. Iya tahu adiknya sangat terpukul dengan musibah ini.


"Mas ngga usah ngurusin administrasi, semuanya sudah diurus oleh Rey" Jawab Daffa pelan. Bilal terdiam. Iya berjalan mendekati Daffa yang sedang menunggu istrinya.


"Kamu ajak mereka pulang ya. Nanti aku pulang bareng ambulans. Kita urus dulu pemakaman ibu. Setelah itu aku akan balik kesini. Dan tolong kamu dirumah dulu ya selama aku jaga ayah" Ucap Bilal meminta tolong dengan lirih.

__ADS_1


"Nanti akan ada Rey yang menunggu ayah, kita pulang bareng ya mas. Selama kita dirumah biar Rey yang menjaga ayah dulu" Balas Daffa. Dan dijawab anggukan oleh Bilal.


"Kita tunggu Rey dulu mas, sebentar lagi pasti datang" Imbuh Daffa. Begitu Rey sudah datang, Daffa bangkit mendekati Hana.


"Sayang, ayo kita pulang dulu. Kita harus mengurus pemakaman ibu" Bisik Daffa dengan sangat lirih. Hana tak menjawab apapun. Iya berdiri dibantu oleh Daffa.


"Ayah, kita tinggal dulu ya. Nanti kita kembali lagi" Ucap Bilal berpamitan. Ayah hanya menjawab dengan sedikit anggukan, selanjutnya air matanya mengalir tanpa henti lagi.


Mereka pulang bersama menaiki mobil Daffa mengikuti ambulans yang membawa jenazah ibu. Didalam perjalanan, Hana tak henti-hentinya menangis dalam pelukan Daffa. Hatinya remuk redam bersamaan dengan kejadian menyakitkan ini. Begitu mereka sampai dirumah sudah banyak warga yang menunggu, termasuk papa dan mama Daffa. Nadia dan Fariz juga hadir. Mama Sarah yang mengetahui kedatangan anak dan menantunya segera mendekat. Iya memluk Hana.


"Sayang, yang sabar ya, masih ada mama" Ucapnya menenangkan Hana. Iya mengajak Hana masuk karena Daffa memintanya.


"Ma, tolong temani Hana dulu ta, Daffa mau ikut menyolatkan ibu" Ucao Daffa pelan dan ibu Sarah segera membawa Hana masuk kerumah bersama Rani dan Yusuf. Nadia pun mengikuti dari belakang. Farizpun bergabung dengan Daffa.


Begitu jenazah sudah diturunkan, mereka memulai dari memandikan hingga mensholatkan. Lanjut dengan prosesi pemakaman di TPU tak jauh dari sana. Begitu proses pemakaman selesai. Semua yang mengantarkan bu Sholihah ke tempat peristirahatan terakhir membubarkan diri pulang. Karena hari memang sudah sangat larut. Hana dan Bilal tertunduk disamping makam sang ibu. Hana memeluk batu nisan sang ibu. Air matanya tak sanggup untuk menetes lagi. Daffa berjalan mendekati istrinya.

__ADS_1


"Sayang, ayuk, ini sudah sangat larut malam" Ucap Daffa duduk mensejajarkan tubuhnya dengan Hana. Hana menurut dengan perkataan suaminya. Dan akhirnya mereka pulang bersama. Ada Bilal, Daffa, tuan Aji, ayah Rani, Fariz, Hana dan mama Sarah. sedangkan Rani berada dirumah berada Nadia untuk menjaga Yusuf. Mereka semua berduka atas kepergian bu Sholihah. Sedangkan dirumah sakit, ayah dijaga oleh Rey. Terlihat pak Bahtiar dengan mata sembab.


TBC.


__ADS_2