
Daffa terbaring lemah atas brankar rumah sakit. Iya belum sadarkan diri setelah mendapat lemparan vas bunga yang cukup kencang. Hana menunggu suaminya diatas kursi disamping Daffa berbaring. Iya tak menyangka kejadiannya harus seperti ini. Hana selalu bergumam merapalkan do'a-do'a untuk sang suami. Namun kemudian fikirannya menjadi kacau. Iya ingin melakukab sesuatu. Namun iya lupa membawa tasnya. Hana menengok ke belakang, karena mendengar langkah kaki semakin mendekat, dilihatnya sang mertua berjalan ke arahnya.
"Hana, kamu jangan terlalu cemas. Fikirkan juga kesehatanmu sayang" Nasihat mama mertuanya. Hana tersenyum dan mengangguk Kemudian iya berkata ingin meminjam ponsel mamanya.
"Ma, boleh Hana pinjam ponselnya, atau tolong mama hubungi Rey untuk membawakan laptop, tablet serta ponsel Hana" Ucap Hana meminta tolong.
"Iya sayang, biar papa yang menghubungi Rey. Sekarang kamu makan dulu ya" Ucap mama Sarah sambil menyodorkan nasi ke Hana. Hana pun segera memakan nasi tersebut. Baru beberapa suap iya memasukkan nasi ke dalam mulutnya. Iya menghentikan aktivitas makannya. Menyudahi makannya. Mama Sarah yang melihat hal tersebut pun berbicara.
"Sayang, habiskan makannanya! " Ucapnya lembut penuh kasih sayang.
"Hana sudah kenyang ma, nanti Hana bakal makan lagi,teri makasih yana" Jawab Hana. Iya pun membereskan sisa makananya, membungkusnya kembali.
Hampir 3 jam menunggu, saat Hana sedang fokus pada tabletnya, iya melihat Daffa menggerakkan jari-jarinya. Perlahan matanya mulai terbuka. Hana pun segera memanggil dokter.
"Alhamdulillah, tuan Daffa sudah sadar. Tinggal menunggu keadaannya stabil ya nona" Ucap Dokter. Hana pun mengangguk sambil tersenyum. Setelah beberapa saat menunggu, Daffa sudah benar-benar sadar. Iya tersenyum karena saat pertama yang iya lihat adalah orang yang dia cintai.
"Sayang, mas minta minum? " Ucap Daffa. Setelah memberi minum suaminya, Gana mendekat dan duduk di kursi. Iya melihat mata Hana yang bengkak karena menangis.
"Sayang, kamu nangis? " Tanya Daffa. Hana memaksakan untuk tersenyum. Ngga mas, tadi Hana kelilipan aja" Jawab Hana. Daffa tahu jika istrinya berbohong. Iya merentangkan tangannya, agar Hana bersandar pada dada bidangnya. Hana pun mendekat.
"Mas ngga apa-apa sayang, jangan sedih ya" Ucap Daffa sambil mengelus kepala Hana. Hana tak ingin menangis dihadapan suaminya. Sebisa mungkin iya membendung air matanya agar tak mengalir.
__ADS_1
Sudah 3 hari Daffa berada di rumah sakit. Iya merasa senang jika Daffa terjaga, karena bisa bermanja-manja. Dan akan merajuk jika Daffa tidur. Maka dari itu, Daffa selalu menyuruh istrinya tidur terlebih dahulu. Dan anehnya, Hana sangat senang jika tidur didekat Daffa tanpa dipeluk. Katanya udara sangat gerah. Seperti malam ini, setelah dokter berkata jika keadaan Daffa sudah benar-benar pulih, Hana langsung berbaring di atas brankar kecil disamping Daffa. Iya mengendus-endus bau badan Daffa. Tak lama setelah itu iya tertidur. Daffa yang menatap menjadi heran.
"Mungkin karena rasa takut kehilangan membuat Hana bersikap seperti itu" Batin Daffa sambil menatap istrinya yang terlelap. Iya pun berusaha untuk memejamkan mata juga.
Pagi hari, Daffa sudah diizinkan pulang oleh dokter. Dengan di jemput oleh Rey, Daffa kembali ke rumah utama. Namun saat di tengah jalan, Hana meminta berhenti.
"Mas, boleh ngga berhenti sebentar saja" Pinta Hana saat melihat pasar kaget.
"Mau apa sayang? " Tanya Daffa.
"Hana pengen bubur ayam langganan Hana, yang itu. Boleh ya mas? " Tanya Hana dengan nada memelas sambil mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada. Daffa tak mampu menolak keinginan istrinya. Saat akan berbicara, Hana ternyata sudah membuka pintu mobil dan berjalan keluar. Daffa pun segera menyuruh Rey untuk menemani istrinya.
"Biar saya bawakan nona" Pinta Rey saat Hana sedang membayar pesanannya lalu mengangkat kantong berisi bubur ayam.
"Ini" Jawab Hana sambil memberikan kantong tersebut. Tanpa berbicara sedikitpun, Hana berjalan duluan ke arah mobil. Namun saat akan masuk ke mobil, iya melihat penjual es krim.
"Rey, kamu ke dalam dulu, aku mau es krim" Ucap Hana sambil melangkah ke penjual eskrim. Rey hanya melongo mendengar penuturan Hana. Belum juga es krim ditangannya dimakan, Hana sudah mendekati penjual Makanan ringan. Beberapa saat kemudian, Hana kembali dengan membawa beberapa kantong camilan. Daffa heran dibuatnya.Tak biasanya istrinya membeli camilan semacam itu.
"Sayang, ini apa? " Tanya Daffa.
"Ini es cream mas" Jawab Hana sambil menjilati es krim ditangannya. Sedang tangan satunya sibuk membuka kantong plastik beisi camilan.
__ADS_1
"Sayang, makannya pelan-pelan, lihat es krimnya leleh itu" Ucap Daffa dari samping Hana. Sedangkan Hana hanya cengengesan sambil melanjutkan menjilati es krim di tangan kanannya. Saat es krim itu tinggal sedikit, Hana segera melahapnya. Memasukkan semua ke dalam mulutnya, hingga mulutnya penuh dengan kerupuk es krim. Rey dan Daffa hanya bisa diam melihat tingkah Hana.
Begitu makanan ringan sudah keluar dari plastik, Hana segera ingin membukanya. Namun iy tak mau membuka sendiri.
"Pak Rey, tolong minggir dan berhenti sebentar! " Ucap Hana. Rey pun menuruti apa yang Hana ucapkan.
"Ada apa nona? " Tanya Rey sambil melirik ke arah Hana dari kaca spion.
"Tolong, bukakan ini" Pinta Hana sambil menyerahkan sebungkus camilan. Rey yang tahu akan hal itu pun membulatkan mata dan mulutnya. Sedangkan Daffa tak kalah terkejut. Hana tak biasanya seperti ini.
"Sayang, kamu menyuruh Rey berhenti hanya untuk membukakan ini? " Tanya Daffa.
"Iya, mas kan lagi sakit. jadi aku minta tolong saja sama Rey" Ucap Hana tanpa merasa berdosa.
"Kalau cuma Buka ini saja, mas juga bisa sayang, coba mana" Ucap Daffa sambil mengulurkan tangannya ke arah makanan ringan itu. Namun dengan cepat Hana menjatuhkan di kursi sebelah Rey.
"Biar Rey saja mas, mas Daffa kan sedang sakit" Ucap Hana. "Pak Rey cepatan dibuka" Ulang Hana menyuruh Rey. Rey pun mengambil sebungkus camilan itu, membukanya lalu menyerahkan kembali ke Hana.
"Ini nona" Ucap Rey. Lalu iya kembali mengemudikan mobilnya menuju rumah utama. Fikirannya masih tak habis fikir dengan sikap nona mudanya. Saat melirik Daffa dari kaca spion, Iya melihat Daffa memperhatikan istrinya dengan raut wajah heran.
TBC
__ADS_1