KEKASIH HALAL CEO TAMPAN

KEKASIH HALAL CEO TAMPAN
Malam Pernikahan


__ADS_3

Hana yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat Daffa yang sudah menunggunya di kasur.


"Sayang, aku tidak bawa sarung sama kopiah untuk sholat isya" Kata Daffa.


"Mmm... Iya mas, nanti Hana pinjamkan punya ayah atau mas Bilal" Hana menjawab sambil membuka pintu untuk keluar kamar.


Sesampainya di luar, Hana melihat ayah dan Bilal yang duduk di sofa. Iya segera menghampiri mereka.


"Ayah, mas Bilal, Hana mau pinjam sarung sama kopiah. Itu mas Daffa nggak bawa, dia mau sholat isya" Tutur Hana


"Kamu ambilkan punya mas saja Han, kan yang di dalam lemari mas itu ada. Suruh ambilkan mbak Rani. Sepertinya kopiahnya muat dipakai Daffa" Bilal menjawab.


"Oke" Hana pun berlalu ke kamar Bilal. Mengetuk pintu pelan-pelan. Takut menggangagu Yusuf yang sudah tertidur. Tak lama menunggu, pintu dibuka dari dalam. Dan mbak Rani keluar mengenakan mukena, sepertinya iya selesai sholat.


"Ada apa Han? " Tanya Rani


"Itu mbak, mau pinjam sarung sama kopiah punya mas Bilal untuk mas Daffa, dia belum sholat tadi" Jawab Hana


"Oh, tunggu sebentar ya, mbak ambilkan dulu! " kata rani. Hana pun menunggu diluar kamar. tak lama mbak Rani kembali dengan membawa sarung dan kopiah pesanan Hana.


"Ini Han" Sambil menyerahkan benda tersebut.


"Makasih ya mbak" Ucap Hana sambil berlalu


Hana memasuki kamarnya, Daffa yang menunggu pun segera mengambil sarung dan kopiah tersebut.


"Kita sholat jama'ah ya sayang" Tutur Daffa.

__ADS_1


"Iya mas" Jawab Hana. Setelah mengambil wudhu, mereka pun melaksanakan sholat isya' berjamaa'ah untuk pertama kalinya dengan Daffa menjadi imamnya.


Setelah setelah sholat. Hana mencium punggung tangan Daffa. Dan Daffa mengecup pucuk kepala Hana. Hana hanya tersenyum kaku mendapatkan perlakuan seperti itu.


"Kita sholat sunah dua raka'at dulu ya" Kata Daffa.


"Iya" Dan merekapun melanjutkan sholat malam pengantin.


Begitu selesai, hana mencium punggung tangan Daffa kembali. Dan mereka beranjak. Melipat sajadah dan meletakkannya di dalam lemari. Hana berjalan menuju ke tempat tidur setelah melepas mukena dan mengenakan hijabnya krmbali. Daffa menunggu Hana untuk mendekat. Sedangkan Hana, rasanya sangat canggung berada di satu kamar dengan lelaki. Daffa menarik tangan Hana untuk duduk disampingnya. Dan Hana hanya menurut.


"Han" Panggil Daffa


"Iy... Iya, iya mas Daffa" jawab Hana sangat gugup.


Daffa melihat pipi Hana yang bersemu merahpun tersenyum. Iya mengangkat dagu Hana dan menangkupkan telapak tangannya ke pipi Hana.


"Iya mas, Hana sangat Bahagia" Jawab Hana pelan


"Kamu tidak menyesal kan menikah dengan mas? " Tanya nya lagi. Hana menggelengkan kepalanya.


"Terimakasih ya. Kamu sudah mau menerima mas. Kamu adalah wanita yang sudah menggetarkan hati mas setiap kali melihatmu. Kamu adalah wanita yang sudah mengisi hati mas sejak pertama kali mas melihatmu" Daffa masih menangkupkan kedua telapak tangannya dipipi Hana.


"Waktu itu aku melihatmu menyebrang jalan tepat di dekat halte yang dekat lampu merah. Saat aku juga berada dibarisan paling depan, aku melihatmu menyebrang sambil membantu seorang nenek yang menggendong dagangan di punggungnya. Kamu tersenyum sangat tulus. Dan sangat manis. Sejak saat itu, aku selalu mengagumimu. Di setiap malam aku berdo'a kepada Allah, supaya bisa mengenalmu lebih jauh. Dan ini adalah jawaban dari do'a-do'aku" Tutur Daffa mengenang pertama kali melihat Hana. Sambil melepaskan tangannya dari pipi Hana. Daffa beralih ke kedua tangan hana. menggenggamnya dengan erat.


"Dulu aku selalu bermimpi untuk bisa menggandeng tangan ini, dan sekarang sudah menjadi kenyataan" Daffa berucap sambil mencium kedua tangan Hana. Dan Hana hanya terdiam membisu mendengar penuturan Daffa.


"Kamu lepas hijab ya kalau lagi sama mas. Mas yakin kamu belum siap untuk memberikan hak mas. mas akan menunggu, sampai Hana siap" Kata Daffa sambil memegang hijab Hana. Hana pun menurut dengan suaminya.

__ADS_1


"Iya mas, Hana lepas" Jawab Hana sambil meraih hijab yang dikenakannya untuk dilepas. Namun Daffa memegang tangan Hana kembali.


"Biar mas yang lepas ya" Tanyanya sambil meminta izin.


"Iya" Hana menunduk malu dengan perlakuan Daffa yang sangat manis. Dan Daffa pun telah membuka Hijab Hana. Terlihatlah Rambut Hana yang panjang dan hitam. Daffa mengelus rambut Hana dengan penuh kasih sayang.


"Cantik sekali" Terimakasih sayang.


"Boleh mas peluk kamu, mas tidak akan meminta malam ini? " Ucap Daffa pelan dan dijawab anggukan oleh Hana. Daffa pun memeluk Hana dengan erat serta mengecup pucuk kepalanya berulang kali. Ada desiran aneh di sekujur tubuhnya. Hana merasakan kenyamanan saat berada di pelukan sang suami. Dan iya mendengar detak jantung suaminya. Namun Hana hanya terdiam. Iya pun merasakan apa yang Daffa rasakan.


"Terimakasih sayang, terimakasih, sudah menjadikanku imam dalam hidupmu, semoga aku bisa menjadi imam yang baik untukmu dan anak-anak kita kelak. Semoga keluarga kita menjadi keluarga yang sakinah, mawwadah wa rohmah dan barokah" Ucap Daffa sembari terus memeluk Hana


"Aamiin" Hana mengaminkan do'a suaminya.


"Mas janji akan terus mencintaimu melebihi mas mencintai diri sendiri. Mas janji akan membahagiakanmu dan tidak akan membuatmu kecewa. Kamu harus yakin. dan tetaplah memiliki sifat yang tulus, qona'ah dan sederhana. Tetaplah memiliki akhlak yang cantik seperti wajah yang engkau miliki ini" Daffa terus berucap karena bahagianya.


"Mmm.. karena ini sudah malam, ayo kita tidur. Supaya besok tidak terlambat sholat subuh! " ajak Daffa, Hana pun menurut.


Setengah jam berlalu. Sambil tidur Daffa terus memeluk Hana. Meletakkan kepala Hana di dada bidangnya. Hana yang melihat Daffa yang tertidur di didepannya. Iya melepaskan tangan Daffa dari pinggang rampingnya. Lalu menatap daffa dalam-dalam.


"Tampan sekali" Sambil tersenyum iya terus memandangi wajah Daffa. Lalu beranjak mengambil selimut di dalam lemari.


Saat kembali, Hana menoleh ke arah Daffa. Iya bingung akan tidur dimana malam ini. Kasurnya sudah ditempati Oleh Daffa yang tidur dengan sedikit telentang. Sebenarnya muat saja jika Hana tidur satu tempat tidur dengan Daffa. Namun pasti akan sangat sempit. Karena kasur hana tidak begitu lebar. Hana pun memutuskan untuk mengambil kasur lantai dan meletakkan di bawah. Iya segera memejamkan matanya karena sudah sangat mengantuk, karena sejak tadi iya tidak bisa tidur karena Daffa memeluknya dengan erat.


Saat pukul 01.30, Daffa terbangun dari tidurnya. Iya kaget mendapati Hana tidur di kasur lantai.


"Bukannya tadi Hana tidur disini. Kenapa jadi dibawah, kapan pindahnya? " Gumam Daffa sambil beranjak tidur. Karena melihat Hana yang tidur sendiri dan kasurnya lumayan lebar, Daffa pun menyusul tidur dibawah. iya memeluk Hana dari belakang, lalu kembali terlelap dengan cepat.

__ADS_1


TBC...


__ADS_2