
Dirumah sakit, Bilal segera menemui ayahnya. Iya mengucapkan terimakasih kepada Rey.
"Rey, terimakasih sudah menunggu ayah, mohon maaf merepotkan mu" Ucap Bilal.
"Tidak apa-apa tuan, sama sekali tidak merepotkan. Semalam tuan Bahtiar diberi obat penenang, jadi baru tadi sebelum subuh beliau bangun" Jawab Rey.
"Daffa bercerita seperti itu. Dan tolong jangan panggil saya tuan Rey" Ucap Bilal.
"Iya tuan, tak apa saya lebih baik memanggil anda seperti itu, sebagai tanda saya sangat menghargai keluarga tuan Daffa" Tutur Rey.
"Terima kasih" Bilal kembali mengucapkan terimakasih.
"Nanti jika sudah ada sedikit informasi, insya Allah saya akan membantu mencari pelakunya tuan. Nona Hana lebih hebat dari salam soal meretas. Jika kita bekerja sama, saya pastikan pelakunya akan segera ditemukan" Ucap Rey.
"Iya, terimakasih. Untuk saat ini saya belum bisa berbuat apa-apa" Bilal berkata dengan sedih.
"Saya turut berduka tuan. Semoga almarhum Husnul Khotimah, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran" Ucap Rey mendo'akan.
"Terimakasih"
"Kalau begitu, saya pamit undur diri tuan. Saya harus ke kantor" Rey berkata sambil berjalan pamit untuk meninggalkan rumah sakit. Belum sempat membuka pintu, pak Bahtiar memanggil.
"Bilal" Panggil ayah dengan suara paraunya. Terdengar sangat lemas. Rey yang akan melangkah keluar pun mengurungkan niatnya. Iya kembali untuk melihat keadaan pak Bahtiar.
"Iya yah, ini Bilal" Ucap Bilal sambil berjalan cepat mendekati ayahnya. Rey mengikuti dari belakang.
"Ayah, bagaimana rasanya, apa yang ayah perlukan? " Tanya Bilal sambil memegang tangan ayahnya.
"Aaa...ayaah minta minum" Ucap pak Bahtiar dengan nada terputus. Bilal segera mengambilkan gelas di sampingnya.
"Terimakasih" Pak Bahtiar menyudahi.
"Nak Rey, terimakasih" Pak Bahtiar menatap Rey. Rey pun mendekat.
"Sama-sama tuan" Jawab Rey.
__ADS_1
"Tuan saya pamit pergi dulu ya" Rey berpamitan. Pak Bahtiar mengangguk.
"Mari, Assalamualaikum" Ucap Rey.
"Wa'alaikumsalam wr wb" Bilal menjawab dengan jelas. sedangkan pak Bahtiar lirih.
Setelah kepergian Rey, pak Bahtiar memandang Bilal. Seperti ingin mengungkapkan sesuatu.
"Ayah, ada apa? " Bilal khawatir kepada ayahnya.
"Nanti, kalau ayah sudah tidak lemah seperti ini, ayah akan menyebutkan ciri-ciri mobil pelaku" Ucap ayah dengan nada lirih.
"Iya, ayah tak usah memikirkan hal itu terlalu dalam. Kita tidak akan tinggal diam dengn semua kejadian ini. Ayah tahu Hana kan, dia adalah seorang ahli hacker. Insya Allah Hana bisa mengetahui yah" Ucap Daffa.
"Ayah tak bisa menemani hari terakhir ibumu nak" Ayah berkata penuh penyesalan.
"Ayah, ayah ngga salah. Ayah ngga boleh menyesal. Kita semua menginginkan seperti apa keinginan kita, namun Allah berkehendak lain. Ayah jangan bersedih. Ayah masih punya kita semua. Anak-anak yang akan selalu berada disamping ayah" Daffa berusaha menenanglan ayahnya. Iya tak bisa melihat ayahnya terpuruk dalam kesedihan terus menerus seperti ini. Walaupun iya sendiri merasakan hal yang sama.
"Ayah haru cepat sembuh, nanti kalau sudah sembuh, kita ke makam ibu ya, Insya Allah, Daffa bakal anter ayah" Ucap Daffa. Tiba-tiba Daffa mendengar suara isakan dari arah pintu. Iya menoleh.
"Ayah cepat sembuh ya, nanti kita ke tempat ibu sama-sama" Hana datang dengan mata sembab. Iya mendengar semua pembicaraan ayah dan kakaknya. Pak Bahtiar terdiam. Iya mencoba tersenyum ke arah Hana. Iya tak ingin terlihat lemah dihadapan putrinya.
"Iya nak" Pak Bahtiar menjawab lirih. Disaat bersamaan, ada dokter dan perawat yang datang untuk memeriksa keadaan pak Bahtiar. Dari belakang dokter tersebut, mama dan papa Daffa juga berjalan.
"Selamat pagi tuan Bahtiar, Bagaimana keadaannya. Sudah mendingan? " Tanya dokter dengan ramah dan tersenyum. "Maaf, saya periksa ya" Ucap Dokter tersebut. Hana dan Bilal mundur beberapa langkah. Memberikan ruang kepada sang dokter untuk memeriksa ayahnya.
"Alhamdulillah, keadaan tuan Bahtiar sudah stabil. Mohon maaf untuk keluarga, ada yang harus kami bicarakan, bisa ikut kami? " Ucap Dokter.
"Iya dok" Bilal dan Hana mengikuti dokter tersebut keluar. Sesampainya diluar, dokter menuju ruangannya. Iya segera memberikan hasil rekam medis keadaan pak Bahtiar.
"Kita harus melakukan oprasi untuk tulang kaki tuan Bahtiar tuan, nona. Karena tuan Bahtiar sudah maaf, berumur, mungkin proses penyembuhan akan memakan waktu yang lama" Ucap sang dokter.
"Apa yang harus kita lakukan dok? " Tanya Bilal.
"Jika kalian setuju, kita akan melakukan oprasi kepada tuan Bahtiar" Jawab dokter.
__ADS_1
"Lakukan apapun yang terbaik untuk ayah saya dok" Hana menyela.
"Bagaimana dengan tuan?" Tanya dokter sambil memandang kearah Bilal.
"Saya setuju, lakukan semua yang terbaik untuk ayah kami" Bilal menyetujui semuanya.
"Baik, karena dari pihak keluargasudah setuju. Kami akan segera melakukan oprasi. Sebenarnya ini sediki terlambat, namun tak apa. Lebih cepat lebih baik" Dokter memberi tahu.
"Iya dok" Jawab Bilal.
"Ini berkas yang harus ditanda tangani sebagai tanda jika pihak keluarga sudah menyetujui" Ucap dokter. Bilal mengambil berkas tersebut. Membacanya dengan teliti. Lalu iya membubuhkan tanda tangan di atasnya.
"Sudah dok, ini" Ucap Bilal menyerahkan kembali berkas dalam stopmap tersebut.
"Baik, terimakasih. Dan berdo'alah semoga oprasinya berjalan dengan lancar, oprasi akan kita lakukan saat ini juga" Dokter meminta bantuan do'a. Setelah selesai berbicara, Bilal dan Hana keluar. Iya berjalan menuju ruangan ayahnya lagi.
Begitu sampai disana, Hana melihat mertuanya sedang berbicara dengan sang ayah. Sedangkan Bilal mendekati sang ayah. Daffa bertanya kepada Hana.
"Sayang apa ada hal yang serius? " Tanya Daffa. Hana pun menceritakan semuanya. Bilal dan kedua orang tua Daffa mendengarkan cerita Hana.
"Hana, bagaimana kalau ayah kamu kita bawa berobat ke luar negeri? " Ucap tuan Aji. Hana yang mendengar itu menengok kearah mertuanya.
"Tapi pa..." Ucapan Hana terpotong.
"Tenang saja, kita bawa ayah ke Singapura. Disana Insya Allah akan lebih cepat proses penyembuhannya" Papa Aji menjelaskan. Hana memandang kearah Daffa dan Bilal.
"Sayang benar kata papa, ngga ada salahnya kan kita berikhtiar? " Ucap Daffa.
"Tapi Daffa, kita tak punya banyak uang untuk membawa ayah kesana. Jika disini Insya Allah ada. Tapi jika diluar negeri, sepertinya kurang" Bilal berkata jujur apa adanya.
"Mas Bilal tenang saja. Untuk semua administrasi, Insya Allah saya akan mananggungnya" Ucap Daffa.
"Mas Daffa, biarkan saja disini dulu. ini oprasinya sudah akan dimulai. Kita mencoba ikhtiar disini dulu untuk kesembuhan ayah. Jika nanti misalnya belum berhasil, baru kita bawa ke sana. Ayah terlihat masih sangat lemah mas" Hana ikut berbicara.
"Jika itu kemauan kamu, mas ikut saja. Semoga oprasinya berhasil" Daffa menyetujui permintaan Hana. Tak lama, dokter pun datang. Ayah langsung dibawa ke ruang oprasi. Mereka yang menunggu diluar berharap cemas.
__ADS_1
TBC.